Selasa, 21 April 2015

The Mysterious Man chap 2


Title   : THE MISTERIOUS MAN
Author : Sulis Kim
Main cast:   Jung Yunho
                   Kim Jaejoong
             Hankyung &Heechul
                 Yoochun & Junsu
                        Other

Rate   : M 18+
Genre : Romace, Fiction

          WARNING

SANDURAN, novel The Dangerous Lord. Sabrina Jeffries.
Dengan banyak perubahan untuk menyesuaikan alur cerita dengan pemeran Favorite saya.

GS for uke. Jika tidak suka jangan dibaca, author cinta damai. Saya masih butuh banyak belajar, apabila ada kesalahan typo dan lainya mohon di maklumi, menerima saran dan kritik yang membangun. Terimakasih.

Happy reading ....!!!


Dengan hati hati Yunho melangkahi anak tangga yang licin karena es. Yunho memperhatikan pintu yang berdesain gotik dan bell pintu yang berbentuk antik, pintu beserta bell itu tampak familier. Dimana ia pernah melihat bentuk disaine seperti itu?

Lalu ia mengamati bagian depan rumah itu melalui salju yang turun terus menerus. Rumah itu sebuah contoh yang sangat besar dari rumah bergaya gotic, dengan jendela jendela yang runcing dan karya yang sangat indah. Rumah besar seorang pria yang terhormat tetapi ia memang mengharapkan itu.

       * rumah gaya gotic *

Pena beracun Mr X jelas aristoratis. Yunho telah mempelajari tulisan pria itu secara menyeluruh, sekarang ia mengerti kenapa semua orang rela mengeluarkan uang mereka untuk membeli The Evening dan alasan mengapa atasanya Mr Lee, melindunginya. Mr X adalah impian seorang penulis tajam dan cerdas, dengan gaya menulis yang cerdas dengan menemukan rahasia para pejabat dan kalangan atas.

Yunho menekan bell dan mendapat jawaban yang cepat, meskipun wanita di akhir empat puluhan yang membuka pintu tampak kebingungan dengan kemunculanya. " Ya, Tuan? Apa yang bisa kubantu?"

Yunho mengangkat topi rajutnya mengakibatkan salju beterbangan dari atas topinya. " Aku Mr. Yoon dari surat kabar The Evening, aku kemari untuk mengambil artikelnya."

Wanita itu mengelap tangan yang kemerahan dan lembab di roknya, kemudian berdiri menepi. "Silahkan masuk." ketika ia masuk wanita itu menambahkan dengan gembira. " Aku Yona, pengurus rumah. Kemana Mr Suho hari ini?"

"Dia di panggil melakukan tugas di tempat lain hari ini. Aku menggantikanya."

" Oh, baiklah, kau tunggulah disini, dan aku akan mengambil artikelnya."

" Sebenarnya," ujar Yunho ketika wanita itu mulai menaiki anak tangga. " Mr Lee, ingin aku berbicara dengan Tuanmu secara pribadi."

" Tuanku?" sebuah ekspresi kebingungan terlihat di wajah wanita itu kemudian tawanya meledak. " Mr Lee itu, jahil sekali. Dia tidak memberitahumu?"

"Memberitahu tentang apa?"

" Sudahlah aku tidak akan menghancurkan lelucon kecilnya. Aku akan pergi memberitahu Tuanku bahwa kau disini." wanita itu menaiki tangga dengan santai, sepanjang jalan sambik menggumamkan ' Tuan ya?' di antara tawa tawanya.

Yunho memndanginya. Pelayan yang aneh. Wanita itu bahkan tidak menyuruhnya duduk, dan di rumah sebesar itu apa tidak ada kepala pelayan, tidak ada penjaga pintu atau sopir, bahkan Yunho tidak melihat mobil, bukankah Tuan rumah mereka dirumah.

Yunho berjalan lebih kedalam di ruang tamu , sebuah ruangan yang luas tampak kosong dengan beberapa pilihan perabotan murahan. Sebuah meja dan sofa. Aneh rasanya jika seseorang yang menulis dengan berani tentang rahasia memiliki selera yang begitu halus. Mungkin istri pria itu yang bertanggung jawab akan dekorasi rumahnya, tapi untuk ukuran rumah sebesar itu berabotan dan lainya terlihat sangat sedikit.

Dengan berlalunya waktu yang begitu lambat Yunho mulai mundar mandir tidak sabar. Yunho telah menunda bertemu atau menghubungi Eunhee demi mencari Mr X, biarkan wanita itu memiliki waktu dan berpikir tentang gosip gosip ini. Ia memberitahu dirinya bahwa kehadiranya akan memperburuk keadaan. Wanita itu tipe penurut yang mudah di atur, jadi kenapa memikirkan pernikahanya membuat darah Yunho jadi membeku?

Yunho melenggang ke arah tangga, kemudian memperhatikan kembali langkahnya. Saat itulah langit langitnya jatuh. Sebuah suara mendesis di belakangnya membuatnya pening sejenak, mendapati sebongkah semen menghantam lantai beberapa sentimeter dari tempatnya berdiri.

Mata Yunho menyipit. Bukan, bukan semen. Ia menendangnya. Ketika bongkahan itu hancur, lalu tetap menempel di sepatunya, Yunho terkejut mengetahui bahwa gumpalan tak terbentuk itu adalah timbunan salju kotor, yang mulai meleleh di atas lantai marmer.

Suara kekanak kanakan terdengar ke bawah anak tangga.
" Oh, sial itu bukan dia!" kata salah satu anak. Sebuah suara yang mirip bergema.
" Itu pria lain."

Yunho mendongak dan menemukan dirinya menjadi objek pengawasan yang mengejutkan bagi tiga pasang mata. Mata yang sama di tiga kepala yang serupa yang melongok dari pagar tangga di lantai atas seperti anak anak nakal yang keluar dari sandiwara jenaka.

Yunho mengedipkan matanya beberapa kali, tetapi tidak ada kesalahan dalam hal ini. Ketiga berandal muda di lantai atas itu memang mirip satu sama lain. Dan salah satu dari mereka memegang ember kosong di tanganya.

" Halo, kalian yang disana," teriak Yunho. " Apakah kalian menyapa semua tamu dengan keramah tamah seperti ini?"

Sesosok wajah baru muncuk di pagar anak tangga, seseorang anak laki laki yang lebih tua yang ekspresi keteganganya secara langsung berlawanan dengan rasa penasaran salah satu dari ketiga anak laki laki itu. " Oh, Taeminie, apa yang telah kau lakukan sekarang? Jongie akan memenggal kepala kita karena hal ini!"

Jongie? Pengasuh mereka, mungkin? Karena anak anak ini pasti anak anak Mr X. Hmm kembar tiga identik, sebuah hal yang langka.

Anak laki laki yang bukan salah satu kembar tiga berlari menuruni anak tangga, dengan anak anak lain tergopoh gopoh mengikutinya. Pada pengamatan yang lebih dekat kemiripan anak kembar tiga itu bisa dibedakan.

" Kumohon, Hyung," anak laki laki yang lebih tua berkata saat ia meluncur berhenti di hadapan Yunho. " Mereka tidak bermaksud jahat."

" Benarkah?" sambil membungkuk Yunho mengais ngais salju kotor itu. " Debu arang. Tiga atau empat batu kecil. Sebongah es." Yunho m3ngambil sesuatu berbentuk sikinder dan menggoyang goyangkanya dengan ibu jari telunjukanya. " Sisa buat apel? Aku akan mengatakan sebanyak ini akan menimbukkan sedikit bahaya bagi kepala seseorang. Dan pastinya pakaianya."

" Kami tidak menunjukanya kepadamu, Hyung," salah satu dari kembar tiga berkata, mencoba membantu. " Kami kira kau Suho Hyung."

Dengan susah payah, Yunho memaksakan sebuah senyuman. " Kalian tidak menyukainya, kurasa."

" Dia menganga nganga kepada Jaejongie," gumam anak tertua.

Yunho menegakkan badannya, sambil mengeluarkan saputangan untuk mengelap tanganya. " Siapa, Jaejongie?"

" Kakak perembuan kami," salah satu dari si kembar tiga memberi tahu.

" Oh, begitu." Empat saudara laki laki dan seorang perempuan. Mr X memilik cukup banyak keluarga yang perlu di perhatikan. " Baiklah, bersyukurlah aku bukan Suho. Dan terget kalian tidak mengenai sasaran."

" Kami benar benar minta maaf, Hyung." kata anak laki laki tertua dengan penuh penyesalan. " Kami tidak biasa melakukan hal semacam ini. Jika saja kami tidak menunggu laki laki dari surat kabar …"

" Aku memang datang ketempat ini," Sela Yunho.

" Kalau begitu kau seorang penulis seperti, Jongie?" kata salah satu dari kembar tiga.

" Tidak juga," tanpa bisa di jelaskan Yunho menolak berbohong pada mereka. " Kakak perempuan kalian seorang penulis?"

" Oh, iya, dia menulis segala macam hal" kata si kembar melanjutkan dengan semangat. " Tapi …"

" Diamlah." anak laki laki tertua memberitahu saudara saudaranya dengan tegas. Kemudian ia mengangkat kepalanya manatap Yunho. " Aku dapat jelaskan kau bukan seorang penulis."

" Dapatkah kau menjelaskanya?"

" Semua penulis mempunyai noda tinta di jari jarinya, tapi kau tidak."

" Seorang penulis tidak harus menulis dengan bolpoin" ucap Yunho. Namun tak ayal mengamati jari jarinya.

" Jongie nuna memiliki noda tinta di jari jarinya" salah satu si kembar memberitahu"  karena dia penulis …"

" Kubilang diam, Taemin." kata anak laki laki tertua dengan tegas. " Kita tidak boleh membicarakanya, Jongie bilang tidak pantas seorang putri Keluarga Kim sepertinya menulis cerita."

Yunho menahan senyumnya, ia dapat dengan mudah membayangkan kakak perempuan mereka, seorang novelis pemula berumur enam belas atau sekitarnya, mencoba meniru profesi ayahnya sementara terus mempelajari latihan sebagai seorang putri di rumahnya.

Pengurus rumah tiba tiba muncul di puncak tangga lantai berikutnya. Ketika melihat anak anak ia berteriak, " Berhenti menganggu pria itu anak anak!" sambik bergegas turun. Ia melihat tumpukan salju kotor yang mulai mencair.

Sambil menggeryitkan alisnya, wanita itu mendorong anak anak itu menyingkir. " Kurasa kalian mendapatkan ini dari belakang rumah, bukan begitu? Aku bersumpah sinterklas tidak akan membawakan kalian apapun kecuali segumpal batu bara dalam kaos kaki kalian tahun ini, terutama jika ia berbicara dengan kakak perempuan kalian."

Tatapan panik di wajah si kembar tiga yang saling menatap satu sama lain membangkitkan insting protektif Yunho yang sudah usang. " Sebenarnya salah satu dari satpam masuk dan mengibas ngibaskan sejumlah besar salju dari mantelnya. " katanya sambil berharap ada satpam yang berdiri di sekitarnya.

" Aku mungkin akan terpeleset jika anak anak ini tidak bergegas turun memperingatkanku." ketika wajah kotor mereka mendongak memperlihatkan rasa terimakasih, Yunho menyeimbangkan perasaanya yang tiba tiba meledak dengan sebuah oerasaan yang tegas. " Aku yakin mereka akan membersihkan semuanya untukmu. Karena anak anak ini pandai membantu."

" Ya, kami akan melakukanya, bukan begitu anak anak?" kata anak tertua memerintahkan yang lainya.

" Oh, ya kami ingin membantu …"
" Ayo, kita lakukan …"
" Kami akan melakukanya dengan segera... "

" Bagus sekali anak anak." Kata Yona, tepi bibirnya berkerut menahan senyum. " Kalian boleh memberishkanya. Changmin ambil alat pengepel lantai. Taemin kau bisa menggunakan ember itu karena sepertinya kau terampil dengan itu."

Wanita itu berhadapan dengan Yunho, senyumnya mengembang di wajahnya. " Terimakasih Tuan, karena kau begitu pengertian. Mereka kadang kadang memang liar, tapi mereka bisa menjadi anak anak manis saat mereka menginginkanya."

Yunho membayangkan hal itu dan gagal. " Kukira mereka tidak menyukai Suho shi."

" Jujur Tuan, tidak seorangpun dari kami yang menyukainya. Dan berbicara tentang hal itu , artikelnya belum begitu siap, tetapi kau bisa pergi keatas dan menunggunya." wanita itu menoleh ke arah anak anak yan menyebarkan salju lebih banyak dari pada sebelumnya.

" Kau tidak keberatan mencari jalanya sendiri Tuan, jika aku tidak mengawasi mereka, mereka akan mengubah lantai ini lebih licin dari lidah sapi ketika mereka selesai."

" Tidak masalah." Hal itu mungkin malah memberikan Yunho kesempatan untuk mengamati Mr X tanpa diketahui.

" Di atas pintu pertama di sebelah kananmu." Yona menunjuk lantai atas " Silahkan, pintunya tidak di kunci."

" Terimakasih."gumam Yunho, lalu bergegas menuju tangga.

Ketika menemukan ruanganya, ia mulai masuk, kemudian berhenti di pintu masuk. Ia pasti telah salah memahami petunjuk dari Yona. Di ruangan itu hanya ada seorang wanita, wanita muda mungil yang sedang berdiri di hadapan sebuah meja dengan bagian samping menghadap dirinya.

Ia mengamati bagian samping itu dengan ketertarikan. Wanita ini memeliki garis wajah lembut dan warna yang dramatis, kulit pucatnya tidak seperti wanita muda sekarang. Gadis itu pasti Jaejoong , saudara perempuan anak laki laki tadi. 

Menilai dari posturnya, usianya mungkin sekitar separuh dari usia Yunho, namun ia tidak mampu mengalihkan pandanganya. Rambutnyalah yang menarik perhatian Yunho, berwarna seperti kayu manis dan diikat asal seperti ekor kuda, Yunho tidak pernah melihat wanita begitu tidak perhatian dengan penampilanya. Kaos longar dan jelana jins ketat. Ya Tuhan, Yunho tidak bisa mengalihkan mata dari paha mulus gadis itu, celana gadis itu hanya menutupi kurang dari separuh pahanya, dan tertutupi kaos besar sampai separuh pantat sintal gadis itu. Kaki jenjangnya dan, lagi lagi sandal lantai gadis itu sama tidak terawatnya.

Kemudian wanita itu membungkuk untuk membuka laci dan mulut Yunho menjadi kering. Betapa indah bokongnya dan lekuk lekuknya yang manis tergambar jelas di kaos soft bluenya yang tipis. Sungguh tidak pantas bagi dirinya untuk melihat, tetapi bagaimana ia bisa tidak melihatnya? Wanita itu mungkin masih muda tapi ia memiliki bentuk tubuh yang proporsional bagai seorang wanita penggoda. Tidak mengherankan jika Suho Shi menganga nganga. Butuh pengendalian diri yang kuat untuk mengalihkan pandangan Yunho dari gadis itu, kemana saja asal tidak menatap gadis itu. Namun tidak ada yang menarik selain gadis itu.

Pada saat itulah Yunho melihat kenyataan bahwa wanita itu sedang menulis sesuatu dengan jemari bernoda tinta seperti yang digambarkan saudara laki lakinya. Dan berkata tanpa menoleh. " Silahkan masuk Tuan. Aku hanya perlu melakukan koreksi kecil ini,dan kemudian kau bisa membawanya.

Dua hal yang langsung menghantam Yunho. Pertama, suaranya yang tenang dan pasti menandakan gadis itu tidak semuda seperti yang dipikirkanya. Dan kedua, jelas sekali ia sedang menunggu seorang tamu. Suho.

Sialan pikir Yunho, sambil mengumpat pada dirinya sendiri karena kecerdasanya yang lambat. Mr X adalah seorang wanita.


           ~~~*~~~


Kim Jaejoong mengosok gosok menghapus satu kata, kemudian menuliskan kata lain. " Maafkan aku, aku begitu terlambat dengan artikel ini ." katanya sambil membaca cepat halaman itu untuk mengecek kesalahan. " Pagi ini adalah pagi yang hiruk pikuk."

Sebuah suara yang jantan, selembut brendi keluaran prancis menjawab. " Silahkan lanjutan Nona, Aku sedang menikmati pemandanganya."

Secepat perkataan laki laki itu terdengar, Jaejoong menoleh kebelakang, bersiap untuk memberi pegawai baru Mr Lee ini perkataan tajam yang telah diberikanya kepada Suho pada hari pertama kerjanya. Lalu ia membeku. Laki laki dengan tatapan tenang dan tajam yang beridiri di luar pintu jelas bukan orang dari The Evening.

Directure utama Jung Corp, Jung Yunho. Jaejoong pasti mengenalinya dimanapun.

Sial, sial, benar benar sial. Apa yang pria itu lakukan disini? Yona pasti telah menyangkanya sebagai pegamai Mr. Lee dan menyuruhnya ke atas. Akan tetapi hal itu tidak menjelaskan mengapa pria dengan kedudukan tinggi itu menemui Jaejoong.

Yunho tersenyum, atau tepatnya bibirnya yang tersenyum. Sisa wajahnya tanpa ekspresi tidak menandakan untuk apa dia datang kemari. " Kuanggap kau tahu siapa aku."

Tentu saja Jaejoong tahu, meskipun ia belum pernah melihatnya sedekat ini, ia mengenalinya di beberapa acara sosial yang tak terhitung jumlahnya. Siapa yang tak akan mengenali pria itu, hampir setinggi dua kaki si kembar tiga? Pria kaya dengan sudut garis wajah yang tajam, menimbulkan komentar kamanapun pria itu pergi.

Belum lagi sepasang mata itu … sepasang mata itu bukan tanpa alan dianggap mata setan para wanita entah akan menjadi luluh karenanya ataupun menyesatkan diri mereka sendiri kedalam matanya…

Jaejoong menyadarkan diri sendiri. Ia tidak akan menyesatkan dirinya sendiri kedalam mata itu. Ada apa dengan dirinya? Dengan cepat Jaejoong menyembunyikan artikelnya di balik beberapa kertas di belakangnya. " Selamat siang, presdir Jung. Kau pasti memaklumi pekerjaanku. Aku rasa kita belum pernah dikenalkan."

" Memang belum pernah, Nona." sambil mengulurkan tangan kebelakang Jung Yunho menutup pintu, sebuah tindakan yang secara pasti menambah ketidak nyamanan Jaejoong.

Kemudian pria itu menyipitkan mata kepadanya." Tetapi aku tahu siapa kau ." Ia mengatakan seolah olah terkejut mengetahuinya. " Aku telah melihatmu di beberapa pesta . Kau Putri Kim Jung Kook sang arsitek. Kim Jaejoong."

" Memang demikian." Oh Tuhan, ini begitu aneh. Jung Yunho datang untuk mengunjungi Jaejoong, tetapi ia baru sekarang menyadari siapa dirinya.

"Aku menyesal mendengar tentang kematian ayahmu." kata kata pria itu cukup bersimpati, tetapi ekspresi wajahnya masih sulit untuk dibaca." Aku melihat hasil karyanya di Busan Street dan di kota besar lainya. Dia cukup berbakat."

Sebuah gumpalan membuat tenggorokan Jaejoong tercekat. " Ya, memang." Berbakat dan tolol. Bakat Ayahnya telah membawanya kedalan pertemanan dengan kalangan di atas mereka; ketololan yang sifatnya terbuka mencegahnya mengenali bahaya melebihi kemampuan seseorang. Ia telah mati saat masih hidup dengan kecerobohanya.

" Terima kasih atas ungkapan duka citamu, Tuan Jung. Tapi maaf, jika kau mengizinkan aku agak sibuk dan …"

" Aku melihat dia bukan satu satunya menggita keluarga yang berbakat disini,"  Sang direkture itu melanjutkan perkataanya seola olah Jaejoong berbicara dengan dinding . Ia memberi isyarat pada meja yang berantakan . " Tampaknya, kau sama berbakatnya dengan sebuah pena …Mr X."

Darah menghilang dari wajah Jaejoong. Pria itu tahu! Atau mungkin Jung Yunho mengira dirinya tahu. Jaejoong harus melangkah dengan hati hati. " Maksudmu, pria menakutkan yang menukis artikel artikel di surat kabar itu? Pastinya kau tidak berpikir aku mempunyai keterkaitan denganya."

Jung Yunho melangkah mendekati Jaejoong bagai tentara yang mengancam." Nona Kim, jangan menganggap aku orang bodoh hanya karena kau pikir kau mengetahui rahasia rahasiaku."

Debaran dalam dada Jaejoong meningkat. Ia mundur, hanya untuk terhenti oleh kehadiran meja besarnya yang tidak diharapkan. " Hanya orang bodoh yang percaya bahwa aku Mr X. Siapapun yang memberimu ingormasi tersebuy, informasinya sangat salah."

Pria itu berhenti hanya beberapa centi dari Jaejoong, terlalu dekat untuk dikatakan pantas, dan ia melayangkan tatapan marah kepadanya. Jaejoong berharap ia dapat menempatkan pria ini di tempatnya dan menghapus senyum yang mencemoh dari bibirnya yang kurang ajar itu, tetapi bagian atas kepala pria ini nyaris mengenai dagu Jaejoong, yang membuatnya tidak mungkin untuk bergerak menundukkan kepala.

" Tidak seorangpun memberiku informasi." kata Jung Yunho. " Aku melakukan penelitianku sendiri, aku mengikuti, Mr. Lee, Suho. Lalu aku menyusulnya kesini, mengirimnya ketempat lain, dan menggantikan tempatnya." Sambil memiringkan tubuhnya yang besar di sekitar tubuh Jaejoong yang mungil, pria itu mencari cari di atas kertas kertas di atas meja. Aroma lotion sehabis bercukur menguar dari tubuh pria itu.

" Pengurus rumahmu cukup baik hati mengizinkanku ke atas untuk mengambil ertikelmu." Ia tiba tiba berhenti mencari cari sebuah senyum licik mengembang di bibirnya. Sambil memegang selembar kertas ukuran folio, dia berkata. " Artikel yang ini."

Tidak ada gunanya menyembunyikan lebih lama lagi, bukan? Jaejoong mendongakkan kepala untuk menatap pria itu. " Baiklah, kau telah mengetahu rahasiaku."

"Ya, aku telah mengetahuinya."

Sepasang mata Yunho bertemu dengan mata Jaejoong yang lebih tak terbaca karena jarak dekat. Matanya misterius tengah malam … dan sama menggodanya.

Sambil menyentak mengalihkan tatapanya,  Jaejoong menatap titik jauh di bahu kiri pria itu. " Aku tidak dapat membayangkan kenapa kau mau repotkan diri melalui berbagai rintangan untuk menemukanku."

Yunho melempar surat kabar ke atas meja tetapi tidK bergerak. " Karena kau menulis kebohongan tentangku dalam kolommu minggu lalu, dan aku tidak suka menjadi subjek spekulasi yang salah."

Tatapa Jaejoong kembali menatap Sang directure dengan tajam. Apakah dia telah menulis sesuatu selain komentar komentarnya tentang wanita simpanan pri itu? " Komentar komentarnya memang keras, Presdir, Jung." katanya dengan ceroboh. " Aku harus memintamu keluar karena kau menyerang kehormatanku."

Salah satu alis hitam Yunho mengeryit. " Ku peringatkan kau, Nona Kim …kau akan kalah bertentangan denganku." Tatapan pria itu melayang menuruni hidung Jaejoong, ke pipinya lalu berhenti di bibirnya. " Meskipun hal itu akan menjadi olah raga yang menarik sampai kau kalah."

Bajingan pria itu ternyata sehidung belang yang disangka Jaejoong. Sekarang ia mengerti kenapa sebagian wanita merasa pria itu menarik. Dan mengapa temanya yang pemalu Go Eunhee, menganggapnya menakutkan.

" Kau berkata, kau kesini ingin bicara tentang kolomku,'' ujar Jaejoong, sambil merasa jengkel merasa debaran jantungnya semakin cepat. " Aku akui, bagian mana yang membuatmu merasa tersinggung."

" Jangan bermain main denganku …kau tahu yang ku maksud. Bagian yang kau anggap wanita simpananku di kawasan mewah Gangnam."

" Itukah yang menjadi sumber keberatanmu? Tolong maafkan kebodohanku lagi …tepatnya di bagian mana komentarku yang menyinggungmu?"

" Fakta bahwa semua itu tidak benar," kata Yunho, menekan setiap katanya dengan semakin tidak sabar, seolah olah ia sedang berbicara dengan anak kecil. " Aku sudah menjelaskanya."

Pria itu berdiri begitu dekat sehingga Jaejoong dapat melihat helai rambutnya yang berpotong rapi. Kedekatanya ditambah kliauan menjengkelkan dimatanya membuat Jaejoong cemas. Sesuatu tentang pria itu membuat Jaejoong gelisah. Jaejoong tiba tiba memiliki keinginan yang kuat untuk mendekati pintu dan berjalan cepat kesana.

" Jangan pernah berpikir untuk pergi sebelum kita menyelesaikanya," perintah Yunho dengan suara yang begitu dingin, berbalik mengikuti gerakan Jaejoong.

Jaejoong.membatalkan niatnya. " A~aku tidak bermaksud begitu. Apa yang kutulis tentangmu bukanlah tidak benar." Jaejoong mencoba menyesuaikan dengan ketenangan Yunho. " Itu adalah spekulasi,  yang kutulis berdasarkan fakta."

" Misalnya?" sambil tetap menjaga tatapannya tetap pada Jaejoong, Yunho menyandarkan pinggulnya di meja. Ketika ia menyilangkan lenganya di depan dadanya, sebuah gerakam berdesir di kukit Jaejoong. Berdua denganya memberi Jaejoong suatu pandangan yang baru tentang pria itu.

" Jadi , Nona Kim?" tanya Yunho, menyadarkan Jaejoong untuk kembali pada masalahnya. " Apa fakta fakta yang kau bucarakan."

" Ah, ya." Jaejoong menjentikkan jari." Kau mengambil Rumah mewah di kawasan Gangnam lebih dari sehatun yang lalu untuk seorang wanita yang tinggal disana. Dia cantik relatif muda, dan jelas terpikat kepadamu. Dan namanya adalah Kwon BoA."

Satu poin lainya Jaejoong simpan untuk nanti. Ia mungkin akan memerlukanya, jika masalahnya berkembang semakin rumit.

Sebuah keheningan tercipta. Kemudian Yunho beranjak dari meja dan menegakkan badanya dengan tinggi badanya mengintimindasi. " Hal itu memang benar fakta ...sebagian besar." ia terdiam, tatapanya mengamati Jaejoong dengan ketepatan yang kuar biasa, seolah dia menemukan kelemahan. " kau sunggung telah membuat satu pernyataan yang hebat, bahwa dia jelas jelas terpikat padaku. Apa yang membuatmu berpikir demikian?"

" Aku bicara langsung padanya." Meskipun hal itu agak melenceng dari kenyataan.

" Secara langsung." Sebuah kemarahan di tahan sedikit mencuat dari suara Yunho sebelum akhirnya ia menguasai diri. " Dan Nona Kwon memberitahumu bahwa dia  terpikat olehku?"

Sebuah rona merah yang panas muncuk di pipi Jaejoong. " Yah, tidak persis seperti itu … m_maksudku …" Untuk sesaat dorongan memaksanya untuk berbohong. Namun ia memiliki perasaan jika Yunho akan mengetahuinya." Sejujurnya dia tidak mau membicarakanmu sama sekali. Dia mengonfirmasi namanya dan bahwa rumah itu milikmu, tidak lebih  " Itulah kenyataanya. Jaejoong telah membuat wanita itu yerkejut dengan muncul tiba tiba di jalanan luar rumah, wanita itu sempat marah, namun setelah Jaejoong menyebut nama Jung wanita itu diam seribu bahasa.

" Bagaimana kau bisa menyimpulkan bahwa wanita itu terpikat padaku?"

Rona merah diwajahnya saat membicatakanmu telah menjawabnya. Batin jaejoong, namun ia berkata " Dia sangat berasahia. Dia jelas sekali ingin melindungimu dari …"

" Usilnya gosip ?" Suara Yunho mengumamkan sindiran pedas. " Aku tidak bisa membayangkan kenapa dia mau melakukan itu."

Jaejoong memelototi pria itu dengan tajam. " Jika hubungannya denganmu tidak berarti apa apa, lalu kenapa dia hatus menyembunyikan semuanya?"

" Karena mungkin dia lebih menyukai privasinya?"

" Atau mungkin dia takut akan ketidak setujuanmu. Kau harus mengakui bahwa kau dikenal akan sikap menjaga rahasiamu, untuk tidak memberitahu diapapun, bahkan teman teman dekatmu, tentang semua kegiatanmu?"

Sambil mengusap ngusap dagunya Yunho mengitari Jaejoong.  "Kurasa kau mengacu pada semua rumor tentang apa yang kulakukan ketika aku berada di luar negeri."

" Ya, benar."

Berkat sikap bungkam Yunho yang terkenal itu, menemukan apapun tentang dirinya, kecuali rumor, menjadi sesuatu nyaris yang tidak mungkin. Sedikit fakta adalah pria itu telah menghilang dari korea sejak umur sembilan belas tahun, dan telah kembali setelah kemayian ayahnya bebetapa tahun kemudian. Tidak seorangpun tahu kemana ia pergi atau apa yang telah dilakukanya.

Cerita cerita telah berkembang dengan liar dari penyataan bahwa dia seorang mata mata Amerika dan kekasih dari seorang putri di inggris hingga seseorang melihat putra tunggal Jung Ilwoo itu menjadi pengemis.

Rasanya senang menyala dalam tatapan yang mengunci Jaejoong. " Rumor mana yang telah kau dengar? Bahwa aku seorang pembunuh bayaran? Bahwa aku telah merayu Janda kaya dari Spanyol setelah bercerai?"

Jaejoong menajamkan telinga. " Tidak untuk yang terakhir." Oh tuhan, itu tadi akan menjadi cerita yang cukul bagus untuk kolomnya. Jika saja ia bisa membujuknya untuk mengonfirmasinya, yang sepertinya tidak mungkin terjadi.

" Dan sepertinya kau mempercayai setiap rumor tersebut itu."

" Nyaris, tetapi dengan ketiadaan informasi lain … seperti informasi yang kau sendiri sampaikan … apa lagi yang kau ingin aku lakukan?"
Yunho berhenti di depan Jaejoong.  " Kau lebih baik mengurusi urusanmu sendiri daripada menyebarkan rumor dan gosip saat kau bangun tidur."

" Aku tidak menyebarkan rumor atau gosip!"

" Ah, ya, aku lupa, kau membuat spekulasi berdasarkan fakta."

" Aku melakukan apa yang di lakukan reporter yang baik,"Kata Jaejoong dengan angkuh.

Yunho mendengus. " Reporter yang baik melakukanya dengan penuh tanggung jawab. Mereka menyibukan mereka sendiri dengan masalah yang berkenan dengan kepentingan nasional. Aku sulit memikirkan Kwon BoA masuk dalam kategori tersebut."

Ketika Jaejoong akan membalas pria itu mengangkat tangan. " Jika, kau melihat wanita itu, mengetahui bahwa aku memberinya tempat tinggal, dan kau bertekad bahwa dia adalan simpananku, apakah begitu?"

" Itu adalah sebuah deduksi yang logis."

" Tetapi salah."

Mereka kembali dalam masalah itu lagi, bukan?

" Jika aku memang menyalah artikan situasi ini, aku dengan senang hati akan menulis koreksinya. Sejauh ini kau tidak memberitaku apapun untuk membuktikan bahwa aku salah."

" Dan gagal menjelaskan kenapa kau begitu tertarik dengan urusan pribadiku." Sambil berjalan kembali ke arah meja dimana kertas kertas Jaejoong bertebaran di atas permukaan meja kayu ek.
" Katakan padaku, alasan apa yang mungkin kau memiliki untuk menulis tentangku? Apa aku dengan tanpa sengaja telah menyingungmu?"

Jaejoong memilih untuk mengabaikan implikasinya yang buruk adalah balas dendamlah yang memotivasi penulis kolomnya." Aku menulis untuk semua orang, Tuan Jung. Ceritamu hanya salah satu dari ratusan cerita yang lain."

" Tapi itu cerita yang tidak biasa." Yunho mengambil sebuah amplop, membacanya cepat, lalu meletakkanya. " Seorang pria membeli rumah untuk seorang wanita yang tidak dinikahinya. Tentu saja hal itu merupakan santapan membosankan pagi para pembacamu. Semua pria melakukanya setiap saat."

Ketidak pedulian Yunho membangkitkan kemarahan moral Jaejoong. " Itulah tepatnya mengapa hal itu ofensif! Pria mencari perawan untuk dinikahi dan menginginkan istrinya untuk patuh kepadanya, tapi mereka merasa sangat bebas untuk bersenang senang dengan wanita lain sebanyak yang mereka dapatkan."

Pria itu berhenti mengaduk aduk meja Jaejoong dan menatap gadis itu penuh perhitungan. " Kau lupa kalau aku belum menikah."

" Tidak. Tetapi kau akan segera menikah."

Jaejoong menyesali ucapanya saat ia terdiam. Hal itu tiba tiba menyadarkanya bahwa pria itu telah memancingnya untuk mengucapkan pernyataan itu, dan ia dengan bodoh memakan umpanya.

Yunho melenggang ke arah Jaejoong dengan santai yang mengecoh, seperti burung elang yang sedang melayang layang " Apa maksudmu?"


             ~TBC~

The Mysterious Man chap 1

Title   : THE MISTERIOUS MAN
Author : Sulis Kim
Main cast:   Jung Yunho
                   Kim Jaejoong
             Hankyung &Heechul
                 Yoochun & Junsu
                        Other

Rate   : M
Genre : Romace, Fiction

          WARNING

SANDURAN, novel The Dangerous Lord. Sabrina Jeffries.
Dengan banyak perubahan untuk menyesuaikan alur cerita dengan pemeran Favorite saya.

GS for uke. Jika tidak suka jangan dibaca, author cinta damai. Saya masih butuh banyak belajar, apabila ada kesalahan typo dan lainya mohon di maklumi, menerima saran dan kritik yang membangun. Terimakasih.

Happy reading ....!!!

 
 

Sekumpulan orang bodoh telah menyebarkan beberapa rumor tentang dirinya.

Jung Yunho, CEO muda perusahaan Jung Crop, langsung menyimpulkan demikian pada saat ia memasuki klupnya dengan sebuah kedipan mengerti dan sebuah gumaman dari para pelayan, " Bagus sekali , prince ." sambil membukakan pintu untuknya.

Kepala pelayan klub Cojje yang biasanya muram mengedipkan mata kepada Yunho. ' mengedipkan mata' kepadanya, demi Tuhan. Karena ucapan selamat tidak pada tempatnya, Yunho hanya menyimpulkan yang terburuk.

Saat ia berjalan di sepanjang lorong berkarpet menuju Ruang pertemuan tempat ia akan menemui temanya Park Yoochun, CEO muda keluarga Park. Kemudian sekelompok orang yang tidak dikenalnya menghentikan percakapan mereka dan memberi Yunho selamat. Dan berkomentar " Siapa wanita itu?"
" Jadi kau melakukanya lagi, dasar srigala cerdik" dan tambahan banyak lagi dari lainya.

Dengan susah payah Yunho menahan diri untuk tidak menggerang. Hanya Tuhan yang tahu ceriya apa lagi yang beredar kali ini. Ia telah mendengar semua gosip tentanya, dimulai dari ia yang mengalahkan pemimpin Yakuza seorang diri, dan juga pernah ia mendengar dirinya di gosipkan Menyelamatkan salah satu putri Bangsawan di spanyol dan mendapatkan hadiah mansion mewah dari ayahnya. Itu sama sekali salah, Yunho memang mendapatkan warisan dari ibunya sebuah mansion mewah di spanyol.

Yunho hampir sampai di ruang pertemuan ketika Shindong mencegatnya. " Selamat malam teman lama," katanya dengan gembira.
" Aku ingin mengundangmu untuk menghadiri pesta kecilku, hanya sekedar makan malam yang akan ku adakan besok, kau dan beberapa orang lainya dengan pasangan mereka. Pastinya kau membawa kekasih barumu. Aku ingin melihatnya."

Yunho menatap pria gendut itu tenang. " Kekasih baruku?"

Shindong menyenggol Yunho dengan puas. " Tidak ada gunanya menyembunyikan wanita itu sekarang, presdir Jung. Kucing itu ... atau haruskah ku bilang, anak kucing itu… telah keluar dari karungnya, dan semua orang ingin melihat bulunya, dan seberapa dalam cakarnya telah mencengkerammu."

Seorang kekasih? Itukah rumornya? Betapa mengecewakan. Mereka setidaknya bisa membuat rumor lebih bagus lagi unutk Yunho menjadi seorang perampok, misalnya." Kuberitahu kau sesuatu, Shindong. Saat aku mendapatkan kekasih nanti, aku pasti akan membawanya ke salah satu acara pesta makan malammu. Sampai saat itu tiba, aku harus menolak undanganmu. Sekarang ijinkan aku pergi aku ada janji pertemuan." Yunho meninggalkan Shindong dan kembali berjalan.

Seorang kekasih, ia tidak mengingat kapan terakhir kali ia memilikinya. Pastinya sudah sangat lama sekali sebelum ia di paksa kembali dari Prancis dan di paksa untuk mencari seorang istri.

Bukan berarti Yunho tidak bisa mengambil seorang simpanan, jika ia mengiginkanya, tapi ia ingin memusatkan seluruh energinya pada masa pendekatan tanpa ada wanita dengan berbagai pertanyaa dengan nada cemburu.

Begitu memasuki ruang pertemuan, Yunho langsung bisa mengenali sosok sahabat baiknya Yoochun. Yunho mendudukan diri di sofa sebrang Yoochun. Pria itu masih asyik menikmati rokoknya dengan sebatang rokok di tangan kiri dan koran di tangan kanan.

Ketika Yunho mengambil rokoknya, Yoochun mendongak. " Akhirnya aku bertanya tanya apa yang membuatmu terlambat. Aku sudah tidak sabar mendengar apa yang terjadi. Apakah wanita itu menerimamu? Apakah ucapan selamat menyusul selanjutnya?"

Untuk sesaat Yunho mengira Yoochun menyingung rumor tentang kekasihnya. Lalu ia teringat. " Ah, maksumu Sunghee."

" Siapa lagi anak perempuan Mr Go. Apakah kau melamar gadis lain baru baru ini"?

Yunho tersenyum. " Tidak, hanya Sunhhee, satu saja cukup. Bukan begitu menurutmu?"

"Jadi kapan pernikahanya?"

"Belum di tetapkan."

Mata Yoochun menyipit." Tentunya dia tidak menolak tawaranmu."

" Tidak juga." setelah menyalakan rokok, Yunho menghisapnya dalam dalam. " Dia menggunakan taktik lama wanita dengan meminta waktu untuk mempertimbangkan lamaranku, mungkin saja itu ide Mrs, Go. wanita itu seorang pemangsa… berharap untuk mendapatkan tempat lebih tinggi untuk Sunghee dengan membuat anaknya jual mahal. Tapi sayangnya, Sunghee yang malang tidak ahli dalam sikap jual mahal. Aku merasa kasihan kepadanya, sementara ia bersikukuh tentang bagaimana mempertimbangkan lamaranku lebih jauh."

" Maafkan aku mengatakan ini." sela Yoochun. " Tapi aku tidak mengerti apa yang kau lihat dari wanita itu. Dia biasa biasa saja dan benar benar pemalu. Dia tidak mau berkata satu dua kata kepadaku saat ketika kami bertemu. Dan jelas sekali kau menikahinya karena kekayaan yang tidak seberapa karena ayahnya hanya seorang mengusaha kecil."

"Istrimu tidak punya kekayaan dan ayahnya hanya seorang rektor, tetapi hal itu tidak menggoyahkan dirimu untuk menikah denganya dan menjadikanya Mrs.Park. "

Mendengat nama istrinya di sebut Yoochun terasenyum, wajahnya berseri seri. " Memang benar, Junsu tidak memiliki kekayaan dan koneksi, tapi ia menutupinya dengan kwalitas dan kelebihan lain."

Yunho tergelak. " Masih jatuh cinta rupanya, yakh aku tidak mencari cinta, Yoochun … aku mencari seorang istri. Di luar pengalamanku yang tidak biasa, mereka jarang jalan bersama. Satu satunya ku butuhkan dari seorang istri adalah kehormatan dan karakter yang baik."

Sebenarnya, seorang wanita cantik dan menarik yang dapat memikat pria manapun adalah hal terakhir yang Yunho butuhkan. Ia sudah terlanjur membenci dirinya sendiri karena menyeret seorang wanita masuk kesituasinya yang rumit, ia hanya dapat memastikan bahwa siapapun yang menjadi istrinya akan mendapatkan sesuatu yang sebelumnya wanita itu dapatkan.

" Yah," kata Yoochun saat kembali membaca surat kabat, " kau tahu Eunhee pada akhirnya tidak akan menolakmu. Dia bodoh jika berani melakukanya."

" Ya ." tetapi Yunho nyaris berharap wanita itu akan melakukanya. Ia merasa tidak antusias dengan pernikahan ini. 'Keantusiasan tidak di perlukan', Yunho mengingatkan dirinya sendiri. 'Dia sesuai dengan tujuanku'

Jika saja wanita itu tidak akan malu ketika menatapnya, terlonjak ketika ia bicara. Yunho dapat memaklumi dengan adanya ribuan rumor buruk tentang dirinya, namun Sikap malu gadis itu mengganggu Yunho, yah mungkin nanti jika mereka menikah wanita itu akan lebih rileks.

Yoochun tiba tiba mengibaskan surat kabarnya dan mengamatinya lebih dekat. " Kuharap Sunhee bukan tipe pencemburu, atau mungkin kau sendiri akan mendapati dirimu ditolak nantinya."

" Mengapa?" Yunho mengepulkan asap ke udara.

" Tulisan di kolom ini melaporkan bahwa kau menyimpan wanita simpanan lebih dari satu tahun."

" Kolom? Disurat kabar? Kau pasti bercanda."

" Tidak sama sekali," Yoochun mengangkat surat kabarnya. " Ini, ditulis disini, ' The evening Sun'."

" Ya Tuhan, darimana mereka mendapatkan berita semacam ini? " mata Yunho menyipit. " meskipun hal itu menjelaskan kenapa semua orang menyelamatiku malam ini. Berikan padaku …biarkan aku melihatnya."

Yoochun melempar surat kabar itu kepada Yunho. " Itu di kolom 'Secret of socienty'. Kau tahu, yang di tulis Mr, X"

" Aku tidak membaca kolom Mr,X" Yunho nyaris tidak punya waktu membaca berita sehari hari, apalagi gosip yang di tulis penyebar rumor yang tidak diketahui namanya untuk surat kabar kelas tiga.

Ia mengambil surat kabar tersebut lalu, menambahkan." Aku terkejut kau membacanya."

Yoochun mengangkat bahunya. " Pri itu memiliki selera humor yang menarik bagiku. Selain itu, beberapa orang yang diserangnya perlu ditunjukkan bahwa mereka tak sebaik yang orang pikirkan."

" Termasuk aku, tentunya."  kata Yunho datar sambil mengamati halaman itu.

" Tidak sama sekali, dia memuji seleramu soal wanita."

" Ini yang harus ku lihat."

Mendiskusikan masalah pribadi bukanlah hal baru lagi dalam pers, tetapi Mr X dikatakan sangat mahir dalam hal itu. Tidak ada salah langkah dalam perhatianya; tidak ada hal yang pribadi. Mengekspos kelemahan kalangan atas tampaknya bukan hanya profesinya, melainkan kesenanganya jika dipikir lagi, lebih mudah menuliskan pendapat ketika menulisnya dengan nama samaran.

Dengan semakin tidak sabar Yunho membaca cepat tentang sikap moral pria itu tentang pers, lalu ia melihat namanya.
  

       "  Meskipun rumor mengenai menghilangnya putra tunggal Jung Ilwoo, Jung Yunho selama enam tahun dari Korea begitu melimpah, ia tetap menyembunyikan urusan percintaanya dengan begitu rapat sehingga rumor rumor tersebut menyamarkan para kekasihnya. Oleh karena itu, korespondet setia anda ini begitu terkejut melihat sang pewaris Jung crop memasuki sebuah rumah di kawasan mewah Gangnam dengan seorang wanita cantik. Penyelidikan lebih lanjut mengungkapkan bahwa rumah tersebut milik Putra tunggal Mr Jung yang baik dan Miss cantik itu telah tinggal disana lebih dari satu tahun. Para pria lain akan memamerkan harta karun seperti itu, tetapi Mr, Jung muda kita menyembunyikanya, yang hanya membuktikan bahwa sikapnya yang hati hati memang merupakan bagian yang lebih baik dari sebuah keberanian."

Yunho membacanya lagi, kata kata itu membekas di dalam otaknya. Keparat,  perumahan megah di kawasan elit. Ia seharusnya telah menyadari ketika semua orang mulai membicarakan simpananya, bahwa yang mereka maksud adalah Kwon BoA.

Tetapi bagaimana Mr X mengetahui wanita itu dan seberapa banyak yang diketahuinya? Apakah orang itu telah menanyai Kwon BoA? Meskipun Wanita itu bukan type orang yang suka mengungkapkan segala sesuatu, penggosip seperti Mr X mungkin bisa jadi pintar membujuk. Yunho harus berbicara dengan BoA segera, untuk memastik wanita itu berhati hati dengan apa yang dikatakanya kepada orang asing.

Yunho mengangkat kepalanya dan mendapati Yoochun sedang mengamatinya " Jadi? Siapa dia?"

Dengan tenang, Yunho merobek halaman surat kabar itu, melipatnya menjadi dua, dan memasukkanya ke dalam saku jasnya. " Aku akan memberitahumu siapa dirinya. Dia bukan simpananku, Mr X salah."

Dan pria itu akan mengetahui bahwa tidak semua orang akan menoleransi ocehanya. Jika pria itu tentang perumahan mewah Gangnam, ia mungkin mengetahui hal lainya, dan sebelum pria itu mengungkapkan semua dalam kolom menjijikanya, Yunho harus menghentikanya.

" Tetapi apa kau memiliki rumah di kawasan Gangnam?" tanya Yoochun.

Yunho berpikir ingin mengatakan kepada Yoochun bahwa itu bukan urusanya, tetapi itu akan membangkitkan rasa ingin tau Yoochun lebih jauh. " Aku memang memiliki rumah di Gangnam Street, tetapi bukan untuk tujuan seperti yang di maksud Mr X. Aku meminjamkanya kepada seorang teman keluarga yang mengalami kesulitan. Tidak lebih dari itu."

" Jinjjayo?"

" Ya, sungguh," kata Yunho tegas. " Tidak peduli apa yang dikatakan gosip gosip itu."

Yoochun bersandar dan menyelipkan tanganya kedalam saku mantelnya." Apakah teman keluarga itu secantik yang di katakan Mr X?"

" Mengapa kau tanyakan hal itu?" sergah Yunho.

Sifat nakal terpancar dalam mata Yoochun." Itu akan menjelaskan kurangnya perhatianmu tentang ketertarikan fisik terhadap Go Eunhee. Kalau kau memiliki seorang simpanan di …"

" Sialan, Yoochun, Kau tidak mendengar apapun yang telah  kukatakan!"

" Maaf, teman, tapi, seorang pria tidak akan membantu wanita cantik yang sedang kesulitan dengan menyuruhnya tinghal di sebuah rumah di daerah bergengsi di kota."

" Aku tidak mengharapkanmu untuk mengerti." Yunho mematikan rokoknya dengan jengkel. " Mr X adalah orang bodoh. Aku harus bicara dengan bajingan itu …membuatnya berhenti memfitnah temanku di muka publik." suara Yunho mengeras. " Aku tahu persis bagaimana menangani orang seperti itu."

" Jika kau bisa menemukanya." kata Yoochun " Tidak ada seorangpun yang tahu identitas aslinya."

" Seseorang pasti tahu. Biasanya ada orang kepercayaan atau seorang pelayan atau seorang kerabat untuk menunjukkan jalan. Dan pastinya ada rumor rumor …"

"Selalu ada rumor nama Kang Hwondo disebut sebut,meskipun kita berdua tahu dia tidak memiliki kemampuan seperti itu. Seseorang menyarankan salah satu pekerja di majalan itu, tetapi tidak seorang pun memiliki jawaban. Identitas Mr X masih rahasia."

" Aku yakin begitu, " jawab Yunho. " Jika tidak, salah satu musuh musuhnya mungkin akan memotong lidahnya yang lancang dalam sebuah gang gelap saat dia tidak mendunganya."

Tatapan mata Yoochun bertemu dengan mata Yunho. " Apakah itu yang ingin kau lakukan?"

Yunho tertawa " Memotong lidahnya? Dan apa yang akan kulakukan dengan lidahnya setelah itu? Aku rahu jika ada pasar yang menjual lidah penggosip di toko toko daging." dan ketika respon Yoochun hanya senyum tipis dan sibuk dengan rokoknya, Yunho menatapnya. " Ya Tuhan, kau serius."

Sejak kembalinya Yunho dari America fan prancis, jurang antara Yunho dan sahabatnya semakin lebat setiap hari, dan itu membuatnya marah. " Apakah aku akan memotong lidahnya karena menciptakan gosip tentangku?"

" Tentu saja tidak. " Yoochun mengangkat bahu " Semua rumor tentangmu dan masa lalumu yang haus darah adalah … aku selalu lupa kalau semua itu adalah omong kosong. Bagaimana kau akan menemukanya?"

" Siapapun yang dapat ditemukan jika seseorang tahu bagaimana mencarinya." Yunho bangkit dan menunduk memandang temanya. " Aku akan bicara dengan atasanya dulu, si penerbit The Evening."

" Tuan Lee? Dia tidak akan memberimu bantuan apapun. Dia dengan senang hati menutupi identitas wartawan rahasianya yang populer"

Mungkin, tetapi semua orang memiliki kelemahan. Dan Yunho ahli dalam menggunakan kelemahan seseorang untuk menemukan apa yang diinginkanya. " Kalau begitu aku akan bersiap sekarang, bukan?" katanya sambil berbalik dengan cepat mengarah ke pintu.

" Kami akan bertemu denganmu minggu depan di rumah baru Heechul yang baru, bukan? Junsu sangat menantikan saat itu. Kami sendiri tidak akan tinggal di rumah itu, karena Junsu benci meninggalkan rumah untuk waktu lama dengan bayi yang baru lahir, tetapi kami akan datang pada waktu pesta dan mengikuti dansa. Kau harus datang dan melihat bayinya."

" Aku akan datang. Aku janji akan mengajak Sunghee dan orang tuanya mencoba mobil baruku."

Go Sunghee, hanya Tuhan yang tahu, akan seperti apa wanita itu menghadapi hal ini. Masalah ini menjengkelkan Yunho, karena Sunghee mungkin akan berpikir ia begitu tidak berperasaan dengan memamerkan kekasih simpanan sementara mereka sedang mengadakan pendekatan.


  

         ~~~*~~~

  

  

Sebuah butiran berwarna merah jatuh melewati jendela ruang kerja Kim Jaejoong, sangat mirip dengan sepotong buah. Dengan adanya suara roda di rem secara mendadak dan seseorang mengumpat keji , Jaejoong melompat dari kursinya dan bergegas ke lorong.

" Kim Bum, Taemin, Myungsoo, keluar kemari sekarang juga!" teriak Jaejoong dari bawah tangga ke lantai atas.

Keheningan yang mencurigakan merebak. Kemudian satu persatu, tiga kepala berambut kusut yang identik mengintip Jaejoong dari balik pagar anak tangga, ekspresi bersalah menghiasi wajah mereka.

Jaejoong memelototi tiga saudara kembarnya. " Untuk yang terakhir kali, kalian tidak boleh membordir mobil dengan buah. Kalian mendengarku?  sekarang, sekarang siapa di antara kalian bertiga yang melempar apel itu?" ketiga saudara laki lakinya mengumpat protes yang biasa mereka lakukan, ia menambahkan. " Tidak ada puding bagi siapapun pada saat makan malam nanti sampai seseorang mengaku."

Dengan cepat dua kepala menoleh dengan tatapan menuduh kepada si nomor dua. Taemin. Tentu saja, pelakunya adalah Taemin. Anak yang tidak pernah bisa diam di antara mereka bertiga.

Penghianatan saudara saudaranya membuat wajah Taemin pucat. " Aku tidak melemparnya Nuna, sungguh. Aku sedang memakanya, dan apel itu benar benar segar, jadi ketika aku melongok keluar jendela …"

" Yang seharusnya tidak boleh kau lakukan juga ," sergah Jaejoong. " Aku sudah memberitahumu sebelumnya, hanya orang jahat yang bergelantungan keluar jendela, dan melempar apapun kepada orang orang lewat yang tidak curiga."

" Aku tidak melemparnya!" protes Taemin. " Apel itu terjatuh!"

" Jadi begitu, seperti tadi malam buku bahasa ingrismu terjatuh dan hampir memecahkan kaca mobil taxi, atau tadi pagi ketika bola salju terjatuh dan menghantam pejalan kaki."

Kepala Taemin mengangguk naik turun. " Ya, ya seperti itu."

Jaejoong memelototi Taemin. Sayangnya memelototinya tidak berdampak pada bocah nakal itu. Tidak ada yang berhasil meskipun hal itu dapat dimengerti. Ketiga saudara kembarnya itu masih bersedih dengan kematian ayah mereka tahun lalu, seperti halnya Jaejoong. Mereka tidak pernah mengenal mama mereka, yang meninggal beberapa jam setelah melahirkan mereka.

Tetapi ayah sudah menjadi dunia mereka. Mereka menganggap saudara perempuan mereka Jaejoong pengganti yang buruk, sejak utang utang yang ditinggalkan ayah mereka yang seorang arsitek membuatnya terlalu sibuk mencukupi kebutuhan mereka dan tidak bisa meluangkan waktu untuk mengasuh mereka.

Sambil berkaca pinggang Jaejoong menatap, Kim Bum, si pengadu, di anyara tiga bersaudara itu. " Dimana Changmin."

" Aku disini." Saudara Jaejoong keempat muncul di belakang kepala saudara saudaranya yang menunduk.

" Kukira kau mengawasi mereka untukku," kata Jaejoong dengan marah.

Jaejoong menyesali nadanya yang tajam secepat ia melihat rona merah di wajah Changmin. " A~aku minta maaf, Jongie. Aku sedang membaca. Aku mengejar pelajaranku sampai aku bisa kembali ke akademi Shinki."

Akademi Shinki tercinta Changmin, yang tidak dapat lagi mereka biayai sama seperti piring emas dan baju bermerk.

" Tidak apa apa, Cwhang. Kau harus terus belajar." meskipun hanya tuhan yang tahu kapan anak itu mampu meneruskan sekolahnya, itupun jika bisa.

Sebuah desahan letih terlontar dari bibir Jaejoong. Ia seharusnya tidak membebani saudaranya yang baru berumur empat belas tahun. Saudara laki lakinya yang rajin belajar ini memiliki masalah besar dalam bertindak sebagai pengasuh bagi tiga anak begal itu seperti anak anjing mengasuh tiga bayi srigala. Tetapi Jaejoong tidak bisa membayar seorang pengasuh yang sebenarnya.

" Baiklah, Taemin, kupikir kita harus memanggil dokter."

Rahang Taemin langsung menganga. " Apa maksudmu, Jongie?"

" Sepertinya kau punya masalah dengan menjatuhkan apapun, jadi pasti ada sesuatu yang salah dengan tanganmu. Mungkin kau terkena sakit gemetar. Aku akan memanggil dokter untuk memeriksamu."

" Aku tidak membutuhkan seorang dokter Nuna, sungguh, aku tidak membutuhkanya!" Taemin mencengkeram pagar anak tangga" Kau lihat kan kedua tanganku baik baik saja!"

Jaejoong meletakkan jari di dagu berpura pura tampak berpikir. " Aku tidak tahu. Dokter mungkin bisa menyembuhkan penyakitmu yang tiba tiba itu. Dia mungkin menyarankan suatu obat … cincangan mata katak atau semacam itu."

Taemin berubah pucat. " M~mata katak?"

" Atau minyak hati ikan Cod. Tiga atau empat kali sehari." Taemin membenci minyak hati ikan Cod.

" Jujur, Jongie nuna." Taemin berseru. " Hal itu tidak akan pernah terjadi lagi! Lain kali aku akan sangat berhati hati saat melongok …m~maksudku lain kali saat aku dekat jendela."

" Pastikan begitu." Jaejoong menatap kedua saudara lainya tampak puas, dan menambahkan. " Jika kalian berdua mendapati tangan kalian gemetar , aku akan dengan gembira memanggil dokter untuk kalian juga."

Perkataan itu sekaligus menyadarkan mereka. " Sekarang pergilah. Dan tolong, bermainlah dengan tenang."

Mereka bergeming. Sambil masih bergantung di anak tangga, Kim Bum menatap Jaejong dengan murung. " Mungkin kau mau ikut dan menceritakan sebuah dongeng untuk kami."

" Tentang seekor burung merak yang memangsa seekor naga," Myungsoo menambahkan dengan berharap. Itu cerita favoritenya saat ini.

" Bukan yang itu." Teriak Taemin. " Ceritakan pada kami tentang kesatria jahat yang terjatuh dari kudanya kedalam lubang sempit dan tertimpa baju besinya!"

Semangat Taemin membuat hati Jaejoong sedih. " Sekarang aku tidak dapat melakukanya, sayang. Maafkan aku, tapi aku harus menyelesaikan artikel ini. Mr Lee akan mengirim Suho shi untuk mengambilnya, dan aku tidak bisa membiarkanya menunggu."

" Aku tidak menyukai Suho Hyung." Keluah Kim Bum. " Dia seharusnya jatuh kedalam lubang yang sempit."

Jaejoong tidak bisa memberitahu adiknya, tetapi Suho memang tokoh dalam dongengnya.

" Suho Hyung bau dan jelek." tambah Taemin. " Saat dia melihatmu aku ingin meninju wajahnya. Dia orang brengsek itulah dirinya."

" Taemin," Jaejoong berusaha tampak terkejut, tetapi sulit dilakukanya ketika pilihan kata Taemin mengejutkan dan akurat. " Jaga ucapanmu, atau aku akan menggunakan minyak hati ikan Cod untuk mencuci mulutmu!" ketika Taemin meringis, ia menambahkan. " Lagi pula sebesar apapun kita membenci Suho Hyung, kita harus tetap sopan kepadanya jika aku tetap mau menulis di surat kabar."

"Tapi aku benci dia!" teriak Taemin. " Kita semua membencinya, ya kan?"

"Ya, ya jika dia disini, aku akan meninju hidungnya." kata Kim Bum dengan keras.

" Aku akan meludahinya sambil menghunus pedang." tambah Myungsoo, seolah olah ia menggunakannya setiap hari.

" Aku akan .. aku akan…" Changmin ragu ragu, kurang memiliki insting haus darah seperti saudara saudatanya yang lain. " Pokoknya aku akan melakukan sesuatu."

"Tidak, tidak boleh. Aku tidak akan mengizinkanya." Jaejoong tersenyum sekilas karena pikiran para tentara kecilnya yang membual dengan kata kata mereka untuk melawan Suho sendirian. " Kuberitahu kalian. Jika kalian menjauh dari segala masalah dalam ruang bermain untuk beberapa jam kedepan, aku janji, aku akan membacakan kedua dongeng tadi."

" Hore! Burung merak memakan naga dan kesatria jahat!" seru si kembar tiga bersama sama sambil berlari ke dalam ruang bermain. Semoga mereka tidak pernah pergi kemanapun.

Changmin menunduk dan menatap Jaejoong. " Aku akan menjaga mereka lebih baik kali ini, aku janji."

" Aku tahu kau akan melakukanya, sayang." Jaejoong mendongak sambil menyungingkan senyum keibuan. " Kau anak yang baik dan merupakan bantuan yang besar bagiku. Sekarang pergilah."

Changmin berseri seri saat ia bergegas mengejar saudara saudaranya. Jaejoong harus mengingat untuk tidak memarahi anak itu untuk hal hal yang tidak perlu. Changmin anak yang sensitif srperti seorang penyair, anak yang malang. Meskipun Changmin tidak sesensitif ayah mereka.

Sebongkah kemarahan meliputi Jaejoong, ia merenggut sambil menatap keatas. " Kau lihat apa yang telah kau lakukan, Tuhan? Mengapa kau biarkan Appa jatuh kedalam sungai Han dalam keadaan mabuk? Seharusnya kau dapat menunjukan mukjizat …membelah sungai atau apalah. Kau membiarkan appa tenggelam, semoga appa  berjudi di depan surga dan membuat malaikat sibuk di buatnya." air mata mengenangi matanya.

Jaejoong kembali menunduk mendapati pelayan wanita sedang menatapnya. Pelayan itu segera menyibukkan diri dengan menyapu lantai. Dan Jaejoong merasa malu.
Jaejoong kembali masuk keruang kerja yang dulunya adalah ruang kerja menggambar ayahnya. Ia mengamati lembaran kertas Folio dan bolpoinnya, ia sudah menjual komputer juga leptopnya.

Jaejoong memusatkan perhatianya kembali pada artikelnya. Sial, ia belum selesai memeriksa kesalahan kesalahanya, dan dan ada frasa yang mereporkan dalam paragraf kedua yang ingin ia rubah.

      ~~~*~~~

Di tengah jalan dan diluar garis pandang Jaejoong, Yunho bersembunyi mengamati Suho mencari cari dalam sakunya untuk membayar ongkos taxi. Dengan cepat Yunho melangkah maju dan meneriaki sopirnya.

Sambil mengeluarkan beberapa lembar uang, Yunho membayar dan berkata. " Tolong tunggu sebentar, ya? Pria terhormat ini ada urusan di tempat lain." Lalu ia menyungingkan senyuman kepad pria dari surat kabar itu. " Mr Lee akan merasa lega bahwa akhirnya aku dapat mengejarmu."

Suho menyapa Yunho dengan curiga. " Siapa kau?"

" Aku orang yang baru di pekerjakan Mr Lee pagi ini" sebenarnya Mr Lee masih mewancarai pelamar lowongan kerja yang diiklankan, tapi Suho tidak mengetahui hal itu.

" Dia membutuhkanmu di incheon . Dia menyuruhku kesini dan menggantikanmu. Dia bilang karena aku orang baru, aku dapat menangani artikel Mr X" kerika Suko tampak curiga ia menambahkan. " Ada sebuah kerusuhan di bandara, biasa tentang kedatangan artis dan dia mebginginkanmu berada disana secepatnya."

" Sebuah kerusuhan?" sinar yang tampak dimata pria itu memberitahu Yunho bahwa topiknya benar. Ia dangat menyukai kekerasan.

" Aku mengerti, baiklah... " setelah sekilas menilai Yunho, ia tampak puas dengan pakaian mantel wol murah dan topi bulu yang ia beli di pinggiran pasar, ia seperti seorang glandangan ketimbang seorang presdir sebuah perusahaan. " Baiklah kalau begitu, cukup ketuk pintu dan beritahu siapa dirimu."

Setelah Suho melompat masuk ke dalam taxi dan mobil itu melaju pergi, Yunho tersenyum untuk diri sendiri. Tiga hari menyuap juru tulis dan mengikuti Suho kemanapun ia pergi akhirnya berhasil, berkat teknik teknik yang telah Yunho asah selama di prancis. Ia tidak membutuhkan nama asli Mr X sekarang. Ia telah mendapatkan lokasi rumah pria misterius tersebut dan itu sudah cukup.

         ~TBC~

Minggu, 19 April 2015

SECRET FIRE chap 15 end


Title : BERSEMI DI NEGERI SAKURA

Author    : Sulis Kim
Main Cash  : Kim Jaejoong
                     Jung Yunho
                       DBXQ
                   Suju and Other
                    Rate : M 18+
          Genre : Historical Romance

            WARNNING

REMAKE novel johanna lindsay ber judul secret fire * bersemi di rusia* dengan beberapa bagian Yang di ubah untuk menyesuaikan cerita.

Author cinta damai jika merasa tidak suka jangan baca . Jika anda membaca tolong tinggalkan jejak * swing *

YAOI. ff yaoi pertama saya . Biarpun remake mohon untuk tidak di cela dan butuh masukan jika memang menurut chinggu perlu.
감사함니다.

Happy reading ...


Kangin menunggu mereka di pintu masuk ketika Yunho mengantar Jaejoong kembali kerumah. Dengan gembira Yunho memeluk pelayan setianya dengan erat, membuat pria malang itu sesak nafas.

" Dia bilang, ya, Kangin!"

" Sudah saya duga, Pangeran. Selamat, dan juga untuk anda Tuan muda Kim."

" Terimakasih, Kangin." Jaejoong mengangguk anggun. " Dan kau tidak perlu sekaku itu. Hanya karena aku akan menjadi majikan barumu, tidak berarti akan banyak perubahan. Aku orang pemaaf, kau tahu. Aku berjanji hanya akan mencambukmu pada hari sabtu."

Yunho terkekeh ketika pipi Kangin memerah. " Dia tidak tahu kau hanya bergurau, Boo. Kau harus lebih berhati hati memilih sasaranmu."

"Omong kosong. Dia tau aku bercanda. Dia hanya merasa bersalah. Bukan begitu, Kangin?"

" Ya, My lady"

" Well, kau boleh melupakanya temanku. Dan kenapa kau memanggilku, my Lady?"  Jaejoong tersenyum lebar padanya. " Kalau boleh jujur, aku harus berterima kasih padamu."

Jaejoong berbalik ,dan hanya Yunho yang mendengar Kangin mendesah. Yunho tersenyum sendiri, menggeleng kepala. Calon istrinya akan menjadi teror di rumahnya. Orang orang tidak akan pernah tahu kapan Jaejoong serius atau tidak, tapi hal itu pasti akan membuat mereka was was. Yunho menyadari hal itu juga berlaku pada dirinya sendiri, dan senyumnya melebar. Ia tidak peduli. Selama Jaejoong selalu di dekatnya, bahagia dan mencintainya, Jaejoong boleh menggodanya sepuas hati.

Ia menoleh kearah kangin. " Nenek mengharapkan kedatanganku untuk makan siang. Kau harus memberitahunya . . .  Tidak, sebaiknya bawa dia kesini. Apakah itu tidak apa apa, Jae ?"

Jaejoong meringis. " Tentu saja, tapi kurasa aku harus memperingatkanmu, Yunho. Dia tidak akan terlalu senang dengan beritamu. Pertemuan pertama kami tidak berjalan baik  aku menolak membiarkanya melihat Changmin, dan kurasa dia tidak terlalu senang dengan itu."

"Maksudmu dia sudah tahu?"

" Dia tahu aku pulang membawa anak. Dia jelas curiga anak itu anakmu. Aoko, bibimu menulis surat kepadanya dan mengeluh tentang aku, kau tahu."

Yunho tertawa pendek. " Ya Tuhan, si tua itu ... Aku tahu dia merahasiakan sesuatu dariku. Tapi kau salah, kau tahu. Dia sangat mengagumi semangatmu, itu istilah yang dikatakanya. Dan ia berkeras sama seperti aku, agar kita bersatu. Sekarang aku tahu kenapa. Ia ingin menggendong cicitnya."

" Oh, ternyata kau, Jongie." Kim Hyunjoon St. John muncul di puncak tangga. " Kukira aku mendengar suara, tapi aku tidak megerti omong kosong itu. Sedang berlatih bahasa jepangmu lagi?"

" Turunlah, Daddy. Aku ingin kau bertemu dengan calon menantumu."

"Orang Jepang itu?"

" Ya."

"Jadi memang dia." kata Hyunjoon puas.

" Jadi memang dia."
Jaejoong melirik Yunho untuk melihat apakah pria itu kesal karena mereka berbicara dengan bahasa Korea. Yunho tidak terlihat kesal. Tapi ini akan sulit, ayah Jaejong tidak bisa berbahada Jepang.

" Aku heran kenapa kau mengulur ngulur waktu mengakuinya," kata Hyunjoon ketika di dasar tangga, " Aku bisa mendapatkan lebih awal untukmu kau tahu."

" Aku mendapatkanya sendiri tanpa bantuanmu, terima kasih, tanpa bantuan siapapun."

" Dan kukira akulah yang melakukan pengejaran," kata Yunho dalam bahasa Korea sempurna, dan kepada Hyunjoon. " Senang sekali bertemu denganmu, Ayah mertua."

Jaejoong berputar ke arah Yunho, matanya berkilat kilat." Ternyata ... Kau ... Kau ..."

" Tolol? Brengsek? Bajingan? Oh, kita tidak boleh melupakan penjahat sialan. Dan itu hanya beberapa panggilan yang kau lemparkan kepadaku ketika kaupikir aku tidak mengerti bahasa Korea kuno."

" Apakah itu adil"
"Adil, mungil? Tidak. Menghibur? Ya. Kau benar benar manis ketika menggerutu sendiri kalau sedang marah."

" Dia memang begitu," Hyunjoon membenarkan. " Aku selalu berpikir begitu. Dia mendapatkan kebiasaan itu dari ibunya, kau tahu. Mereka tipe orang yang bisa melakukan pembicaraan paling menarik, sendirian "

" Baiklah." Jaejoong tersenyum lebar. " Aku menyerah." lalu membuka topik pembicaraan penuh harap. "Apakah Yoochun dan Junsu ada? Mereka pasti ingin bertemu dengan Yunho."

" Itu harus menunggu sampai malam ini, Jongie. Adikmu mengatakan sesuatu tentang belanja, dan kurasa Yoochun sedang pergi ke Klub. Aku sendiri baru hendak pergi. Kau akan datang untuk makan malam bukan?" ia mengajukkan pertanyaan ini kepada Yunho.

" Aku tidak akan melewatkanya." Yunho menegaskan.

Pintu depan terbuka lebar tepat ketika Hyunjoon tiba disana dan Junsu melangkah masuk. " Sudah kembali secepat ini?" sapa Hyunjoon. " Begitu juga kakakmu, kurasa dia punya berita untukmu."

" Oh?" Junsu melirik ke balik bahu ayahnya dan terkesiap, melihat Yunho dan Jaejoong berdiri berdekatan. " Oh!" dan ia bergegas kesana, meninggalkan Ayahnya yang pergi sambil terkekeh.

Jaejoong memperkenalkan mereka berdua dan menjelaskan kabar gembira. Tetapi adiknya seperti tidak mendengarkan. Karena baru pertama kali melihat Yunho dari dekat, Junsu hanya bisa melihat pria itu, terpesona. Jaejoong harus menyiku rusuk Junsu untuk menyadarkanya.

" Oh, Maafan aku. " Junsu pulih kembali, merona. " Aku sangat gembira akhirnya bisa bertemu denganmu, bukanya aku sering mendengar tentang dirimu. Jongie sangat tertutup dan ... Apakah ini akan berarti kau akan membawa Jongie ke Jepang? Pasti banyak bunga sakura disana."

" Kurasa sebaliknya," Yunho tersenyum. " Kurasa kami akan menghabiskan kebanyakan waktu kami dengan bepergian untuk memeriksa sebagian usahaku di segala penjuru Negara." Ia menatap Jaejoong. "Aku sudah di peringatkan apa yang terjadi kalau aku tidak mengawasi ingestasiku."

Junsu melewatkan tatapan diantara kedua orang itu. " Menyenangkan sekali, Jaejoong selalu ingin bepergian. Dan dia sangat pintar berbisnis. Kau akan membiarkanya membantumu, bukan?"

" Tentu saja. Tapi sekarang, walaupun  aku ingin mengenal keluarganya lebih baik, aku harus bertanya  padamu Junsu kecil, apakah kau bisa membiarkan kami berdua sebentar? kakakmu baru setuju menikah denganku, dan masih banyak yang akan ku katakan padanya."

" Tentu saja!" Junsu menyetujui dengan penuh semangat, tetapi ia jelas akan menyutujui apa saja yang diminta Yunho, mengingat ia begitu terpesona. " Aku harus merapikan barang barangku dan ...dan … sampai jumpa nanti, kuharap."

Jaejoong merasa geli dengan sikap adiknya, tetapi tidak terkejut, sudah berapa kali ia sendiri merasa bingung ketika Yunho menatapnya dengan mata gelap sensual itu? Malah Jaejoong masih merasa terguncang, yang diragukan akan pulih dalam waktu dekat.

Yunho mengatakan mencintai Jaejoong.
Aku, batin Jaejoong. Itu luar biasa. Bagaimana mungkin aku seberuntung itu?

Beberapa saat kemudian, setelah Junsu menghilang di puncak tangga, Yunho memeluk pinggang Jaejoong dan menuntunya keruang Duduk.

"Kau tidak punya rencana lain malam ini, bukan? " kata Jaejoong. " Maksudku, ayahku membuatmu terdesak."

" Semua rencanaku berhubungan denganmu, mungil." sahut Yunho.

Ketika Yunho menutup pintu, Jaejoong menyadari apa yang yang direncanakan Yunho sekarang. Tatapan pria itu menegaskannya.

" Yunho!" Jaejoong mencoba terdengar kaget, tetapi senyum yang mengembang di bibirnya, mengatakan perasaanya yang sebenarnya.
" Ini bukan rumahmu, kau tahu. Disini para pelayan selalu membuka pintu dan menyerbu masuk." Yunho menyelesaikan masalah itu dengan meraih kursi terdekat dan mendorong benda itu ke pintu. " Kau sangat nakal."

" Ya." Yunho membenarkan, memeluk Jaejoong, dan Jaejoong menempelkan tubuhnya lebih dekat, lebih dekat lagi. " Begitu juga kau, cintaku."

" Indah sekali,"  Gumam Jaejoong di bibir Yunho. " Katakan sekali lagi."

" Cintaku, kau cintaku. Kau tahu tanpa dirimu tidak ada kebahagiaan dalam hidupku."

Kau dengar itu Jaejoong? Sekarang kau percaya?

Jaejoong percaya Dongeng itu sudah menjadi kenyataan.

  

            

Epilog.... !!!

Tambahan ini ciptaan Author sendiri, maaf jika mengecewakan.
Karen Author kurang puas dengan ending mereka yang happy nya pendek banget.


              Jepang


" Kembalikan anakku."

" Oppa, sebagai Tuan rumah yang baiknya , kau tidak boleh meninggalkan para tamu ,mereka membutuhkan penjelasan, tentang bagaimana? Dan kapan kalian,,,, kalian menikah? Sampai sudah memiliki Changmin sebesar ini?"

" Tidak perlu ada penjelasan, Jaejoong istriku, Lord, Kim Jaejoong St, John. Dan Jung Changmin putraku, dan jangan mengalihkan apapun. Aku hanya ingin anakku,  kembalikan Changmin, Jessica Jung, atau kau akan tau akibatnya."

Semua ini berawal dari kepulangan Pangeran Jung Yunho beserta istri dan putra Kecil mereka, Jung Changmin. Seminggu yang lalu. Kedatangan mereka di sambut gembira seisi rumah.

  Terutama Jessica, gadia itu sangat gembira dan antusias, dapat bertemu kembali dengan Jaejoong, dengan niat ingin memperkenalkan kakak iparnya yang cantik kepada warga Jepang, ia mengadakan jamuan pesta terbesar dan termewah tahun ini.

Seluruh keluarga Jung Alexadrov berkumpul. Yoochun dan Junsu juga berkunjung ke estat Yunho di Tokyo, mereka tiba kemaren sore. " Ya Tuhan, rumah ini sangat mempesona sama seperti suamimu, Jongie." itulah yang di ucapkan Junsu pertama kali turun dari mobil.

Yunho sangat bahagia bisa menikahi Jaejoong , seminggu setelah namja itu menerima lamaranya Yunho berniat hari itu juga menikah, ia takut Jaejoongnya akam berubah pikiran. Namun setelah Jaejoong meyakinkanya pernikahan mereka di undur.

" Ngomong ngomong dimana ,Changmin?,"

Semua mata menatap Jaejoong yang baru saja bergabung dengan mereka di ruang duduk. Yunho, Jessika dan Yihan, mereka berebut untuk menggendong Changmin setelah selama seminggu mereka tidak pubya kesempatan untuk itu.

" Yunho, dimana Changmin?" tanya Jaejoong sekali lagi.

Jessica berjongkok di bawah meja, dimana sang keponakan mungilnya ia sembunyikan, tapi ia tidak melihat sang keponakan . ditempat tadi ia menyembunyikan Changmin dari Yunho. Karena terburu buru ia dan Yihan tidak tau mau di sembunyikan dimana namja imut dengan mata bulat seperti Jaejoong.

"Ya Tuhan, Jung. Changmin sudah bisa berjalan, kau ingat? Dan seharunya kalian tidak membiarkan anak umur dua tahun di bawah meja, anakku itu suka sekali berpetualang, kalau kau lupa? "

" Aku Jung." Jessica angkat tangan.
" Aku Juga,, merpati" sahut Yihan.

" Dan aku Juga Jung, kau sedang memarahi Jung yang mana, mungil?"

" Tidak peduli Jung yang mana, temukan putraku secepatnya, Jung. Sekarang, atau aku akan membawanya kembali ke Korea jika sudah menemukanya."  Ucap Jaejoong dengan suara marah.

Tiga Jung bersaudara sedang berdebat dan tidak memperhatikan putranya. Ya Tuhan, ia tidak akan memaafkan mereka jika sampai putra kecilnya yang usil itu melukai dirinya sendiri, dengan menarik taplak meja misalnya, dengan berbagai benda di atasnya yang bisa menimpa dirinya, seperti  sebulan yang lalu saat Yunho tidak memperhatikanya.

" Aku yakin, dia sedang mengasah keusilanya. " Jawab Yihan asal, dan berjalan kepintu keluar.

" Anak itu memang mirip denganmu oppa." grutu Jessica , menyusul Yihan " Tapi aku sangat menyukai anak itu, kalau besar nanti Changmin pasti akan seperti Ayahnya, tampan dan mempesona."

Tinggalah Yunho dan Jaejoong di ruang keluarga, Jaejoong masih bersedekap marah, dengan mata tajam menatap Yunho tak berkedip.

Yunho mencoba mencari sesuatu yang bisa membuat istrinya itu tidak marah, ia benci setiap kali nereka bertengkat itu akan membuatnya berpuasa dalam arti sesungguhnya, Jaejoong akan mengabaikanya dan memilih tidur dengan Changmin, itu adalah cobaan terberat walaupun istrinya itu marah tidak akan melebihi tiga hari. Tetap saja membayangkan ia harus tidur sendirian di kasur besar di kamarnya, membayangkan tubuh hangat Jaejoong dalam dekapanya. Oh tidak, ia tidak ingin Jaejoong mengabaikanya.

" Mungil, kau tau bukan salahku ...."

" Seharusnya kau mengawasinya, itu yang kau katakan padaku sebelum membawanya turun mendahuluiku, Oh Tuhan, separuh dari tamu undangan sudah memenuhi rumah kita, bagaimana kau akan menemukan putra kita yang hiperaktif itu," cerocos Jaejoong panjang lebar.

" Mungil ...."
" Cari putraku sekarang juga,"

Yunho hanya menghela nafas panjang, betapa istrinya itu selalu menentangnya, dan betapa ia membenci Jaejoong yang sekarang dan mencintai Namja itu. " Aku mencintainya, itu sebabnya aku membiarkanmu memarahiku, lihat saja nanti malam, tidak ada ampun untukmu Jung Jaejoong." dan lihatlah kau Yunjo, penyakit Jaejoongmu benar benar menular padamu.


          ~~~*~~~

 
Go Ahra, baru saja menginjakan kakinya di aula estat keluarga Jung dan, terpana akan pesta termewah tahun ini. Pesta keluarga Jung Alexondrov mengundang seluruh bangsawan dan pejabat negara para artis dan pengusaha kaya. Pesta ini di senggelarakan sebagai acara berkumpulnya keluarga Jung Alexandrov. Dengan Jung Jiwoon dan anak beserta istrinya yang kembali dua tahun silam, Jung Yihan yang masih betah melajang, dan Jung Jessica yang sudah bertunangan dengan  Lord macslesfield. Juga Jung Yunho yang kembali dari perjalanan keliling Eropa.

Ahra tidak menyesal mengakhiri pertunaganya dengan Shiratori, ia hanya merasa cocok dengan pria itu tapi bukan Cinta, seperti yang ia rasakan pada putra kedua keluarga Jung. Jung Yunho. Ia berharap dengan memutuskan pertunangan mereka di hadapan Yunho tiga musim dingin yang lalu memberi harapan pada pria itu untuk kembali mengejarnya, ia bahagia saat mendengar kabar Yunho mendatangi rumah Shiratori berkelahi denganya, ia berharap Yunho akan mendatangi rumahnya seminggu atau sebulan kemudian. Tetapi Yunho tidak pernah mencarinya, dan pria itu menghilang. Dari kabar burung yang ia dengar pria itu patah hati karena dirinya dan pergi berkeliling Dunia untuk menyembuhkan sakit hatinya.

Ahra sangat bahagia mendengar kabar Yunho telah kembali beberapa waktu lalu, ia tidak mengerti kenapa kepulangan pangeran Alexondrov dirahasiakan sampai diadakanya pesta malam ini. Ahra sudah mempersiapkan diri dengan gaun terindah malam ini, Ia berharap Yunho akan berpikir untuk mengejarnya lagi. Dan ia akan langsung menerima pria itu tanpa banyak pikir, sudah cukup ia menyesal membuat Yunho menunggu dan mengabaikan pria itu, dimasa pria itu menginginkanya sebagai pendamping. Ia akan menjerat Yunho dan membuat seluruh wanita di Jepang iri kepadanya.

" Ahra, "

Ahra mengenal suara itu, ia mengumpat dalam hati, seharusnya ia sudah menduga Shiratori akan ada mengahidiri acara ini, Ahra memasang senyuman manisnya dengan enggan menghadap pria itu. " Bagaimana kabarmu, My lord."

Pria itu terlihat tampan seperti biasanya dan tersenyum miris. Ia sudah berniat tidak akan menghadiri pesta ini, namun sesuatu yang ia dengar memaksanya untuk menghadiri pesta dan memastikan sesuatu, jika ia beruntung ia akan mendapatkan Cintanya kembali. " Senang melihatmu lagi, Ahra, jika tidak keberatan ijinkan aku menuntunmu kedalam."

Ahra sudah akan menolak jika ia tidak menatap tatapan pria itu, bagaimanapun juga Pria itu pernah menjaganya selama Yunho meninggalkanya dulu. Baiklah mungkin ia akan bicara dan memperjelas semuanya nanti, setelah Yunho melihatnya, mungkin pria itu akan cemburu. Membayangkanya Ahra tersenyum bahagia. " Dengan senang hati, My lord."



" Changmin..." suara kecil itu menarik perhatian Ahra dan Shiratori yang sudah mulai berjalan di tengah aula.

Mereka melihat anak laki laki berumur sekitar empat tahun berlari menghampiri namja yang lebih kecil darinya. " Eomma  eodiya? " tanya namja yang lebih dewasa.

" Hyung..." namja kecil itu tertawa dan memeluk namja yang lebih dewasa, mungkin mereka kakak beradik. Pikir Ahra.

" Bukankah itu, Jung Jiwoon."
Ahra menatapa pria yang di tunjuk Shiratori. Jiwoon menghampiri kedua namja kecil itu dan memeluk mereka, istrinya Tae Hee, berdiri di sampingnya, wanita itu sungguh cantik dengan gaun mewah yang membalut tubuh rampingnya.

" Ku kira Jung Jiwoon hanya memiliki seorang putra, lalu siapa anak kecil yang lebih kecil itu?"

" Mungkin Jiwoon akan menjawab pertanyaanmu, karena aku sama sepertimu, tidak tahu, ", Ahra sudah akan berucap ketika Shiratori menuntunya menghampiri keluarga bahagia itu.

" Selamat malam pangeran Alexandrov" sapa Shiratori pada Jiwoon dan istrinya, " Selamat malam My. Lady."

Jung Jiwoon sedikit mengulas senyum saat melihat pasangan itu, istrinya berhasil tersenyun dengan sempurna. Jessica sudah menceritakan tentang gadis yang tadinya akan diperistri adiknya itu. Juga Shiratori yang membuat adiknya berbaring cukup lama diranjang, ia sudah akan melaporkan pria itu ke polisi, andai saja Yunho tidak menahanya. Dan mereka tidak memiliki cukup bukti.

  " Selamat malam My. Lord." sapa Tae Hee.

Ahra memberi salam kepada Kepala keluarga Jung Alexandrov, sama sopanya. " Aku berpikir, anda memiliki seorang putra ,pangeran. Tapi sepertinya saya salah?"

Jiwoon tersenyum memperkenalkan dua namja di sampingnya." Perkenalkan diri kalian masing masing anak anak." perintah Tae Hee.

" Jung Wonbin Ndes " seru namja yang lebih dewasa.

" Jung Changmin imnida." ucap namja yang lebih kecil dengan aksen korea cadel khas bocah seusianya.

Mata hitam kelereng changmin menatap ceria sekeliling, mata khas keluarga Jung Alexandrov yang mempesona. Ia hanya namja berumur dua tahun yang masih suka berpetualang dan menemukan sesuatu yang baru dan ia terlihat cukup antusias.

" Dia sangat tampan, apa Changmin salah satu anak kerabat anda My lord?" tanya Ahra ramah.

Jiwoon hanya tersenyum, dan sang istri sudah akan berkata jika saja suara histeris Yihan tidak membuat sekeliling juga mereka tersentak kaget.

" Terimakasih Tuhan, akhirnya aku menenukanmu, dasar anak nakal."
Yihan berkacak pinggang di samping Jiwoon yang masih berlutut di samping kedua namja kecil mereka.
Kemudian Yihan mengangkat Changmin dan memutar tubuh namja kecil itu sampai mengeluarkan kikikan khas anak anak.

" Asal kau tau nak, ibumu hampir saja mencincang kami karena tidak menemukanmu di bawah meja, dan ayahmu beruang darat itu pasti sedang menjinak kan merpati mungil yang sedang mengamuk. Bagus kau bisa ikut dan kita akan bersembunyi, biarkan mereka kebakaran jenggot." cerocos Yihan panjang lebar. Ini sangat menyenangkan, menggoda orang tua Changmin yang super protectif itu.
 
bahkan pria itu tidak menyadari beberapa orang yang memandangnya aneh dengan gerutuan tidak jelasnya.

" Sebaiknya tidak, Yihan. Sebentar lagi pesta akan di mulai, aku tidak ingin menangung resiko atau jika Jaejoong menyuruh Kangin memukulmu aku akan dengan senang hati menahan kedua tangan nakalmu itu."

" Kau tau aku bercanda bukan? Mana mungkin aku akan menyembunyikan anak seusil Changmim yang tidak bisa diam barang sedetikpun," Yihan tersenyum tanpa dosa. Pupus sudah harapanya untuk membuat merpati itu kebakaran bulu(?)

" Bagus, anak muda tinggalkan Changmim bersamaku. Aku akan mengantarkanya kepada Jaejoong "

" Dengan senang hati." Yihan pun meninggalkan mereka setelah memberi salam kepada Ahra dan Shiratori.

" Saya minta maaf tidak bisa menemani anda berdua, semoga kalian menikmati pestanya. Kami akan mengantarkan Changmin kepada orang tuanya. Mereka pasti khawatir."

" Oh, tentu saja." Ahra tersenyum ria.

Setelah kepergian mereka Shiratori membimbing Ahra memasuki aula. Tempat itu telah di sulap dengan sungguh menakjubkan, lampu kristal dan segala perabot indah yang bisa di pastikan mahal menghiasi setiap sudut ruangan.

Ruangan itu sangat besar Ahra belun pernah masuk ke estat yang baru selesai di bangun tahun lalu, dan Yunholah pemiliknya, setelah pria itu memutuskan berhenti mengelilingi dunia. Terdengar kabar Jika Yunho mungkin akan menikah dan akan menetap di Tokyo.

Ahra melihat Yunho di ujung ruangan di sebrang lain aula, pria itu terlihat mencari seseorang atau sesuatu. Karena Yunho teruas menghadap kebawah dan sesekali menengok ke bawah meja hidangan. Apa yang pria itu cari.?

" Yunho."

Pria itu terlihat sedikit terkejut dan Ahra melihat keterkejutan pria itu merasa bahagia, ia yakin Yunjo masih memiliki perasaan untuknya. Melihat Shiratori bersama Ahra berjalan kearahnya Yunho mengumpat, Jaejoong pasti akan marah jika melihat Ahra disini. Ia akan memarahi Jessica karena mengundang mereka. Dan Yunho masih dendam dengan Shiratori, pria itu yang membuatnya berbaring cukup lama dan membuatnya hampir kehilangan Jaejoongnya.

" Aku harap, kalian menikmati pestanya." ucap Yunho basa basi.

" Bagaimana kabarmu Yunho, apa perjalanan keliling duniamu menyenangkan, aku iri kepadamu dan jika aku punya kesempatan berkeliling dunia kuharap kau mau memeberitahuku tempat tempat indah yang harus ku datangi."

Kedua alis Yunho terangkat samar. Namun tak heran pria itu menjawab. " Tentu saja, aku pasti akan membantumu selama tempat yang kau kunjungi itu bagian eropa."

" Aku minta maaf, Yunho. Dengan aoa yang sudah Aku lakukan ...."
 
" Akan aku coba, meski itu sangat sulit, kau telah membuatku hampir kehilangan orang yang ku cintai." ucap Yunho lirih namun tajam.

Ahra menatap mereka berdua bergantian. " Aku harap kalian tidak akan berkelahi disini!" ucap ahra lirih, namun tak hayal gadis itu tersenyum bangga, Yunho mengatakan hampir kehilangan orang yang dicintainya, mungkinkah?

Aura persaingan mereka cukup kentara, beberapa orang mulai berbisik di sekitar mereka. " Aku mendengar berita bahwa kau …"

Ucapan Shiratori terpotong oleh suara merdu seseorang. Namja itu memakai setelan jas putih yang sangat pass di tubuhnya, warna itu membuat Jaejoong semakin mempesona.

" Yunho apa kau sudah menemukan Changmin, Bagaimana kalau terjadi sesuatu pada Changmin, aku mungkin bisa gila ... Aku "

" Tenanglah mungil, Changmin akan baik baik saja. Aku akan menemukanya untuk ..."

" Mami."

Belum sempat Ahra dan Shiratori menilai keakraban Yunho dan Jaejoong, namja kecil itu sudah berlari memeluk kaki Jaejoong.
Hening sejenak, kedua pasang mata hitam kelam itu saling menatap, Jaejoong berkacak pinggang dan Changmin namja itu mendongak hanya untuk melihat wajah marah ibunya.

kedua tangan mungilnya semakin memeluk erat kaki Jaejoong, ia tau ibunya marah, apa salahnya?
" Mam, " suara kecil itu  sudah mulai bergetar akan menangis.

" Jae ...." lirih Yunho. Pria itu tidak bisa berbuat apa apa, jika ia membela Changmin, anak itu akan besar kepala, persis apa yang di katakan Jaejoong beberapa waktu lalu.

" Mami," rengeknya. Oh kedua matanya sudah berkaca kaca. Bahkan bibi mungilnya sudah bergetar.

" Maaf seharusnya aku mengembalikan lebih awal, tapi Woonbin sangat senang bermain dengan Changmin. Dan kami mencari kalian untuk memberitahu bahwa Changmin baik baik saja."

Jaejoong tetap membisu kedua matanya juga berkaca kaca, ia sudah membayangkan hak hal buruk yang terjadi pada putranya, Jaejoong sudah sangat menghawatirkan anak nakal itu, Dan ia tau ia tidak bisa marah lebih lama dari ini.

" Oh, Tidak. Tidak ada yang boleh menagis disini, ini acara bahagia." Seru Tae Hee melihat mata Jaejoong maupun changmin berkaca kaca.

" Jagoan", Yunho berlutut dan membuka kedua tanganya, Changmin pun berlari kepelukannya. "anak nakal, apa kau tau mami sangat mengkhawatirkanmu, mami berpikir sesuatu yang buruk terjadi pada jagoan mami. Sekarang minta maaf pada mami,"

Changmin yang masih menyembunyikan wajahnya di lekuk leher Yunho sedikit mengintip dan menatap ibunya. Jaejoong tersenyum dan teriakan gembira dari mulut kecil Changmin menyita seluruh perhatian para tamu yang sudah memenuhi ruangan besar itu.

Changmin mulai meronta minta diturunkan, dan namja kecil itu  melemparkan diri pada ibunya.

" Yunho sudah saatnya kau memperkenalkan Jaejoong dan Changmin pada mereka yang terus bertanya tentang siapa merpati putih manis ini," entah sejak kapan Yihan sudah di samping Jiwoon yang terkikik geli.

Oh, ingatkan Yunho untuk menghajar saudara tirinya itu jika memanggil Jaejoongnya dengan sebutan Merpati, dan ia akan membuat Yihan buta jika masih bermain mata dengan Jaejoong. Dan Yihan tertawa bahagia melihat wajah saudara tirinya merah padam , Yihan yakin Yunho berusaha keras untuk menyembunyikan amarahnya yang gagal total.

Kebahagiaan terpancar jelas di kedua mata Yunho ketika menatap Jaejoong, ia sangat bangga pada istri cantiknya, yang telah melahirkan namja tampan versi Yunho kecil untuknya. Pangeran kecil mereka Jung Changmin.

Dan ia akan dengan senang hati membagi kebahagiaanya pada semua orang, ia ingin mengatakan Jaejoong adalah miliknya, istrinya. Jadi dengan tidak sabar ia  menarik istrinya ke podium dan mengumumkan bahwa ia telah menikahi Jaejoong beberapa tahun lalu dan menghasilkan si tampan Jung Changmin.

Entah mengerti atau tidak dengan obrolan para orang dewasa namun Changmin mencoba berdiri tegak memasang wajah sangar namun gagal seperti ayahnya. " Aku berharap bisa membahagiakan kelurga kecilku, Aku ucapkan terimakasih, karena kalian berkenan untuk menghadiri pesta penyambutan keluarga kami, semoga malam ini menyenangkan."

Dan Yunho membimbing keluarganya kembali kerumunan saudara saudara tirinya, bahkan ahra masih disana dengan Shiratori yang sama terkejutnya dengan pengumuman yang pria itu katakan.

Shiratori sempat berpikir kenapa Yunho tidak menanggapi Ahra ketika kembali dari Korea beberapa tahun silam, bahkan pria itu tidak nampak terkejut atau kecewa saat Ahra mengumumkan tentang pertunangan mereka namun gagal pada akhirnya.

Kini ia mengerti jadi Jaejoonglah alasanya, namja cantik yang sangat menawan itu telah menaklukan Jung Yunho dalam perjalanan pria itu ke korea dan dalam waktu yang cukup singkat. Semua orang terkejut, semua gosip yang melibatkan tentang pangeran Alexandrov yang pergi berkeliling dunia karena patah hati tersangkal sudah. Jadi kenyataanya adalah Jung Yunho sudah menikah dan menyembunyikan pernikahan mereka selama ini, pantas saja pria itu selalu mengabaikan semua gosip yang beredar.

Diantara bisik bisik yang terdengar tidak elak nama Ahra di sebut sebut. Wanita itu berdiri disana dengan wajah nyaris pucat, bagaimana Yunho bisa memperlakukanya seperti itu. Wanita itu berjalan keluar diikuti Subaru, namja itu bahkan masih berharao Ahra mau menikah denganya tidak peduli wanita itu menyukainya atau tidak, ia akan membuat Ahra kembali menyukainya.

" Kau lihat, aku sudah membalas perbuatanya, mereka sudah tidak menganggapmu laki laki pengecut yang kabur berkeliling dunia karena patah hati."  ucap Jaejoong bangga.

Yunho menyerigai dan berkata. "Seharusnya tadi aku juga mengatakan bahwa kau namja keras kepala yang ada di korea, setidaknya mereka akan berpikir aku hebat sudah menaklukan Kim Jaejoong St. John." Dan mata Yunho mengatakan ia bangga melakukan itu.

" Dan aku juga bangga telah menaklukan Pangeran Alexandrov yang dingin dan berbahaya."

" Aku lebih berbahaya jika di dalam kamar," serigai jail Yunho semakin melebar.

" Aku tahu, itu sebabnya aku menyukaimu, karena kau hebat di ranjang."

Saudara saudara Yunho memutar bola mata malas, lihatlah Pangeran Aelxandrov itu. " Jadi kau masih jatuh cinta , aku tidak masalah cepalah buatkan Changmin adik." ucap Yihan. " Sepertinya kalian tidak keberatan jika aku menculik Changmin dalam beberapa malam. " Iapun menatap Changmin. " Anak nakal kita akan berpetualang." tambahnya pada Changmin.

Changmin yang dalam gendongan Jaejoong berucap " Mencari gadis cantik,yang berdada besar lebih besar dari mami?" Ucapan polos Changmin membuat pelototan di arahkan ke Yihan, lihatlah apa yang pria itu ajarkan pada keponakanya.

" Jung Yihan. " geram Yunho.
" Mulai saat ini kau tidak di perbolehkan bertemu Changmin." ucap Jaejoong mutlak, memeluk Changmin lebih erat sampai anak itu meringis.



             FIN

Jumat, 17 April 2015

SECRET FIRE chap 14


Title : BERSEMI DI NEGERI SAKURA

Author    : Sulis Kim
Main Cash  : Kim Jaejoong
                     Jung Yunho
                       DBXQ
                   Suju and Other
                    Rate : M 18+
          Genre : Historical Romance

            WARNNING

REMAKE novel johanna lindsay ber judul secret fire * bersemi di rusia* dengan beberapa bagian Yang di ubah untuk menyesuaikan cerita.

Author cinta damai jika merasa tidak suka jangan baca . Jika anda membaca tolong tinggalkan jejak * swing *

YAOI. ff yaoi pertama saya . Biarpun remake mohon untuk tidak di cela dan butuh masukan jika memang menurut chinggu perlu.
감사함니다.

Happy reading ...

" Bagaimana?" tuntut Yunho.

Kangin memasuki ruang makan dengan keengganan besar. " Dia tidak mau menerima bunganya, Mr Lord, juga surat anda. Keduanya dikembalikan kepada saya, suratnya tidakk di buka."

Yunho meninju meja, menumpahkan anggur. Seorang pelayan menangkap lambu meja sebelum benda itu terjatuh, pecah di lantai.

" Kenapa dia tidak mau menemuiku? Kesalahan apa yang sudah ku lakukan? Aku sudah memintanya menikah denganku, bukan?"

Kangin tidak berkata apa apa, ia tau pertanyaan itu tidak ditunjukan padanya. Ia sudah mendengar pertanyaan itu ratusan kali sebelumnya.

" Mungkin kalau anda ___" Kangin tidak melanjutkan lebih jauh, pelayan di pintu menyeka. " Pangeran …"

Pria itu juga tidak sempat melanjutkan kata katanya, ketika nenek Yunho mendorongnya kesamping dan memasuki ruangan.

Kenyayaan neneknya terlihat gelisah jelas terlihat, walaupun Yunho yang cepat cepat berdiri tidak menyadarinya karena terkejut.

" Halmeoni!"

" Jangan berani berani memanggilku Halmeoni, dasar pria ceroboh tak bertanggung jawab!" tukas Chaerin ketus sambil memukul lengan yang mencoba merangkulnya.

" Apa kau tahu betapa malunya aku karena ditanya apa yang sedang kau lakukan di Seoul begitu cepat padahal kau baru kesini beberapa bulan yang lalu, dan aku tidak tahu kau ada disini sekarang ataupun waktu itu? Apa maksudmu datang ke Korea dan tidak mengunjungiku di Busan,?  bahkan tidak memberitahuku kau berada di Seoul? Bukan hanya satu kali tapi dua kali?"

Yunho tampak malu " Aku berutang maaf padamu."

" Kau berutang lebih dari itu," balas neneknya. " Kau berutang penjelasan padaku."

" Tentu saja, tapi duduklah dulu. Minumlah segelas anggur bersamaku."

" Aku akan duduk, tapi tidak mau anggur."

Dan Chaerin pun duduk, langsung mengetuk ngetuk meja dengan jemarinya, menunggu, marah, tidak sabar.

Yunho mengibaskan tanganya menyuruh pelayan pelayanya pergi dan kembali ketempat duduknya. Apa yang bisa ia katakan pada neneknya? Yang pasti bukan kebenaran.

" Aku datang mengunjungimu, Halmeoni," Yunho mulai menjelaskan.

" Terlambat tiga minggu?"

Jadi neneknya sudah tahu Yunho ada disini selama itu. Ia hanya bertanya tanya apa lagi yang diketahui neneknya ketika neneknya menambahkan.

" Aku menulis surat juga menelfonmu sebulan yang lalu, dan aku yakin kau belum mengetahuinya, jadi bukan itu kau ada disini, dan kenapa aku harus menjadi orang terakhir yang tau?"

"Kau mencariku, apakah ada yang penting?"

"Kau tidak akan mengelak dariku, anak nakal. Aku ingin tahu apa yang kau rencanakan. Ya, Tuhan, kau membuat putraku sendiri merahasiakan sesuatu dariku. Dia pasti tahu kau ada disini, kalau tidak kau tidak akan menggunakan rumah ini."

Yunho mendesah. " Kau tidak bolek menyalahkan paman. Aku memintanya tidak berkata apa apa saat ini, karena aku tahu kau akan memaksaku mengunjungimu di Busan. Tapi yang sedang ku lakukan itu terlalu penting … aku harus tetap di Seoul, Halmeoni. Aku harus memastikan dia tidak menghilang lagi."

" Nugu?"

" Seseorang yang ingin ku nikahi."

Alis Chaerin terangkat. " Oh, seingatku kau bilang kau akan menikah akhir tahun lalu. Ketika hal itu tidak terjadi dan aku menerima berita tentang saudara tirimu yang bangkit dari kematian, kukira kau tidak lagi terburu buru mengikat dirimu dengan seorang namja."

"Itu sebelum aku bertemu Jaejoong."

" Bukan kim Jaejoong, St, John?" Chaerin terkesiap.
" Bagaimana kau bisa tahu? Tidak, kau bahkan tahu dia namja, jangan katakan padaku. Kurasa aku sudah membuat diriku terlihat bodoh. Karena aku sering di tolak di pintu rumahnya, seluruh kota pasti sudah tahu. Dan mengejarnya di salah satu Mall, terutama ketika dia berhasil mengelak dariku."

" Baiklah, sepertinya kau mengikuti, Jaejoong sampai ke sini, dan itulah sebabnya kau ada disini sekarang. Tapi bagaimana dengan awal tahun
Ini?"

" Saat itu aku juga sedang mencari Jaejoong, aku pikir dia sudah kembali kesini, tapi aku salah. Yang kudapatkan saat itu adalah dia sedang berkeliling eropa, tidak ada yang tau dimana tepatnya dia berada."

" Setidaknya kau bisa datang mengunjungiku satu atau dua hari, selama kau disini."

" Maaf, aku minta maaf, Halmeoni. Saat itu aku cukup resah karena tidak menemukan Jaejoong dimanapun, dan aku tidak tahu harus kemana lagi mencarinya."

" Kau putus asa." Chaerin sekarang tersenyum untuk pertama kalinya. "Kalau aku tidak tahu lebih baik, kupikir kau sedang jatuh cinta."

Yunho mengerutkan kening. " Apakah itu tidak mungkin?"

" Tidak, tentu mungkin. Hanya saja aku pernah bertemu dengan Kim Jaejoong, dia namja bertubuh mungil, tapi dia kuat. Kau tidak akan melihatnya melompat seperti perintahmu, anakku. Dia pria mandiri, yang sudah melakukan segalanya seorang diri, dan dia bukan tipe seperti wanita yang kau inginkan, penurut?"

" Kau tidak mengatakan sesuatu yang belum ku ketahui?"

" Begitu ya?" Chaerin terkekeh.
Ia bisa saja memberi tahu Yunho satu hal, namun ia tidak akan melakukanya. Tidak ada ruginya membuatnya sedikit kuwalahan, dan membuat ia mengerahkan sedikit usaha untuk mendapatkan apa yang diinginkanya kali ini, dan kalau si kecil Jaejoong menyulitkanya itu akan kebih baik,  tapi tidak akan diam saja jika Yunho gagal, ia menginginkan cicit pertamanya

" Kau bilang Jaejoong tidak mau menemuimu, Kenapa"?

" Kuharap aku tahu, ketika kami terakhir kali bersama, aku marah, tetapi kami memang sering bertengkar, jadi itu tidak aneh. Dia baru saja ...well, bukan apa apa. Masalahnya, dia pergi, menghilang, dan sekarang setelah akhirnya berhasil menemukanya lagi, dia menolak bicara denganku. Banyak hal yang ingin ku perbaiki tentu saja, tetapi ia tidak mau memberiku kesempatan, seolah olah dia takut bertemu denganku."

" Entah dia takut atau tidak, itu tidak ada hubunganya. Kalau dialah yang kau inginkan ,anakku, kau hanya perlu mencari cara, bukan? Dan kukira aku akan tinggal di seoul untuk sementara mengawasi kemajuanmu. Kau tentu saja harus mengingat untuk mengundangku ke pernikahanmu, kalau memang ada pernikahan."

Yunho tetap di tempat ketika neneknya pergi, suasana hati neneknya membaik, suasana hatinya memburuk. Kalau saja Yunho tidak merasa bahwa neneknya mengetahui sesuatu yang tidak diketahuinya.
 

        ~~~*~~~


" Hyung?, kau sudah bangun?" Junsu mengetuk pintu, lalu terkejut ketika pintu terbuka begitu cepat. " Oh, ternyata kau sudah bangun."

" Tentu saja sudah. Pertanyaanya adalah, kenapa kau bisa bangun sepagi ini?"

"Kukira kita bisa keluar bersama pagi ini, jalan jalan atau berbelanja, kau tahu, seperti yang kita lakukan bersama dulu."

Jaejoong berjalan melewati koridor, adiknya di sampingnya. " Itu pasti menyenangkan, tapi aku benar benar . . ."

" Oh, ayolah, Jongie. Aku hanya punya dua hari untuk berkunjung sementara Yochun pergi untuk urusan bisnis. Kenyataanya, ia merasa konyol karena aku menghabiskan akhir pekan disini sementara rumah kami beberapa blok dari sini."

" Begitulah," Jaejoong membenarkan tersenyum.

" Omong kosong. Aku hanya ingin semuanya seperti masa lalu, sebelum kau . . .Maksudku…"

"Sebelum apa?"
"Oh, kau tahu."

" Kim Junsu. "Jaejoong memperingatkan.

" Oh, sebelum kau menikah, atau sesuatu seperti itu, dan . . ."

" Aku tidak akan menikah, Sui_e , dan apa yang membuatmu berpikir aku akan menikah?"

" Jangan begitu cepat marah. Apa yang harus kupikirkan? Itu bukan rahasia, kau tahu, apa yang sedang terjadi disini. Pelayan pelayanmu jelas senang, kisahnya sangat romantis, dan mereka tentu saja menceritakan semuanya kepada pelayanku. Ada pria paling tamban didunia yang mengetuk pintumu dua hari sekali, mengirimu bunga, hadiah, dan surat . . ."

"Siapa bilang dia tampan?"

Junsu tertawa. " Yang benar saja, Jongie, kenapa kau begitu denfensif? Aku sudah pernah melihatnya, tentu saja. Seorang pangeran Jepang sudah sewajarnya memancing rasa penasaran. "

Mereka sudah tiba di ruang makan, tempat ayah mereka Hyunjoon sedang sarapan, tetapi Junsu tidak mengakhiri obrolan. " Seseorang menunjukan kepadaku beberapa minggu lalu, dan aku tidak percaya kau benar benar mengenalnya. Lalu ku dengar berapa keras usahanya menemuimu. Menegangkan sekali! Bagaimana kau bisa bertemu denganya? Ayolah Jaejongie, kau harus menceritakan semuanya padaku."

Jaejoong duduk mengabaikan tatapan yang dilemparkan ayahnya kepadanya. Ayahnya juga sedang menunggu jawabannya, tetapi Jaejoong tetap ingin merahasiakan kebenaranya.

Tak ada yang bisa ku ceritakan," kata Jaejoong acuh tak acuh. " Aku hanya bertemu denganya di Jepang."

"Tak ada yang bisa diceritakan?" Kim Hyunjoon mendengus. " Dia orangnya, bukan?"

"Bukan, dia bukan orangnya," Jaejoong mengulangi setelah menjawab pertanyaan yang sama enam kali selama tiga minggu sekali.

"Maksudmu, ayah ,Changmin?" Junsu terkesiap.

"Oh, diamlah, Junsu. Tidak ada bedanya siapa dia. Aku tidak ingin berhubungan denganya."

" Tapi kenapa?"

Jaejoong berdiri melemparkan tatapan kepada adiknya, lalu ayahnya, yang menyatakan dia sudah muak " Aku akan mengajak Changmin ketaman, saat kembali aku tidak mau mendengar nama pria itu disebut sebut lagi. Aku sudah cukup dewasa untuk membuat keputusan sendiri, dan aku sudah membuat keputusan bahwa aku tidak akan menikah lagi. Titik."

Ketika Jaejoong pergi, Junsu melirik ayahnya, raut wajahnya menyatakan ia juga tertekan. " Menurutmu apa yang sudah dibuat pria itu sampai dia begiti marah?"

" Marah? Menurutmu hanya itu?"

" Tentu saja? Kenapa lagi bahkan dia tidak mau berbicara tentang laki laki itu? Apakah kau sudah bicara pada pria itu, Daddy?"

" Aku tidak pernah ada ketika dia datang." Hkyunjoon mengakui." Kurasa aku harus mengunjunginya kalau dia ayah Changmin..."

" Oh, tidak,  Daddy tidak akan memaksa mereka menikah bukan? Hyung tidak akan pernah memaafkanmu, kecuali dia sendiri yang berbaikan dengan pria itu. Tapi bagaimana dia bisa melakukanya kalau dia tidak mau menemui pria itu?"


             ~~~*~~~

Jaejoong berjalan dipinggiran pohon, tetap di bawah keteduhan. Ia juga mengawasi Changmin yang bergerak gerak di selimutnya di bawah matahari, walaupun pengasuhnya Hyuna, duduk di sampingnya.

Saat itu pertengahan bulan september, Cuaca sudah mulai dingin dan Jaejoong tidak nyaman berada di luar terlalu lama. Changmin, di sisi lain, senang berada di luar dan suka melihat daun daun musim gugur melayang melewatinya.

Pada umur lima bulan, Changmin semakin akhtif dan butuh pengawasan. Kesenanganya sekarang setelah ia tahu, adalah bergoyang maju mundur di atas kaki dan tanganya. Tahap berikutnya menurut Hyuna, adalah merangkak. Jaejoong berharap ia tahu lebih banyak tentang bayinya. Tapi ia belajar, merasa senang dengan setiap tahap pembelajaran Changmin.


" Jaejoong?"

Jaejoong berputar, langsung merasa marah, matanya berkilat kilat, tetapi setelah satu kali pandang ke arah Yunho, semua amarahnya tersangkut di tenggorokannya.

Itu ada bagusnya, ia tidak mau pria itu masih bisa membangkitkan emosinya. Yunho menatapnya, tidak melirik ke arah Changmin. Jaejoong tidak perlu takut, belum.

Jaejoong merasa bangga beberapa saat kemudian ketika suaranya terdengar begitu tenang. " Tentunya ini bukan kebetulan."

" Aku tidak menyerahkan hal hal seperti ini pada kebetulan."

" Tidak, kau tidak akan melakukanya. Baiklah, Yunho, karena sepertinya kau tidak mau menyerah dan pulang, katakan padaku apa yang begitu penting sampai kau harus …"

" Aku mencintaimu."

Oh,Tuhan, lagi lagi khayalan, sangat jelas, di siang hari bolong. Jaejoong harus duduk segera, tapi tidak ada bangku, ( dia tidak boleh pingsan di kaki Yunho ), batang pohon terdekat sudah cukup, dan Jaejoong berjalan kesana dengan terhuyung, merada bersyukur bersandar disana. Mungkin Yunho akan memudar, seperti khayalan pada umunya.

" Kau mendengarku, Boo."
" Kau tidak."
" Tidak, apa?"
" Mencintaiku."

" Lagi lagi keraguan. " suara Yunho berubah tajam, tetapi Jaejoong tidak mendongak menatapnya. " Pertama tama nenekku, sekarang kau. Demi tuhan, kenapa sulit sekali percaya, bahwa aku bisa …"

" Kau sudah bertemu dengan nenekmu?"... Oh, itu pertanyaan bodoh. Tentu saja kau sudah bertemu denganya. Apakah dia memberitahumu dia baru baru ini datang mengunjungiku?"

Yunho menatap Jaejoong dengan tajam, namja itu tidak mau menatapnya, hanya melihat dari satu sisi ke sisi lain, ke arah manapun selain pada Yunho.

Ada apa denganya? Yunho sudah tidak melihatnya hampir satu tahun. Satu tahun dia harus menahan desakan untuk memeluk Jaejoong. Dan Jaejoong, namja itu malah mengubah topik pembicaraan ketika Yunho mencoba menyatakan Cintanya. Jaejoong tidak peduli. Ia benar benar tidak peduli. Rasanya seperti pisau yang menghujamnya, tetapi alih alih darah, amarahlah yang mengalir keluar.

" Baiklah, Jaejoongi, kita akan membicarakan nenekku," kata Yunho dingin. " Ya dia bilang dia sudah bertemu denganmu. Dia juga berpikir kita tidak akan cocok seperti yang kau kira."

" Ya, kita memang tidak cocok."

" Kau tahu benar kita cocok!"

" Kau tidak perlu berteriak!" Jaejoong mendelik kearahnya." Apakah aku berteriak kepadamu? Tidak, aku tidak melakukanya, walaupun aku punya alasan untuk melakukanya,Jung. Kau memperalatku untuk membuat Ahra cemburu, Kau tidak pernah pergi ke Austria, kau berada di Yokohama selama itu, bermuram durja karena sakit hati setelah sang putri memilih pria lain bukanya kau."

"Dimana kau mendengar omong kosong itu?" tuntut Yunho marah. " Memang benar aku tidak pergi ke Austria. Itu hanya alasan yang kubutuhkan agar jau tidak minta naik kapal ke Korea, aku beralasan musim dingin kapal tidak beroperasi. Tapi aku berbohong karena aku tidak tahan melihatmu meninggalkanku. Demi Tuhan!" ia meledak. " Kau kira aku akan berada jauh darimu yang tinggal  di Kyoto selama itu tanpa alasan lain? Aku membutuhkan alasan itu untuk mencegahmu pergi dari hidupku. Apa salahnya dengan itu?"

" Tidak ada, kalau itu memang kenyataanya, tapi aku tidak percaya sepatah katapun," sahut Jaejoong keras kepala. " Kau hanya ingin aku dekat denganmu hanya untuk membuat Ahra cemburu. Dialah yang kau cintai, tetapi kau akan tetap menikahiku. Well, aku tidak butuh tindakan hebat seperti itu dari siapapun juga, terimakasih. Dan asal kau tahu, sia sia saja kalau kau menikah denganku, aku namja dan tidak bisa memberikanmu keturunan. Aku pulang kerumah tanpa scandal sedikitpun , jadi aku tidak ingin kau mengorbankan dirimu sendiri demi aku. Kalau ada orang yang membicarakan diriku , itu karena simpati. Kau tahu, berita yang tersebar adalah aku kawin lari pada saat yang sama dengan adikku, yang membuat ayahku terkejut. Namun sementara Junsu punya suami yang ditunjukkan, aku kehilangan suamiku."

" Janda, atau duda, dan kenapa mereka tidak begitu kaget dengan keluargamu yang menikahi sesama pria.!"

" aku tidak mendukung anggapan itu, masyarakat sangat bijak untuk tidak ikut campur urusan kehidupanku, mau dengan namja ataupun yeoja, aku tidak peduli dengan kebangsawanan dan aku menjalani hidup dengan kegembiraan, tidak ada rasa tanggung jawab atau malu jika aku menikahi pria dan aku di pihak istri, asal itu bukan denganmu. Tapi itu tidak ada hubunganya. Masalahnya adalah reputasiku masih utuh. Kau buang buang waktu mencariku, Yunho, kalau menurutmu pernikahan akan menghaous rasa bersalahmu."

" Itukah yang kau pikirkan? Bahwa aku datang ke korea karena perasaan bersalah, bukan satu kali , tapi dua kali?"

" Dua kali?"

" Ya, dua kali. Ketika aku tidak menemukanmu di Tokyo, aku terpaksa temanmu si duta besar sudah mengeluarkanmu dari Jepang. Aku sudah siap akan menghajar pria itu karena bersikeras tidak bertemu lagi denganmu setelah malam di pesta itu."

" Oh, kau tidak melakukanya!" Jaejoong terkesiap.

" Tidak aku melampiaskan amarahku di tempat lain, pada orang yang pantas mendapatkanya."

Jaejoong menggigil mrndengar seberkas kepuasan yang terlihat di mata Yunho sejenak, merasa kasihan kepada pria yang bertanggung jawab untuk itu. " Apakah orang itu masih hidup?" tanya Jaejoong lirih.

Yunho tertawa masam. " Ya, sayang sekali. Dan ku kira pria itu akan menikahi Ahra, kau lihat wanita itu mengira kita berkelahi gara gara dirinya, dasar wanita bodoh. Dan ketika aku tidak datang menyatakan diri sebagai pemenang, dia pergi menghibur pria yang kalah. Tapi sepanjang pengetahuanku dia menyambut baik orang itu, Jaejoong. Aku tidak mencintainya. Aku tidak pernah mencintainya. Sebenarnya aku sangat lega  dia memelih Lysenco dan bukan aku. Pria itu tidak percaya tentu saja, karena dia jatuh cinta pada Ahra. Si idiot itu menyalahkanku ketika Ahra memutuskanya dan berpikir kalau dia menyingkitkanku, dia bisa memenangkan Ahra kembali."

Jaejoong tiba tiba memucat. " Apa maksudmu menyingkirkanmu?"

" Khawatir, mungil? Kau pasti mengerti kalau aku marasa itu sulit . . ."

" Yunho, apa yang di lakukanya?"

Yunho mengangkat bahu." Dialah yang bartanggung jawab membuatku tersesat di badai salju, yang membuatku terbaring di tempat tidur selama satu setengah bulan. Selama itu kalau boleh ku tambahkan, kau dengan enteng keluar negri."

" Hanya itu?" tanya Jaejoon lega. " Dia tidak melukaimu atau appapun?" melihat Yunho yang memberengut Jaejoong tersenyum lemah.
" Maaf , aku aku tidak menganggap enteng … Satu setengah bulan? Itu pasti demam yang mengerikan?" kerutan di wajah Yunho semakin parah. " Well, kalau kau harus tahu, aku tidak keluar dari Jepang, tidak sampai musim panas ini."

" Yang benar saja. Aku menyuruh orang mencarimu kemana mana, Jaejoong. Aku menyuruh orang mengawasi kedutaan, menguntit duta besar, menyuap pelayan pelayanya …"

" Tapi dia mengatakan yang sebenarnya ,Yunho. Dia tidak bertemu denganku. Oh, aku memang pergi ke kedutaan ketika meninggalkan rumahmu, tapi sebelum bertemu dengan duta besar, aku bertemu dengan, Haibara dan dia orang yang sangat menyenangkan dan mudah di ajak bicara. Ketika aku menyebutkan aku butuh tempat tinggal untuk sementara, dia sangat murah hati, dan membuak pintu rumahnya untukku."

" Dan, kau pikir kangin begitu ceroboh sampai kau pikir kangin tidak menyuruh orang mengikutimu, bukan?"

" Malah sebaliknya," balas Jaejoong.

" Karena itulah Haibara menyarankan. Aku keluar lewat jalan yang sama ketika aku masuk, tanpa sepengetahuan orang orang, dan menghabiskan sisa musim dingin dengan keluarga Haibara,dan …"

" Kenapa kau merasa perlu bersembunyi dariku? Apakah kau tahu aku hampir gila karena mencemaskanmu karena pergi dalam cuaca seperti itu?"

"Aku tidak bersembunyi," protes Jaejoong. Tapi buru buru mengoreksi," Wel, awalnya aku memang bersembunyi. Aku …" Tidak, ia tidak akan mengakui dirinya takut bertemu Yunho lagi, semua tekatnya yang tegas akan goyah, apa lagi kondisinya pasti terlihat jelas. " Anggap saja aku masih marah karena…karena …"

" Ya, karena aku memperalatmu,? karena aku berbohong padamu? Karena aku jatuh cinta pada orang lain?"

Ejekan tajam dalam suara Yunho membuat Jaejoong malu. Rona panas menjalari pipi Jaejoong. Apakah ia benar benar mempercayai semua itu? Apakah ia percaya yunho ada disini karena mencintainya?

Tidak sekalipun Jaejoong berpikir Yunho mencintainya, ia sudah menyingkirkan kemungkinan itu ke dalam dunia khayalan. Bisakah impian seperti itu menjadi kenyataan? Tetapi ia melupakan reaksi Yunho ketika tahu identitas Jaejoong.

"Kau tidak mau menikah denganku, Yunho. Kau marah ketika berpikir kau terpaksa menikahiku. Kau begitu marah sampai meninggalkan kota. Kau tahu apa yang ku rasakan?"

" Sebagai orang yang cerdas, Jongie, kadang kadang kau tidak bijaksana. Aku marah pada diriku sendiri, bukan kau. Malam itu sebelum aku tahu dirimu yang sebenarnya , aku sudah memberi tahu Subaru aku sudah memutuskan tidak akan menikahi siapapun kalau aku tidak bisa menikah denganmu. Dan ironisnya, kurang dari sebulan kemudian, Jiwoon pulang membawa istri dan seorang anak laki laki."

" Tapi ku kira …"

" Kami semua berpikir begitu. Tapi dia belum tewas. Dan kepulanganya membebaskanku dari kewajiban kewajibanku. Aku bisa saja menikah denganmu saat itu, Jae, tidak peduli siapa diri, tidak peduli kau namja. Tapi malam itu, di pesta itu, yang bisa kupikirkan adalah betapa aku sudah bersalah padamu dan bagaimana kau tidak mungkin memaafkanku. Aku merasa ngeri dengan sikapku sendiri, terutama sejak aku melihat kenyataan dalam lukisan potret dirimu buatan Jessica, tapi aku dengan keras kepala mengabaikannya supaya aku bisa tetap mengendalikanmu. Mengakui siapa dirimu berarti mengambil resiko kehilagan dirimu, dan aku tidak bisa menanggungnya. Walaupun pada akhirnya aku kehilanganmu."

" Yunho ..."

" Tuan muda, pipi Changmin sudah memerah," Hyuna menyela. " Apakah anda ingin saya memindahkannya ke tempat yang lebih sejuk, atau apakah saya harus membawanya pulang sekarang?"

Jaejoong menggerang dalam hati, melotot ke arah wanita itu, ia ingin menyekiknya karena membawa Changmin begitu dekat dengan ayahnya. Tetapi Yunho hanya memandang si pengasuh dan anak itu sekilas. Ia menatap Jaejoong dengan tatapan bertanya, seolah olah menganggap …apa. Jaejoong tidak tahu. Tetapi , sebelum Jaejoong bisa mengatakan sesuatu, menjawab si pengasuh, berbohong kepada Yunho, Yunho pasti sudah memikirkan pertanyaan si pengasuh dan menebaknya sendiri.

Yunho berputar cepat, menatap Changmin tajam, membuat Jaejoong lemah. Lalu ia mengambil anak itu dari pengasuhnya, menatap anak itu, mengamati setiap detail kecil disana, dan Changmin diam diam balas menarapnya, seperti biasa merasa takjub dengan sesuatu yang baru. Dan ayahnya jelas sesuatu yang baru baginya.

" Aku minta maaf, Yunho," kata Jaejoong dengan suara lirih. " Aku hendak memberitahumu ketika aku menemuimu di Yokohama. Sungguh. Tapi setelah yang kau lakukan pada hari pertama itu, aku memutuskan untuk menunggu, laku …setelah pesta itu, aku terlalu kesal, marah, dan ...dan terluka, aku ingin menikah denganmu, tapi tidak kalau kau merasa karena terpaksa menikah denganku. Setelah beberapa bulan berlalu dan kau tidak mencariku, aku sering keluar, bahkan melewati rumahmu. Tapi kurasa kau sudah meninggalkan kota."

Yunho mendongak saat itu untuk mengingatkan. " Mencarimu."

" Sekarang aku tahu. Tapi saat itu, aku menyerah, memutuskan mungkin sebaiknya kita tidak bertemu lagi. Jadi aku pulang begitu Changmin sudah cukup besar untuk bepergian. Kau berhak tau tentang dirinya. Mungkin kau merasa aneh dan jijik karena aku namja yang bisa mengandung. Aku tidak menyangkal itu. Aku juga berniat untuk memberitahumu, tapi bukan sekarang. Dan kau muncul disini begitu cepat. Aku baru saja tiba dan pulang kesini selama sebulan."

" Aku tidak percaya saat kau mengatakan tentang anak anak, dan aku tidak mengira kau memiliki rahim. Ketika aku tidak menemukanmu disini, aku kembali ke Jepang. Dan ketika aku tidak menemukanmu disana aku kembali kesini. Aku tidak bisa menemukan cara lain. Tapi kau punya banyak waktu untuk memberitahuku sejak aku tiba. Aku mengunjungimu setiap hari."

" Aku tahu, tapi…aku takut. "

"Takut apa? Takut aku akan merampasnya darimu? Takut aku marah? Jaejoongie, aku sangat bahagia. Jangan pernah berpikir aku jijik dan menggapmu aneh, itu tidak akan terjadi dalam hidupmu. Dia.. Dia luar biasa! Bayi paling cantik yang pernah aku lihat."

" Aku tahu."

Jaejoong tidak berhenti tersenyum melihat rasa bangga di mata Yunho selagi pria itu menempelkan pipinya di pipi Changmin dan memeluk anak itu sebelum menyerahkan kembali ke tangan si pengasuh. " Bawa dia pulang, " Katanya pada wanita itu. " Anak buahku akan mendampingimu, dan majikanmu akan segera menyusul."

Dengan satu lambaian tangan Yunho, Jaejoong melihat mobil yang di parkir di belakang mobilnya sendiri dan Kangin turun dari mobil untuk menjemput pengasuh Changmin.

Kangin yang baik. Selalu ada disana kalau dibutuhkan, selalu membantu. Kalau bukan karena pri itu, Jaejoong tidak akan pernah bertemu dengan Yunho, tidak akan pernah melahirkan Changmin. Dan berpikir betapa ia pernah membenci pria itu …

Yunho tidak berkata  apa apa sampai kereta pergi, baru berbalik kepada Jaejoong, matanya menunjukkan semua kelembutan yang ada dalam dirinya. " Aku mencintaimu, Boo. Menikahlah denganku."

" Aku…"

Jari Yunho menyentuh bibir Jaejoong. " Sebelum kau berkata apa apa, ingatlah , mungil. Kalau aku tidak suka jawabanmu, kau mungkin akan mendapati dirimu diculik lagi, kau dan anak itu, dan kalian tidak mungkin kabur dariku kali ini."

" Kau berjanji?"

Yunho berteriak dan menggendong Jaejoong, memutarnya satu kali sebelum membiarkan Jaejoong meluncur menuruni tubuhnya dan menempelkan mulutnya ke mulut Jaejoong. Semua kesepian menyakitkan tercurah disana. Dan seperti biasa tidak ada tempat tidur di dekat sana



            ~TBC~

next, endding.