Sabtu, 13 Juni 2015

Black Pearl chap 5 (Remake) YunJae


Title        : Black Pearl
Author    : Sulis Kim
Main C,  : Kim Jaejoong
                  Jung Yunho
                      Other

Rate    : 21+
Ganre  :Romance, Fiction.

            WARNING

Remake novel Christina Dodd. Title The Barefoot Princess. YAOI. Boy x boy. Dengan berbagai perubahan untuk keperluan cerita. Di ganti dengan Cast fav author. ^.^ jika tidak suka mohon jangan baca, demi kenyamanan bersama. Author cinta damai.

Apabila ada kesalahan typo dan lainya mohon di maklumi. Menerima kritik dan saran. No Bash. ^.^
 

Happy reading ...!

Yunho mengamati pergerakan samar dari dada Jaejoong dengan kebutuhan yang membuat kemaluanya membengkak di kancing celananya.

Seseorang pria yang penuh pendapat, kasar, dengan pakaian yang buruk membuat kemaluanya berdiri baru dirasakanya seumur hidup sementara pria itu, tampaknya tidak memiliki perasaan apa pun terhadapnya, menjelek jelekan keadaanya. Situasi ini tidak akan di tanggungnya lebih lama. "Dimana Bibi Yoori?"

"Dia sedang tidur siang."

"Bagus, bagus. "Yunho menempatkan kakinya di lantai. Perlahan lahan ia berdiri, bangkit , sehingga tingginya yang penuh dekat denganya, membiarkan Jaejoong untuk merasakan panas tubuhnya. Kemarahanya.

Mata Jaejoong melebar.
Yunho menyergap.
Jaejoong melompat menjauh.

Terlambat. Yunho menangkapnya di pinggang. Kemenangan berkorbar dalam dirinya.

Rantai tertarik sampai panjang sepenuhnya. Belenggu menekan pergelangan kakinya. Yunho jatuh. Terputar. Mendarat di atas Jaejoong di tempat tidur.

Di bawahnya nafas Jaejoong mengembus.

Mereka berada di pinggir termpat tidur salah satu kaki Jaejoong berada di lantai, satunya lagi di tempat tidur, dan yunho melirik kaki jenjang Jaejoong berbalut jins kumal ketat. Kedua kaki Yunho di berada di lantai dan cukup banyak energi menyala di dalam dirinya untuk memulai sebuah api.

Untuk pertama kalinya dalam waktu enam hari, tidak, enam bulan mungkin enam tahun, Yunho benar benar hidup. Ia bergumul dengan Jaejoong, mengangkat seluruh tubuh Jaejoong ke kasur, menggunakan berat badanya untuk menahan kaki Jaejoong yang menendang nendang dan sikunya untuk menahan tinju kuat ke arahnya kepalanya yang dilayangkanJaejoong dengan tangan kanan.

Ketika Yunho memiliki Jaejoong di tempat dimana ia menginginkanya, dengan kepala di atas bantal dan tubuh berlekuk yang lembut di bawahnya. Sial, benarkan Jaejoong seorang pria, Ia merangkuk kepala Jaejoong dengan tanganya. Dan mencium pria itu.

Persetan, meskipun Jaejoong pria, ini adalah yang ingin dilakukan Yunho selama enam hati. Menahan Jaejoong di bawahnya, menguasai perjuanganya dan menciumnya.

Yunho menekan binirnya ke bibir Jaejoong. Jaejoong mengigit Yunho, gigitan keras yang merobek kulit dan menimbulkan rasa darah di mulutnya.

Mengangkat kepalanya, Yunho tersenyum. Sebuah senyuman penuh, penuh dendam yang membuat mata Jaejoong melebar. Kemudian menyipit.

"Lepaskan, kau..."Jaejoong berayun cukup keras dengan ketepatan yang cukup untuk lolos dari penjagaan Yunho dan memberikan tamparan keras ke pipi Yunho.

Kepala Yunho berpaling karena tamparan itu. Yunho menggeleng gelengkan kepalanya, meregangkan jarinya. "Persetan, itu sakit!"

Jaejoong berbicara seperti seorang pria yang terhormat. Tetapi mengutuk seperti pelaut.

Siapakah pria itu?

Jaejoong tidak mau mengatakan. Akan tetapi sebelum urusan ini berakhir Yunho akan tahu.

Yunho menggeser tubuh mereka, membawa seluruh tubuh Jaejoong keatas tempat tidur, memastikan berat badanya masih mencebak Jaejoong.

Jaejoong tentu saja melawan Yunho. Kemarahan yang sama yang Yunho rasakan karena dikurung, juga dirasakan Jaejoong karena dikuasainya. Setetes darah dari bibirnya menetes ke wajah Jaejoong. Jaejoong memalingkan kepalanya kesisi seolah olah ia dapat menghindari hasil perbuatanya.

"Terlambat untuk itu." kata Yunho terhadap Jaejoong, Jaejoong tampak memahami apa yang Yunho maksud.

Akan tetapi Jaejoong tidak dapat mempercayainya, dan Jaejoong tidak menyerah. Jaejoong menggunakan kukunya untuk melawan, menggores wajah Yunho dengan cakaran jahat yang di tunjukan untuk matanya.

Yunho menangkap tangan Jaejoong. Berhenti tersenyum. Melihat kebawah kepandangan liar Jaejoong dan berkata. "Kau tepat seperti pria yang aku harapkan tidak akan pernah ku temukan ...hidup, tidak takut, penuh tekat ...tidak dapat dijinakkan." Yunho menciumnya lagi, tekanan keras terhadap bibir Jaejoong. "Lebih banyak kesulitan dari pada yang pernah ku bayangkan."


           ~*~

"Terkutuklah kau." terkutuklah pria itu! Jaejoong seharusnya merasa takut terhadap mahluk yang terkutuk ini, mahluk yang pada saat bersamaan berdarah dan tersenyum, akan memperkosanya. Menyakitinya.

Jaejoong tidak merasa takut. Ia memahami kemarahan Yunho.
Sepanjang hidupnya, Jaejoong merasakan kemarahan seperti itu, marah pada nasib yang menjadikanya keturunan bangsawan , marah pada pemberontak yang menyebabkanya berpisah dengan saudaranya.

Semua kemarahan yang berkecamuk dalam diri Jaejoong melompat untuk bertemu dengan kemarahan Yunho. Mereka bertemu dan bertarung seperti dua badai yang dasyat.

Jaejoong menekan ibu jarinya dengan keras ke tenggorokan Yunho.

Dengan tarikan napas, Yunho mengangkat kepalanya. Ia menatap ke bawah kepala Jaejoong, dengan diam menuntun pria itu melepaskannya.

Akan tetapi Yunho tidak merenggut tanganya. Ia tidak menguasai Jaejoong.

Menyelipkan tangan di sekitar leher Yunho, Jaejoong menarik pria itu mendekat dan mencium sama kuatnya ketika Yunho menciumnya.

Bibir Yunho terbuka untuk bibir Jaejoong, dan Yunho merasakan marah dan frustasi, amarah dan kebutuhan. Itu adalah respons yang tidak pernah Jaejoong alami sebelumnya, berat seseorang di atas tubuhnya, dan api hasrat yang Yunho sulut memberikan kulit Jaejoong sensivitas yang membakarnya, dan membuat Yunho menggerang seolah olah ia merasakan terbakar yang sama. Puncak nipel Jaejoong menjadi kencang dan terasa sakit bergesekan dengan kain katun kemejanya, dan Jaejoong menekan dirinya kepada Yunho, berusaha untuk meringankan rasa sakit itu.

Yunho menyelipkan jari jari ke rambut panjang Jaejoong, memijat kulit kepalanya, lengkungan di telinganya. Yunho menyelipkan lidahnya ke dalam mulut Jaejoong, lagi dan lagu, dan tubuh Jaejoong sendiri menuntut dirinya membalas. Jaejoong menyedot ujung lidah Yunho, membuat suara senang dengan bergumam.

Tangan Yunho yang besar menuruni leher Jaejoong, menuruni dadanya. Dan telapak tangan Yunho memegang dada Jaejoong yang masih terbalut pakaian, kagum dengan tonjolan lembut yang tidak dimiliki pria pada umumnya.

Untuk sejenak rasa gembira mengetuk ngetuk melalui pembuluh darah Jaejoong. Kemudian rasa terkejut menyentak melalui pikiranya.

"Terkutuk kau!" Jaejoong mendorong Yunho, menjauhkan sentuhan pria itu.

Yunho mengangkat kepalanya, bibirnya basah karena bibir Jaejoong. Yunho menatap Jaejoong matanya menyipit dan panas. "Kau tidak tahu apapun tentang berciuman." Ia membuat pernyataan tersebut seolah olah ia melihat semua hal mengenai masa lalu dan pengalaman Jaejoong.

"Aku tahu!" Jaejoong tidak tahu, akan tetapi Yunho menyatakanya seolah olah Jaejoong adalah bodoh. Dan Jaejoong memang bodoh karena masih tetap tinggal disini, karena mencium ...ya Tuhan kemejanya telah naik dan memperlihatkan kulitnya.  Menggenggam ujung kemeja Jaejoong berusaha membuat dirinya pantas.

Yunho menangkap tangan Jaejoong, menahanya sebelum pria itu dapat menutup dirinya. "Tidak, kau tidak tahu apa apa. Kau adalah seorang perjaka . Aku telah menculik pria sembilan belas tahun yang bahkan tidak tahu cara untuk mencium."

Jaejoong berusaha menyelamatkan dirinya sendiri, dengan mengejek. Ia berkata. "Seberapa mengerikanya dirimu, diculik oleh laki laki muda dan seorang wanita tua. Mr. Jung, yang terhormat, di bius,di tahan dan dikurung selama berhari hari di temoat penyimpanan anggur ..dan bahkan pamanya sendiri tidak mau mengirimkan uang tebusan untuk membebaskanmu. Dan dia menolak membayar dengan uangmu, bukan?" Jaejoong menunjukan rasa kasihan palsu yang pastinya membuat Yunho murka.

Jaejoong berhasil.

Yunho meremas bahu Jaejoong. "Tidak ada seorangpun yang membuatku marah daripada kau. Kau berbicara denganku tanpa rasa hormat. Kau berani melakukan apa yang tidak dilakukan orang lain. Dan kadang kadang aku setuju denganmu, bahwa aku seharusnya merasa ngeri karena berhasil ditipu oleh seorang pemuda sederhana sepertimu ...dan kemudian kau melakukan sesuatu yang sama sekali bodoh seperti hal yang tidak pernah aku lakukan."

"Apa itu Mr. Jung?"

Yunho tersenyum kepada Jaejoong, dengan gigi putihnya yang bersinar. "Kau membuat marah seekor srigala yang terjebak ketika kau masih dalam cengkramanya."

Nafas Jaejoong terperangkap dalam putaran kepanikan dan keputusasaan. Yunho benar. Jaejoong berlaku bodoh. Jaejoong berusaha untuk menggeser dari bawah berat badanya dan duduk tegak.

Yunho menekan Jaejoong lebih keras lagi ke kasur, tidak memberikan Jaejoong ruang bergerak.

"Apa yang akan kau lakukan, Mr. Jung? Memperkosaku? Aku tidak dapat percaya egomu yang besar akan membiarkanmu untuk memaksa seseorang pemuda sembilan belas tahun."

"Kau tidak sepenuhnya mengerti, bukan?" Yunho menempatkan salah satu ibu jarinya di atas detak tenggorokan Jaejoong. "Kau tidak tahu bagaimana cara menciumku. Kau tidak tahu apa apa tentang bercinta. Kau mungkin berbicara seperti seorang buruh pelabuhan, akan tetapi kau memiliki cara dibesarkan yang paling terlindungi dari anak manapun yang pernah aku temui."

"Terlindungi?" tawa Jaejoong meledak pahit. "Saudara laki lakiku dan aku di keluarkan dari sekolah asrama ketika aku berusia sembilan tahun karena ayahku tidak lagi mampu untuk membayar biaya. Aku mengembara di inggris sejak saat itu, tanpa memiliki rumah. Jangan menyebutku terlindungi."

"Kalau demikian, saudara laki lakimu pasti telah melakukan segalanya untuk melindungimu." Mulut Yunho menggantikan ibu jarinya di detak tenggorokanya. Bibirnya bergerak di kulit Jaejoong. "Karena kau sedikit idiot."

Jaejoong mengarahkan tinju dan memukuk kepalanya. Akan tetapi Yunho masih berada diatasnya.

Kepintaranku, gunakan kepintaranku.

"Jadi yang lebih buruk dari di tahan oleh seorang perjaka berusia sembilan belas tahun. Kau dijebak oleh seorang idiot kecil."

Yunho menangkap pergelangan yangan Jaejoong dengan satu tangan, kembali tersenyum malas, memperlihatkan giginya. "Ya dan kau telah dijebak oleh korban bodohmu sendiri."

Yunho masih merasa murka, Yunho jelas lebih kuat.

Mungkin Jaejoong memang sedikit idiot.

Yunho mencium Jaejoong. Akan tetapi tidak seperti terakhir kali. Kali ini adalah dua orang musuh terlibat dalam sebuah pergelutan untuk ... Untuk sesuatu.

Jaejoong terus melawan akan tetapi tidak ada gunanya, sementara Yunho mengajarkan sebuah pelajaran yang menyenangkan mengenai sebuah emosi yang tidak Jaejoong kenal ...atau tidak Jaejoong inginkan.

Jaejoong masih merasa panas, siap untuk melemparkan pukulan dan kata kata makian, akan tetapi Yunho mengumpulkan tangan Jaejoog dalam genggaman di atas kepalanya. Menindih kaki Jaejoong dengan kakinya. Ketika Jaejoong bergeser ke sisi, Yunho menempatkan lututnya lebih dekat di antara kaki Jaejoong sehingga herakan tersebut membuat kakinya terbentang lebih lebar.

Yunho memasukkan lidahnya ke telinga Jaejoong, membuatnya menjadi lembab, kemudian Yunho meniup lubang telinga Jaejoong dengan lembut, menimbulkan rasa merinding di kulitnya. Mengambil bibir bawahnya dengan lembut di antara giginya, Yunho membuka mulut Jaejoong dan menciumnya ...dan kali ini ciuman mereka bukan perang.

Yunho mendorong dan Jaejoong menerima. Rasa merinding yang dingin memberikan jalan untuk gesekan hangat dari paha Jaejoong dengan pahanya, terhadap kedalaman lembut dalam diri Jaejoong. Dan lidahnya masih bermain di mulut Jaejoong, menciptakan kegelisahan yang penuh keterampilan.

Yunho meluncurkan tanganya yang bebas ke belakang leher Jaejoong. Memiringkan kepalanya, dan membuka tubuh Jaejoong dengan perhatian apapun yang Yunho pilih untuk di limpahkan. Bibir Yunho meninggalkan bibir Jaejoong untuk meluncur melintasi kulit tenggorokanya. Yunho hampir membelai Jaejoong dengan bibirnya, mecicipi seluruh tubuh Jaejoong dengan lidahnya.

Yunho membuka kancing kemeja atas Jaejoong secara bertahap, dan tatapanya melihat bagian bagian dadanya yang menonjol " Indah." Yunho bergumam. "Sesuatu yang kau sembunyikan dan di bungkus seperti hadiah dalam kain kasar." Yunho berhasil mele0as semua kancing kemeja Jaejoong.

Setiap Jaejoong menarik nafas, tatapanYunho menjadi lebih terpusatkan dan Jaejoong tahu ... Jaejoong tahu apa yang akan Yunho lakukan. Akan tetapi Yunho menunggu, menikmati pemandangan  diri Jaejoong, menyiksanya dengan harapan.

Akhirnya ketika Jaejoong berada di ambang untuk berteriak kepadanya untuk menyentuhnya, Yunho mengangkat tangan dan menyentuhkan jemarinya ke dada berisi Jaejoong. Dengan lembut Yunho menyentuh Jaejoong.

Kelopak mata Jaejoong tiba tiba teralu berat untuk di buka ketika dengan helaan nafas yang lembut, matanya menutup. Ibu jari Yunho melingkari puncak niple Jaejoong, dan puncak niple itu menegang dengan kencang.

Jaejoomg benci bahwa Yunho telah mengantisipasi reaksinya, tahu kemana harus mencari, dimana harus menyentuh, apa yang harus ia lakukan. Yunho mengajarkan keinginan yang amat sangat ...

Merendahkan kepalanya, Yunho menekankan sebuah ciuman di tempat yang ia sentuh. Ujung lidah Yunho memberikan kontak, memberikan Jaejoong kehangatan, kemudian kelembapanya mendingin, dengan kenangan.

Jaejoong merasa santai, menunggu untuk gerakan selanjutnya.

Ketika, seperti sebuah kejutan air dingin, tangan Yunho membuka kancing celana Jaejoong.

Mata Jaejoong terbuka, Jaejoong melompat. Jaejoong berkata." Hentikan Mr. Jung."

"Tidak." Ekspresi wajah Yunho tidak berubah. Ia masih tampak malas.

Jaejoong benar benar menyadari apa yang akan di lakukanya.
"Kau tidak dapat melakukan ini!".Jaejoong menendang Yunho.

"Aku dapat melakukanya." Yunho menghalangi Jaejoong dengan kakinya dan berat tubuhnya.

"Aku akan menjerit."

"Kurasa tidak." Telapak tangan Yunho meluncur ke perut rata Jaejoong. "Kurasa Bibi Yoori tidak dapat mendengarmu, dan aku tahu bahwa kau tidak ingin dia bergegas menuruni tangga untuk menolongmu. Kau tidak ingin dia melihatmu di tempat tidur denganku. Dia mungkin sadar bahwa kau tidak berusaha membebaskan diri seperti seharusnya."

"Kau mahluk yang hina." Dan Yunho memang benar.

"Aku tahu. Akan tetapi walaupun kau seorang perjaka, kurasa kau mengerti bahwa kau aman selama celanaku terpasang dengan erat."

"Ya, jadi" Jaejoong tidak membiarkan Yunho untuk melihat rasa lega di wajahnya.

Akan tetapi Yunho tahu Jaejoong perlu di yakinkan. "Aku tidak akan melukaimu. Aku hanya akan menunjukkan kepadamu apa yang sebenarnya kau butuhkan."

"Apa maksudmu"? Yunho benar benat orang yang kurang ajar! " Satu satunya dan yang aku butuhkan adakah uang tebusanmu!"

Yunho tergelak dengan kegembitaan yang riil. "Dan hal itu membuktikan betapa kau sama sekali tidak tahu apa apa."

"Aku membencimu."

"Hampir sebanyak kau menginginkan aku."

Yunho adalah laki laki yang kurang ajat dengan segi yang kelewat besar, di akibatkan terlalu banyak uang dan kekuasaan. Nafas Jaejoong tercekat ketika tangan Yunho mengelus perut bagian bawah, sebuah perasaan yang membuat Jaejoong lemas dan tunduk ketika ia seharusnya melawan ...

Jaejoong bertatap pandang dengan Yunho, dengan bisu menolak apa yang seharusnya ia tolak secara fisik. Keheningan diantara mereka mendalam. Jari jari Yunho menyisir rambut rambut halus di antara kaki Jaejoong, setiap sentuhan mengajarkanya untuk melupakan kepolosanya.

Ketegangan akibat menunggu membuat kulitnya menjadi tegang, Jantungnya berdetak dengan lompatan kecil, seolah olah mengatakan ia harus melarikan diri. Sekarang.

Kemudian tangan Yunho menemukan sesuatu yang bisa ia mainkan dengan jari jarinya. Jaejoong merintih karena hasrat, kemudian mengigit bibir bawahnya untuk menahan lebih banyak suara yang menunjukkan kenikmatanya.

Yunho hampir tertawa geli menemukan sesuatu dari Jaejoong yang dapat membuatnya semakin membanggakan diri. Dengan perlahan jari Yunho bergerak di sana. "Kau sudah sangat tegang, Jaejongie."

Jaejoong berusaha untuk mempertahankan pandanganya kepada Yunho, ia berusaha untuk tidak menjerik karena nikmat, akan tetapi gerakan jemari Yunho membuat merintih.

Lutut Yunho tetangkat. Tubuh Yunho menginginkan lebih, dan Jaejoong kehilangan kendali diri.

Dengan teriakan yang tidak jelas, Jaejoong merengkuh lengan Yunho. Yunho memeluk Jaejoong dalam tubuhnya bergerak seolah olah rasa putus asa yang sama memasuki Jaejoong juga memenuhinya.

Kebutuhan Jaejoong mendorong dirinya. Jaejoong merangkul lengan Yunho, mengikat pria itu kepadanya. Pahanya menggantikan tanganya. Mereka saling menggesekkan tubuh, dan menggoyangkan pinggul. Mereka saling merapatkan tubuh, masih masih mencari kepuasan dengan rasa putus asa hingga mereka berguncang bersama, lega akan tetapi merasa frustasi.

Betapa detik kemudian kegembiraan menurun. Jaejoong tekulai dalam pelukan Yunho, menarik nafas ngeri, berusaha untuk kembali ke dunia normal ... Sementara itu ia mengetahui dunia tidak akan normal kembali.

Yunho berjanji dengan alasan yang tepat. Ia tidak akan memaksakan seseorang kepada dirinya

Mata Jaejoong tiba tiba terbuka, dan mata itu memandang ke arah Yunho.
Yunho tidak memiliki  kekuatan diri untuk menyembuyikan kemenanganya.

Yunho menyadari apa yang telah ia berikan pada Jaejoong. Apa yang telah ia ambil. Yunho tersenyum penuh kemenangan dan seketika menyadari kesalahanya.

Penolakan menyala di mata Jaejoong, dengan kadua tanganya menolak di dada Yunho, Jaejoong mendorong menyingkirkan pria itu dari tempat tidur.

Yunho menghantam lantai dengan punggung.

Jaejoong bergerak cepat di atasnya dan lari menaiki anak tangga.

Melompat dengan kakinya, didorong oleh hasrat Yunho mengikuti. Kakinya mengenai tangga terbawah sebelum ia menyadari kenyataanya.

Yunho berhenti. Ia menatap kakinya.

Belenggu di sekitar kakinya telah rusak.

Ia telah bebas.

 

                      ~TBC~

Minggu, 07 Juni 2015

Black Pearl chap 4 (Remake) YunJae


Title        : Black Pearl
Author    : Sulis Kim
Main C,  : Kim Jaejoong
                  Jung Yunho
                      Other

Rate    : M+18
Ganre  :Romance, Fiction.

            WARNING

Remake novel Christina Dodd. Title The Barefoot Princess. YAOI. Boy x boy. Dengan berbagai perubahan untuk keperluan cerita. Di ganti dengan Cast fav author. ^.^ jika tidak suka mohon jangan baca, demi kenyamanan bersama. Author cinta damai.

Apabila ada kesalahan typo dan lainya mohon di maklumi. Menerima kritik dan saran. No Bash. ^.^
 

Happy reading ...!


Jiji meraung dan berlari keatas.

Pada pecahan dari porselen, wajah Jaejoong menatap marah. " Walaupun Bibi Yoori hampir tidak mampu membeli gandum atau daging atau telur, dia membeli yang terbaik untukmu."

" Apa yang akan kau berikan kepadaku? Kacang atau biji bijian sejenisnya?"

"Biji bijian merupakan makanan yang lebih umum disini di pulau."

" Aku bukan warga biasa!"

" Kau jelas jelas bukan orang biasa.. Nelayan dan petani,  mereka biasa bekerja. Mereka menciptakan. Mereka memberikan kontribusi. Sementara kau mengabaikan setiap tanggung jawab dan menjadi tidak lebih dari bisul pengganggu." Jaejoong berteriak.

Yunho tidak demikian. Dengan setiap kata suaranya menjadi pelan dan dingin. " Kau berpicara blakblakan, Jaejoong. Kau berbicara tidak sopan, mereka jelas jelas tidak berbicara demikian kepada pemimpin mereka."

"Aku tidak akan pernah berbicara demikian kepada pemimpinku."  Jaejoong mengepalkan tinju disisi tubuhnya dan dalam kemarahanya warna matanya menjadi semakin hitam sekelam malam tanpa bintang.

Jaejoong luar biasa, dan Yunho ingin merengkuh Jaejoong dan mengguncangnya. Dan menciumnya. Dan mengambilnya. Dan menunjukkan kepadanya arti dari ketidak berdayaan seperti yang telah di tunjukkanya kepada Yunho.

Teriakan yang pecah dari tangga bawah menarik perhatian Yoori.

" Anak anak, Anak anak!" Yoori berdiri dengan penuh kekhawatiran, tatapan sayunya berpindah pindah dari Yunho ke Jaejoong ke hartanya yang pecah. "Apa yang sedang kalian lakukan? Apa yang telah kalian lakukan?"

"Dia serakah, congkak, angkuh dan pantas untuk kelaparan ...dan sejauh yang aku peduli, dia dapat merangkak untuk memunguti roti itu dan memakanya di tempat gelap dan dingin. Dan aku harap dia tersedak oleh roti itu" Dengan murka Jaejoong menerobos ke atas.

Yunho menatap marah ke pada Jaejoong, marah karena Jaejoong mendorongnya sampai ke batas kesabaran.

Yunho tidak dapat melakukan apapun, selain membaca. Karena ia merasa bosan, karena ...karena tanganya gatal ingin menyentuh Jaejoong. Ia telah melihat banyak wanita yang lebih cantik, para pria uke yang rela tidur denganya. Akan tetapi ia belum pernah bertemu seseorang seperti Jaejoong sebelumnya. Mata pria itu berkilat ketika melihatnya, lidahnya yang tajam mengeluarkan kata kata buruk mengenai dirinya. Akan tetapi cara pria itu bergerak membuat jantungnya naik ke tenggorokan ...dan membawa bagian lain tubuhnya menjadi bereaksi.

Mengapa pria itu sedemikian tidak ramah, Jaejoong membuat dirinya hidup seperti yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Ia setengah gila setengah nafsu untuk menginginkan seorang pria yang suka menentang seperti Jaejoong. Bahkan mungkin Yunho telah benar benar menjadi gila.

" Pria itu telah mengeluarkan hal terburuk dalam diriku."

"Aku tahu. Kalian berdua ..."

Yunho terkejut mendengar suara Bibinya yang bergetar. Ia hampir lupa bahwa wanita itu berada disana.

"Aku seharusnya tidak pernah membiarkan dia untuk tu ...turun ke bawah sendirian. Tidak ketika ia membawa berita yang sangat buruk."

Bibi Yoori, Yunho menyadari dengan ngeri, menangis dan berusaha dengan tabah untuk menyembunyikan fakta tersebut.

"Dia sebenarnya anak laki laki yang manis, dan aku ...kau anak lelaki yang menyenangka., akan tetapi ka ...kalian berdua seperti minyak dan air."

"Dan dengan suatu cara minyak selalu menimbulkan api." Yunho mempertahankan nadanya seolah olah ia tidak tertarik ketika Yoori berjalan berlahan melintasi lantai.

Dengan langkah yang menyakitkan, Yoori membungkukan tubuhnya untuk berjongkok di lantai dekat pecahan cangkir dan piring. "Ya, ya , sebuah perumpamaan yang tepat, Master." Yoori akan menyentuh potongan porselen itu seperti seorang ibu akan menyentuh anaknya yang terluka, lembut dengan jari jari kurus yang bergetar.

Dalam kobaran amarahnya, sedikit perasaan bersalah mulai menyeruak. Yunho ingat bahwa sebagian besar porselen yang digunakan melayaninya telah retak, dan Bibinya memperlakukanya dengan sangat hati hati, seolah benda itu diperlukan untuk sisa hidupnya. Atau seakan setiap potongan memiliki memori dari beberapa generasi.

" Biarkan aku membantumu." Yunho memiliki cukup banyak rantai untuk pergi sejauh itu.

Ketika Yunho melangkah lebih dekat, Yoori tersentak. Dan Yunho ingat bahwa ia pernah mengacungkan pisau ketenggorokanya. Ia juga melempar Bibinya dengan maksud yang baik. Akan tetapi Yunho telah melihat memar keunguan di kulit tipis lenganya dan melihat bagaimana Wanita tua itu berjalan seperti seorang yang yerluka.

"Tolong, Master, biarkan aku mengambil pecahanya." Yoori melakukanya.

Yunho mengamati Bibinya, jari jari wanita itu bergetar dengan lambat. Saat ini merasa Ia benar benar tidak berguna dan tidak bisa berbuat apa apa.

Yoori menyeret nampan kearahnya, ia menyerahkan surat kepada Yunho.

Yunho melirik kearah surat. Tulisan tangan Paman Kangin. Yunho menyimpan surat itu di sakunya.

Yoori mengambil roti dan membersihkan kotoran di atasnya. "Aku akan membawa ini ke atas. Aku akan membawakan yang bersih, dan menuangkan secangkir teh baru."

Dan memakan roti yang kotor itu untuk dirinya sendiri.

Membungkuk ke bawah, Yunho mengambil kedua roti kedalam tanganya. "Tidak, aku akan memakanya."

"Tidak, Anakku sayang, kau adalah Di... Directure yang terhormat." sebuah air mata besar jatuh di wajah Yoori. "Kau seharusnya ma ...makan steik daging dan stroberi, bukan ro...roti kotor."

" Satu satunya hal yang aku nikmati selama penahananku adalah kesempatan untuk memakan makanan sederhana." Yunho mengambil gigitan besar dan mendapati ia belum membersihkan sepenuhnya roti itu. Seperti kerikil kecil terkunyah di antara giginya. Dengan gagah ia mengambil kerikil tersebut dan berusaha untuk sedikit memberi pujian. "Aku merindukan masakanmu, Bibi Yoori."

Yoori mendengus dan mengusap matanya dengan sapu tangan. "Aku bilang kepadanya bahwa kau anak yang naik, aku sudah bilang kepadanya."

Yunho mengunyah dan tersenyum dengan semua daya yang dimilikinya. Akan tetapi tampak bahwa Bibinya tidak merasa terhibur dan Yunho merasa daya tariknya mulai berkarat.

"Bibi Yoori."

Yoori melihat ke atas, dan di mata wanita itu, Yunho tidak melihat tanda tanda kegilaan atau ketidak warasan. Akan tetapi terdapat kesepian dan kesedihan sedemikian dalam, Yunho mengira ngira apakah ia tidak pernah mengenali hal itu sebelumnya.

Yunho membantu Wanita itu berdiri. "Bibi, malam ini kau harus membawa manik manik dan pekerjaan rendamu kebawah dan mengajariku bagaimana cara untuk membuat renda yang cantik."

"Kau tidak benar benar peduli tentang membuat renda."

"Mungkin tidak, tetapi aku benar benar peduli dengan pertemananmu. Di sini sepi Bibi, dan tampaknya aku aku akan berada disini selama beberapa hari lagi." Yunho mengeluarkan daya tarik dari kedalaman hatinya yang kecil, serakah. "Maukah kau menghabiskan malam malammu denganku?"

Yoori tampak sedikit lebih ceria, kemudian menjadi diam dan sedih lagi.

" Ada apa?" tanya Yunho.

Dengan suara pelan, kecewa ia bertanya. "Bagaimana dengan Jaejoong?"

"Dia juga boleh datang." Dan walaupun ia takut ia akan membunuh ptia itu, Yunho dapat bersikap sopan. Demi Bibi Yoori.

                    ~*~

"Jadi." Yunho bergelut dengan kumpulan benang yang kecil, dan lusinan manik manik. Jadinya teralu besar dan terlalu kikuk.

Dan jika salah satu temanya dari Seoul melihatnya duduk di tempat penyimpanan anggur dengan seorang wanita dan seorang lagi pria cantik juga seekor kucing, melakukan pekerjaan tangan, mereka akan tertawa sedemikian keras sehingga Yunho merasa takut akan kebersihan dengan pakaian dalam mereka.

" Apakah yang kalian rencanakan untuk di lakukan kemudian?"

"Mengenai dirimu, maksudmu?" Jaejoong menunjuk manik manik Yunho. "Kau melupakan satu jahitan."

"Tidak, aku tidak terlewat."

"Ya, kau melakukanya."

"Biar kulihat." Yoori mengenakan kaca mata dihidungnya, memiringkan badan ke arah cahaya dan memicingkan matanya.

Yunho tersenyum lebar melihat gerakanya. "Bibi kau memerlukan kaca mata baru."

"Ya, sayang, itu mungkin benar. Di sana." Yoori menunjuk. "Buka hingga disana dan mulai kembali, dan kau tidak akan bermasalah."

"Benar,kan?" Jaejoong bergumam di bawah nafasnya.

Yunho mendengus, membongkar kembali benang, dan mulai.memprotes untuk membuat renda ...lagi.

Malam ini mereka berdua benar benar beradap, berbicara dengan nada datar, sopan dan menghindari tatapan satu sama lain. Lebih mudah bagi Yunho jika ia tidak melihat kepada Jaejoong, dengan cara itu ia menyimpan nafsunya dan kemarahan yang terpendam.

"Bibi Yoori tidak mampu membeli kaca mata baru." kata Jaejoong. "Itu sesuatu yang akan dia beli jika kita memperoleh uang tebusan."

"Paman Kangin tidak akan membayar uang tebusan."Yunho hampir tidak bisa menahan rasa sebal. "Ingat?"

"Hari ini aku menulis surat lain untuk pamanmu, untuk mengurangi uang tebusan." Jaejoong tersenyum seolah ola ia sangat yakin akan strateginya. "Dia akan membayar sekarang."

"Kau mengurangi uang tebusan?" dengan rada tidak percaya Yunho mengulang. "Kau mengurangi uang tebusan?"

"Itu yang aku katakan." Jaejoong mengerjakan manik dengan cepat. " Baru saja, beberapa jam yang lalu aku mengirimkan surat itu kerumahmu di Nami Island dan meninggalkanya di mana kepala pelayan akan menemukanya. Aku melihat seseorang membawa surat itu kerumah Mr. Kangin ..."

"Kau mengurangi uang tebusan? Seolah olah aku adalah topi yang tidak diinginkan? Atau anjing pemburu tua? Atau sapu tangan yang ternoda?"

"Lebih menyerupai angjing pemburu tua daripada yang lain."kata Jaejoong mengejek.

Yunho menegang, siap untuk membalas.

"Jaejoongie." sergah Yoori. "Kau berjanjji!"

"Maaf,"Jaejoong bergumam.

"Bukan sebuah topi, Yunho. Tidak sedemikian tidak penting. Kami membuat penyesuaian kecil dalam tuntutan kami sehingga Kangin dapat mengumpulkan uang."

"Paman Kangin tidak perlu mengumpulkan uang." Yunho berkata dengan menghina. "Aku membiarkan dia untuk menangani kekayaan Jung Crop dan lainya."

"Kami yakin dia melakukan investasi di pabrik dan kekurangan uang tunai,"Jaejoong mengatakan dengan nada datar yang menandakan ia telah memperoleh kendali kembali.

"Tidak masuk akal!" balas Yunho.

"Kalau demikian, mengapa dia tidak membayar uang tebusanmu?" tanya Jaejoong dengan nada manis di buat buat.

Yunho tidak mengetahui terhadap pertanyaan itu. Ia telah membaca surat itu. Ia tidak memahami nada tegas Paman Kangin, atau penolakan yang mantap untuk menyerah terhadap ancaman pembunuhan.

Yunho mengira mengira apakah ia memahami apa pun.

"Tidak apa apa, Mr. Jung. "Jaejoong berpura pura menghibur Yunho. " Hanya dalam waktu tiga hari kau akan bebas."

                  ~*~

Jaejoong membaca kertas itu dengan cepat, kemudian menurunkanya dengan putus asa. "Dia tidak mau membayar uang tebusan."

Yoochun seolah olah telah mengharapkan tepat akan hal itu, ia mengangguk. "Baiklah. Harus pergi ke pub." Yoochun mengenakan mantelnya. " Istriku bekerja disana dan aku memerlukan makan malamku. " Ia berjalan keluar dari dapur Yoori. Menghilang di jalan setapak yang gelap.

Jaejoong menatap Yoochun. Yoochun telah menerima berita itu dengan tenang, sementara Jaejoong ingin berteriak dan meninju kepalan tanganya kemeja. Apa yang dipikirkan oleh Mr. Kangin?  Tidak pernah Jaejoong bayangkan ketidak acuhan yang tidak perasaan akan nyawa seseorang, yang sebenarnya merupakan pewaris sekaligus pemimpin yang terpandang. Dan keponakan Mr. Kangin sendiri!

"Apa yang akan kita lakukan sekarang"

"Bebaskan, Master," Yoori duduk di meja dapur, tanganya terlipat di pangkuanya. Dan terlihat dari penampilanya, tampaknya penolakan yang diberikan juga mengejutkan Yoori.

Sebenarnya, Jaejoong sendiri tidak terlalu heran. Saat pertama kali menerimanya  ia merasa terkejut dan terpana. Akan tetapi ia telah menghabiskan waktu tiga haru menakutu saat seperti ini dan sekarang ia tidak melihat jalan lain tetapi untuk maju sedikit demi sedikit. Jauh terlalu keras ia berkata.
" Kita tidak akan membebaskan Jung muda itu." kemudian ia merendahkan nada suaranya. "Kita tidak dapat melakukanya, kita akan di gantung."

"Dia tidak akan menggantungku." Yoori terdengar sangat yakin.

"Dia akan menggantungku." Jaejoong sama yakinya.

Melalui pintu tempat penyimpanan anggur yang terbuka, ia mendengar teriakan Yunho dengan nada kesal yang berasalan. " Kim Jaejoong bisakah aku bertemu denganmu sejenak?"

"Bagaimana dia dapat melakukan itu?" Jaejoong meledak. " Mengetahui aku ada disini dan berita telah tiba?"

"Dia memberitahuku dia dapat mengetahui siapa yang ada di sini dengan mendengar derit dari kayu. " Yoori berdiri, mengambil Jiji dan berkata. " Waktunya untuk tidur siang kita, bangunkan kami jika sudah selesai." Dengan itu Yoori menyatakan secara langsung bahwa Jaejoong yang melibatkan mereka dalam hal ini, dan Jaejoong bertanggung jawab untuk berhadapan dengan Directure yang sulit dikendalikan yang terkurung di bawah sana.

Jaejoong merasa hal itu adil. Akan tetapi ia tidak menyukainya. "Aku akan mengatakan kepadanya." ia melemparkan surat itu kebawah. "Tetapi aku tidak akan membawa benda becah belah denganku saat ini."

"Itu rencana baik, aku tidak memiliki benda pecah belah yang tersisa. " Yoori tertatih tatih menuju kamar tidurnya seolah olah ia memiliki kekhawatiran di dunia.

Jaejoong berdiri. Ia mematikan kemejanya terkancing dengan baik sampai leher untuk memastikan semua pandangan dadanya dari Yunho.

Selama dua hari ini ia telah mengembangkan kebiasaan tersebut, karena sementara ia dan Yunho telah saling bertukar tidak lebih dari percakapan yang tidak pantas, dan Yunho telah berusaha untuk mempertahankan opini tidak bermoralnya bagi dirinya sendiri, Jaejoong masih merasa ... tidak nyaman akan kehadiran pria itu, sesuatu mengenai Yunho membuat Jaejoong ...berhati hati.

Gelisah.
Tidak bisa tidur.
Tidak bisa bernafas.

Yunho tidak lagi berbicara mengenai hasratnya, akan tetapi sebuah intuisi yang menggelora mengira ia mengalaminya, dan dengan enggan Jaejoong mengakui bahwa ia juga merasa janggal. Tidak nyaman. Seolah olah ia mengalami salah pencernaan. Ia sering kali menemukan dirinya sendiri melirik kepada Yunho, dan sama seringnya menemukan Yunho melirik kepadanya.

Dan ketika pria itu berbicara kepadanya, nada dan suara pria itu  menyebabkan ia tidak bisa diam dan menyerigai seperti anak sekolah yang genit. Ia merasa aneh , ia benci merasakan apapun terhadap Jung Yunho.

Pertama kali Jaejoong melihat Yunho, ia hanya berniat menculiknya menerima uang tebusan dan pergi. Ia tidak mengira semuanya akan serumit ini. Sekarang tampaknya ia tidak bisa melakukan apapun selain memikirkan Yunho.

Ia jelas tidak dapat menyingkirkan Yunho. Dan ketika ia melakukanya, ia takut ia tidak akan pernah melupakan Yunho.

Hidup sangat sederhana sebelum ia bertemu Jung Yunho, Penguasa muda pulau ini.

Jaejoong turun dengan sikap menantang. Yunho duduk disana berpura pura membaca buku, akan tetapi Jaejoong tanu, ia merasakan perhatian pria itu kepada dirinya. Jaejoong berdiri di ujung meja yang lain dan melambaikan jarinya.

"Mr. Jung! Keponakan macam apa kau ini sehingga pamanmu tidak peduli apakah kau hidup atau mati?"

Yunho melihat kepada pria itu. Jaejoong tidak dapat membaca apa yang Yunho pikirkan dari ekspresi matanya. Bahkan ia tampak sangat tenang.

" Yunho. " kata Yunho.

"Apa?" apa yang pria itu bicarakan?

"Namaku Yunho. "Yunho menyimpan buku itu di ujung meja." Dan aku memiliki keinginan besar agar kau memanggil namaku."

Jaejoong tidak mengharapkan respon itu, dan hal yang tidak diharapkan membuatnya merasa tidak nyaman. Yunho tahu hari ini adalah hari dimana mereka akan mendengar dari Mr. Kangin. Ia seharusnya menuntut berita mengenai pembebasanya. Sebaliknya ia ingin bercakap cakap?

Jaejoong bergerak lebih mendekati pria itu, menatap dan mengira ngira apakah terkurung terlalu lama tanpa berbuat banyak hal telah mulai berdampak terhafao kebijakannya.

  "Mr. Jung, namamu tidak menarik bagiku."

"Benarkan itu aneh, Mr Kim, karena namamu sangat menarik bagiku." Yunho bersantai di atas selimut, Rambut kusutnya menjadi berantakan yang menarik.

"Bolehkan aku mengetahuinya?"

"Kau tahu namaku." Apa maksud dari minat baru yang Yunho tunjukkan untuk mengenali Jaejoong?

Apakah Yunho dengan satu cara telah mengetahui Jaejoong dengan masa lalunya?

Tapi tidak, itu tidak mungkin. Yunho telah terpencil disini selama enam hari. Ia tidak memiliki cara untuk menemukan apa apa.

Jaejoong melirik ke tangga.
Kecuali jika Yoori membuka mulut. Akan tetapi Yoori telah bersumpah akan menjaga rahasianya, dan Jaejoong mempercayainya.

" Nama margamu Kim, bukan? Akah itu marga aslimu? " Yunho berbicara dengan tegas, seorang pemimpin yang berharap di patuhi.

"Tidak." Ya Tuhan, tidak.

"Apa yang kau takutkan?"

Apa yang ia takutkan? Jaejoong takut kembali ke Beaumontagne kesuatu kehidupan yang penuh sopan santun yang mematikan semangat dan pernikahan yang di atur. Ia takut pada peluru pembunuh bayaran. Ia takut harus meninggalkan Yoori karena khawatir akan keselamatanya.

Dengan cara janggal, Jaejoong takut Yunho dan pengaruhnya terhadapnya, karena Yunho membuatnya menginginkan hal yang berbeda dari yang ia pernah ia inginkan sebelumnya.

"Mr. Jung, aku tidak takut apapun." Jaejoong tersenyum untuk menutupi kebohonganya. " Aku memiliki berita menganai pembebasanmu. Bilehkah aku melanjutkan?"

"Lanjutkan. "Yunho melambaikan tangan acuh. "Silakan, lakukan."

Ia terikat di tempat tidur di ruang bawah tanah disebuah rumah kecil di pulau Jeju. Pakaian berantakan. Dan dengan janggut yang tumbuh. Tapi ia berhasil memacarkan sejenis perintah mulia yang mengatasi keadaan sekelilinhnya yang kasar. Bagaimana ia dapat mengatasinya?

Dan mengapa Jaejoong merasa dirinya terkesan.

"Pamanmu kembali menolak untuk memberi uang tebusan."

"Bagaimana kau bisa membayangkan seorang wanita dan pria bodoh sepertimu dapat berhasil memeras Jung Yunho dan perwakilanya?"

Akibat nada Yunho yang merendahkan, kekasaran Jaejoong kembali hidup." Rencanaku logis, kau dan pamanmu lah yang gila. Dan apa yang kau maksud memanggilku pria bodoh?"

"Kau adalah pria yang bodoh. Kau tidak memahami kekuatan yang kau lepaskan." Yunho tersenyum dengan rasa percaya diri sedemikian rupa, Jaejoong sangat ingin menampar wajahnya. "Bergeraklah sedikit lebih dekat dan aku akan menujukkan kepadamu."

Percayalah kepada Yunho untuk mengarahkan pertengkaran tersebut menuju kesadaran fisik yang bergetar di antara mereka.

"Kau adalah orang yang kurang ajar. Kau tidak mempercayaiku ."

"Mengapa aku harus mempercayaimu?" Yunho tersenyum mencemoh seperti orang yang terlahir untuk mencemoh. " Mungkin karena kau menculik dan menahanku?"

Jaejoong menampik dengan melambaikan tangan. "Aku melakukan itu. Aku bukan seorang pria biasa, jadi untuk menggunakanku sebagai contoh sama dengan menghindari pertanyaan ...dan itu menjadikan jawabanya jelas. Kau tidak menyukaiku."

" Mengapa juga aku harus menyukaimu. Kau penyebab penderitaan ku."

"Penderitaan?" Jaejoong tidak tahu harus menjawab apa atas komentar Yunho yang dingin.

"Aku dan kau berbeda, kau seperti wanita. Wanita yang ceroboh, pintar dan cantik yang diciptakan untuk mematahkan hati seorang pria. Di dalam dunia seorang pria, langit adalah biru suatu sumpah adalah abadi. Dalam dunia wanita ..."Yunho menggeleng gelengkan kepalanya, dan senyum cemoohnya berubah menjadi serigai, terluka dan terarah pada dirinya sendiri. "Aku tidak pernah melihat dunia seorang wanita, hingga aku tidak tahu warna dari langit. Akan tetapi aku tahu dengan jelas bahwa seorang wanita, tidak ada sumpah yang abadi, begitupun kau."

"Aku tidak mengerti." Jaejoong mengerti bahwa mereka telah berubah melampaui pertengkaran yang dengan mudah terjadi menjadi sesuatu yang lebih. Sesuatu yang menyedihkan. Sesuatu yang abadi.

Yunho memiringkan badanya kearah Jaejoong. "Ketika kau kanak kanak, apakah ibumu mengatakan bahwa dia mencintaimu?"

"Ibuku meninggal ketika aku lahir."

"Kau beruntung." Yunho bersandar kembali ke bantal.

Terkejut,Jaejoong berkata. "Mr. Jung, itu kejam."

"Tidak , pecaya aku, itu kebenaran. Kau tidak menyadari betapa beruntungnya dirimu, dan itu mungkin menjelaskan mengapa kau sedemikian pintar, nekat, menarik ...sedemikian berbeda dari pria yang lain."

"Aku tidak merasa di puji."

"Kau seharusnya bangga. Kau mungkin liar dan blakblakan, tapi aku tahu ketika kau berbicara, tidak peduli berapa besar aku membencinya,kau akan berbicara yang sebenarnya. Aku mengamatimu dengan Bibi Yoori, dan aku tahu ketika kau memberikan kesetiaanmu, kesetiaanmu adalah kekal."

"Kurasa demikian. "Jaejoong menjauh.

Yunho terdengar setengah gila, berbicara tergesa gesa dan mengamati Jaejoong dengan mata bersinar terang dengan intesitas.

"Apakah kau tahu ibuku biasa memangkuku dan mengatakan bahwa dia mencintaiku? Dia mengantarkanku tidur setiap malam dengan sebuah cerita, dan membangunkanku setiap pagi dengan sebuah ciuman. Dia memastikanku bahagia, terlindungi, riang."

"Dia terdengar menyenangkan." walaupun nada suara Yunho memberitahunya cerita yang berbeda.

"Dia memang demikian. Mahluk yang cantik yang pernah aku lihat. Satu satunya wanita yang perah dicintai ayahku. Beberapa orang menyebutnya sebagai orang asing ...dia orang Los angles , dari keluarga biasa, sebuah pilihan gila yang di buat ayahku dalam perjalanan bisnisnya, akan tetapi dia menawan hati semua orang. Dia sedemikian baik, ibu yang penuh cinta, sangat jatuh cinta dengan ayahku. Semua wanita lain mengenakan warna yang lembut, tapi tidak ibuku. Dia memakai warna yang cerah dan ceria membuat wanita lain tersisihkan. Banyak wanita terhormat yang terlahir dari keluarga terpandang yang iri kepadanya dan bergosip. Mereka mengatakan ibuku wanita murahan yang memamerkan dirinya dengan gaya yang berpakaian yang tidak bermoral, dan pikiranya yang dangkal. Aku berusia tujuh tahun. Aku tidak memahami apa yang mereka maksud, akan tetapi aku tahu aku tidak menyukai nadanya, sehingga aku lari ke arah mereka dan menyerang mereka pada suatu hari pesta yang di adakan oleh orang tuaku, aku menendang salah satu wanita tua itu tepat di tulang keringnya." Intesitas Yunho melengkung keruang angkasa menuju Jaejoong seperti cahaya yang menjadi tampak.

"Ketika aku menceritakan kepada ayahku apa yang terjadi, dia tertawa dan menciumku di puncak kepala."

"Bagus untukmu." Jaejoong menyukai ide Yunho yang kekanak kanakan dan pembelaanya yang hangat kepada ibunya.

"Itu terakhir kali aku mendengarnya tertawa, "Yunho berkata datar. "Terakhir kalinya dia menunjukanku apa pun selain perhatian yang formal."

Dengan suatu cara, selama percakapan tersebut keduanya telah tiba pada sesuatu yang lebih dari sekedar memberikan jawaban penuh hinaan yang tepat yang menandai saat saat ketika mereka bersama. Atau apakah perubahan tersebut terjadi secara lebih perlahan, selama enam hari keintiman yang dipaksa, selama malam yang dihabiskan mereka di tempat penyimpanan anggur.

Apa yang di katakan Yoori mengenai Mrs. Jung?Kami kehilanganya ketika Yunho berusia tujuh tahun.

Akan tetapi dihadapkan dengan pria yang bermata keras, Jaejoong mengira bibinya menghindari penjelasan janggak dan memori menyakitkan. "Mr. Jung, apa yang terjadi dengan ibumu?"

"Ketika aku berusia tujuh tahun, dia melarikan diri dengan rekan bisnis luar negri ayahku."

" Apa?" Jaejoong menggeleng gelengkan kepalanya kebingungan. " Tapi kau berkata dia adalah ibu yang baik dan penuh cinta dan sangat jatuh cinta dengan ayahmu."

"Tampaknya kasih sang kekanak kanakanku telah menyesatkanku."

"Aku tidak mempercayai hal itu. Kau tidak mungkin sedemikian salah."

"Tidak? Tetapi dia pergi." nada Yunho yang bosan menyembunyikan rasa sakitnya, akan tetapi ia tidak dapat menyembunyikan rasa suram di matanya. "Didalam semua kehidupanku, aku tidak pernah mendengar kata lain darinya."

"Aku tidak mempercayaimu!" Jaejoong tidak dapat mempercayainya.

" Orang tuaku bertengkar pada hari itu. Aku tidak pernah mendengar mereka meninggikan suara mereka, akan tetapi mereka melakukanya saat itu. Aku tidak dapat memahami mereka ...aku berada di luar pintu ...tapi Ayah sangat marah, dingin, dan tajam, dan Ibuku sangat bernafsu, berapi api, berpendapat bahwa keberadaanya sangat tergantung pada kemenangan ...hal berikutnya yang aku ketahui, dia mengendarai mobilnya dan menuju pelabuhan." Yunho menceritakam kembali dengan tenang, tidak memahami mengapa ia harus menceritakanya pada Jaejoong.

Ada sesuatu mengenai pria itu yang membuatnya mengoceh. "Kapal kami ada disana. Ibuku terlihat berbicara dengan agen asih, agen itu pergi berlayar, membawa Ibuku denganya. Mereka mengatakan ibuku akan turun sebelum kapal berangkat. Akan tetapi dia tidak pernah pulang kerumah. Dia meninggalkan aku. Dia meninggalkan ayahku. Dan tidak pernah pulang kerumah."

"Aku tidak mempercayainya," Jaejoong mengulangi. " Bagaimana mungkin wanita yang sangat mencintai keluarganya pergi dan tidak memandang kebelakang?"

"Aku sudah memikirkan itu ribuan kali. Aku hanya memiliki dua jawaban yang mungkin. Dia tidak benar benar mencintai aku." Yunho memandang Jaejoong lekat. "Atau semua wanita bertingkah laku tidak karuan dan tidak setia."

Jaejoong bahkan tidak berhenti untuk berpikir. "Itu bodoh, kedua teorimu bodoh."

"Apa maksudmu, bodoh?"

Jaejoong berdiri dalam Jangkauan Yunho, seakan menantang Yunho untuk meraihnya, untuk mengguncangnya, untuk menunjukkan kekerasan. Dan Yunho bersiap untuk melakukan itu selama dikurung enam hari disana, Yunho berjalan keujung rantainya berkali kali sampai ia tidak dapat menghitungnya.

"Lihat kesekelilingmu. Ke manapun kau melihat, kau akan melihat wanita mencintai suami mereka dan anak anak mereka sedemikian kuat sehingga mereka akan melkukan apapun untuk melindungi keluarga mereka. Untuk mengutuk semua wanita hanya karena satu orang wanita adalah bodoh." Jaejoong cukup terus terang, tidak peduli untuk menggunakan nada menghibur.

"Jadi kau mengatakan ibuku tidak benar benar mencintai kami." Hal yang Yunho ketahui, tetapi ia tidak suka jaejoong menunjukkan hal tersebut di hadapanya.

Jaejoong mengerutkan dahi dengan tajam kepada Yunho, jelas merasa tidak yakin. "Apakah ibumu tidak mengatakan hal lain, terakhir kali dia menemuimu?"

"Tidak mengatakan apapun? Apa maksudmu? Tidak mengatakan apapun?" Mengapa ia memulai percakapan itu dengan Jaejoong? Mengapa Jaejoong akan mengerti? Ia telah berulang kali membuktikan ketidak bijaksanaanya. "Tentu saja dia mengatakan sesuatu."

"Apakah dia menggenggam erat dirimu di hadapanya, memberimu nasehat untuk masadepan, mengatakan dia mencintaimu tetapi ia harus pergi?"

Yunho tahu dengan pasti apa yang dikatakan ibunya. Setelah ibunya pergi, ia mengulangi perkataan itu lagi dan lagi, berusaha menyerap sejumlah indikasi kehangatan kehilangan dari kata katanya. "Hal terakhir yang ia katakan padamu adalah ' Anakku, sayang, bertingkahlah yang baik kepada Bibi Lee hingga aku kembali." Ia mengejek dirinya sendiri, ibunya dan Jaejoong. "Bibi Lee adalah pengasuhku."

Jaejoong menatap Yunho dengan tatapan kosong." Itu bukan cara seorang wanita bertindak, terutama bukan seorang wanita yang mencintai anaknya dan meninggalkanya untuk terakhir kali."

"Walau bagaimanapun, dia meninggalkanku."

"Menurutku, ceritamu tidak masuk akal. Kau hanyalah seorang anak anak. Kau tidak mengetahui semua detailnya. Dan satu hal yang jelas, Mr. Jung. Jika kau akan menyalahkan seseorang untuk masalahmu saat ini, kau seharusnya tidak menyalahkan ibumu atau wanita lain." Warna merah merona di pipi Jaejoong. Matanya yang hitam bersinar dengan frustasi.

"Aku sebaiknya tidak menyalahkanmu? Kau menculikku!"

"Ya, tetapi aku akan melepaskanmu sekarang. Tolong Mr. Jung, salahkan pamanmu yang tidak mau membayar uang tebusan. Aku mendengar hal hal yang buruk mengenai dirinya ...dan kau ..dan tampaknya semua hal itu benar." Dada Jaejoong mengembang di bawah pengaruh kejengkelanya. "Mungkin seharusnya kau lebih memperhatikan kebusukan dalam karaktermu dan dalam diri pamanmu dari pada meratapi penghianatanku."

Persetan dengan pria itu. Dan perkataan Jaejoong, Yunho mendengar ucapan yang telah lama di lupakan.

Pada waktu yang bersamaan, Yunho mengamati pergerakan samar dari dada Jaejoong dengan kebutuhan yang membuat kemaluanya membengkak di kancing celananya.

Seseorang pria yang penuh pendapat, kasar, dengan pakaian yang buruk membuat kemaluanya berdiri baru dirasakanya seumur hidup sementara pria itu, tampaknya tidak memiliki perasaan apa pun terhadapnya, menjelek jelekan keadaanya. Situasi ini tidak akan di tanggungnya lebih lama. "Dimana Bibi Yoori?"

"Dia sedang tidur siang."

"Bagus, bagus. "Yunho menempatkan kakinya di lantai. Perlahan lahan ia berdiri, bangkit , sehingga tingginya yang penuh dekat denganya, membiarkan Jaejoong untuk merasakan panas tubuhnya. Kemarahanya.

Mata Jaejoong melebar.
Yunho mengergap.
Jaejoong melompat menjauh.

Terlambat. Yunho menangkapnya di pinggang. Kemenangan berkobar dalam dirinya.

Rantai tertarik sampai panjang penuhnya. Belenggu menekan pergelangan kakinya. Yunho jatuh. Terputar. Mendarat di atas Jaejoong di tempat tidur. Di bawahnya nafas Jaejoong mengembus.


                ~TBC~

Jumat, 05 Juni 2015

Black Pearl chap 3 (Remake) YunJae


Title        : Black Pearl
Author    : Sulis Kim
Main C,  : Kim Jaejoong
                  Jung Yunho
                      Other

Rate    : M+18
Ganre  :Romance, Fiction.

            WARNING

Remake novel Christina Dodd. Title The Barefoot Princess. YAOI. Boy x boy. Dengan berbagai perubahan untuk keperluan cerita. Di ganti dengan Cast fav author. ^.^ jika tidak suka mohon jangan baca, demi kenyamanan bersama. Author cinta damai.

Apabila ada kesalahan typo dan lainya mohon di maklumi. Menerima kritik dan saran. No Bash. ^.^
 

Happy reading ...!


Jadi begitu, pria itu adalah seorang pragmatis, seorang pragmatis yang sangat muda. "Aku memiliki imajinasi ,imajinasi itu cukup aktif."

"Membayangkan aku mendapat hukuman gantung, Mr. Jung?"

" Tidak. Membayangkanmu sebagai simpananku." Yunho tertawa nyaring atas cemohanya untuk Jaejoong dan ia memang berkata Jujur.

Mereka disini, berdua membahas sesuatu yang tidak pantas dibahas.

Jaejoong tidak tersentak atas kejujuran Yunho yang brutal. "Aku dapat membayangkan hal tersebut akan menjadi pengalihan dari pencarianmu untuk bentuk baru kebejatan."

"Oleh karena itu, meskipun aku dapat memutarkan fantasiku kapanpun aku inginkan, aku takut kau tidak cocok untuku."

Sarkasme menetes dari setiap kata Jaejoong. "Kau pintar dalam membayangkan, oleh karena itu bayangkan patah hatimu."

Jadi. Pria itu belum berusia dua puluh tahun. Yunho berusia dua puluh sembilan.

Kebutuhan untuk mengakali musuh yang tidak penting semakin mendesak.

"Semakin aku mengenalmu, semakin aku mengira ngira siapa kau."Yunho dapat menghitung kwalitas pria itu di jari jarinya."Kau punya aksen seperti seorang bangsawan tapi kau berpakaian seperti seorang petani. Kau menembak seperti seorang juru tembak. Kau memandang dunia dengan sinis , akan tetapi kau memuliakan Bibi Yoori. Wajah dan tubuhmu akan menjadi kecemburuan dewi muda, akan tetapi kau menunjukan kepolosan. Dan kepolosan tersebut menyembunyikan kriminal dan kekurang ajaran untuk melaksanakan kejahatan yang paling luar biasa."

" Jadi aku Athena, dewi perang."

" Yang jelas bukan Diana, dewi keparawanan."

Ketika tembakan terakhir mengenai sasaran, Yunho melihat topeng Jaejoong tersingkap. Darah mengalir ke wajah pria itu. Jaejoong mengigit bibirnya dan melihat ke tangga seperti hanya jika sekarang menyadari ia dapat, seharusnya meninggalkan seluruh diskusi tersebut di belakang.

Yunho tertawa perlahan, dengan penuh kemenangan. "Atau mungkin aku salah. Mungkin kau memiliki lebih banyak persamaan dengan diana dari pada yang aku kira."

"Ingat, sir, bahwa diana juga dewi perburuang." Jaejoong menyender ke meja, bermaksud untuk menyampaikan maksudnya, akan tetapi rona merah masih berada di pipinya.

"Dia membawa busur dan anak panah, dan dia selalu membunuh buruanya. Lihatlah lubang peluru di dinding batu lelakangmu dan ingatlah ketrampilanku serta sinismeku. Karena kita mengetahui hal satu sama lain. Aku tahu jika kau lari aku akan di penjara. Kau tahu jika aku menangkapmu lari, aku akan menembakmu melalui hati. Ingatlah itu ketika kau melemparkan pandangan rindu keluar jendela." Dengan perasaan menang, Jaejoong mengambil nampan dan berjalan ke atas tangga.

Yunho telah belajar satu hal dari Jaejoong. Pria itu suka sebagai pihak yang mengakhiri percakapan.





Siapakah dirinya? Dan darimana dia berasal?


Pada puncak tangga, di dapur, Jaejoong berhenti dan menggenggam kalung di lehernya. Kalung yang menyatukanya dengan negara dan saudaranya.

Siapa dia? Dan darimana ia berasal?

Jung Yunho menuntut jawaban seolah olah pria itu memiliki hak untuk mengatahuinya. Jaejoong sudah terbiasa menghadapi sikap tersebut.

Akan tetapi Jaejoong tidak pernah bertemu dengan seorang pria yang begitu menunjukan minat untuk dengan halus menyelidiki pikiranya dan menemukan rahasianya.

Jung Yunho mengolok oloknya, mengatakan ia akan menyingkirkan segala hambatan untuk memiliki Jaejoong sebagai simpananya ...

Akan tetapi jika itu benar, jenis mahluk buas penuh nafsu apa yang akan diciptakan dalam waktu dua hari?

Dan mengapa Jaejoong merasakan kehangatn di dalam dirinya, suatu lelehan, rentangan dari semua yang merupakan hal insting dan keinginan.

Siapa dirinya? Dari mana ia berasal?

Oh, Tuhan. Jaejoong hampir tidak tahu. Ia hampir melupakan siapa dirinya dua belas tahun lalu.



                 ~*~

Di luar, hujan musim semi tiba tiba mencurahkan dirinya di jendela yang tinggi. Angin yang mengenai jendela menimbulkan suara berderik yang berulang ulang.

Dengan pencahayaan lilin yang minim, Yoori mengerjakan renda dan manik.

Yunho melihat Jaejoong berjalan kepadanya, dengan langkah menggoda di bagian pinggulnya, menanggalkan pakaianya ketika ia berjalan, Jaejoong tersenyum,menggoda Yunho ketika ia melangkah keluar dari celananya dan berdiri hanya ditutupi kemeja yang tipis, puncak nipelnya terlihat tegag melalui kemeja, karena hasrat untuk dirinya ...



Nada ketus Jaejoong membuyarkan fantasinya. "Mr. Jung kau telah menatap papan catur itu selama lima menit penuh. Apakah kau mau aku menjalankanya untukmu?"

Yunho melompat seperti anak kecil yang tertangkap basah sedang melakukan kesalahan, kursi reot di bawah dirinya berderit.

"Nah, Jaejoong, kau harus sabar dengan Master Yunho." tegur Yoori. "Dia menghabiskan sepanjang hari di belenggu di pergelangan kakinya dan dia siap untuk menggertak seperti seekor singa."

" Lebih menyerupai musang kecil yang bertempramen buruk,"grutu Jaejoong.

Yunho memandang Jaejoong melalui meja panjang. Yunho duduk di satu ujung, Jaejoong duduk di ujung yang lain. Jaejoong menunjukan ekspresi yang sangat tidak setuju dan matanya berkilau dengan kekesalan.

Jaejoomg membuat keadaan menjadi sangat sulit untuk tenggelam dalam mimpi mengenai dirinya. Yunho berharap, hanya satu kali, Jaejoong memberikan sesuatu untuk digunakan, sebuah lirikan menggoda, sebuah senyum yang memberi isyarat.

" Yunho akan lebih baik esok hari ketika uang tebusan tiba dan dia dapat di bebaskan." kata Yoori dengan tenang.

"Besok?" untuk sesaat, Yunho lupa tentang Jaejoong dan penolakanya yang keras kepala bekerja sama dengan leluconya. "Apakah kau yakin hal itu akan terjadi besok?"

"Jika pamanmu mengikuti perintah, maka uang tebusan akan dikirimkan besok dan kau akan dibebaskan." Jaejoong tersenyum pada Yunho dengan puas.

Jaejoong suka saat Yunho berada dalam kekusaanya, Jaejoong pintar, berlidah tajam. Ia juga terlalu kurus untuk ukuran seorang laki laki, atau mungkin karena dia masih belum berusia dua puluh tahun. Namun Jaejoong memiliki wajah yang cukup cantik ketika tersenyum meskipun pria itu mengatakan ia tidak tersenyum.

Jaejoong tersenyum ketika menatap Bibi Yoori. Jaejoong mungkin salah dalam usaha untuk memperoleh uang darinya, akan tetapi Yunho tidak dapat meragukan perhatian tulusnya bagi wanita tua itu. Yunho juga tidak meragukan kemiskinan yang menimpa Yoori.

Yunho melirik pada kurus yang duduk di kursi goyang topi rajut yang menguning di atas kepala Yoori. Yunho mengenali syal yang ada disekitar bahunya, Yunho pernah mengagumi polanya ketika ia masih kanak kanak. Sekarang setengah dari pinggiran syal itu telah menghilang. Wanita itu meringkuk seakan akan kedinginan.

Yoori bergerak dengan kaku dan Yunho dapat melihat memar di lenganya yang telajang akibat kelakuan dirinya. Jari jari renta itu bergerak ketika menciptakan renda manik manik.

Mungkin setidaknya Jaejoong benar. Renda itu membutuhkan banyak waktu untuk menyelesaikanya. Dengan suatu cara Paman Kangin telah jelas jelas gagal dalam mengurus Bibi Yoori, dan hal itu mengarahkan Yunho kepada kekhawatiran bahwa pamanya gagal dalam hal lain.

Mungkin, jika paman Kangin telah benar benar mengabaikan, Yunho dapat memaafkan kekasaran Jaejoong ...jika tidak penahananya.


Yunho memberikan Jaejoong ciuman damai, dan mengeluskan tanganya menuruni lengan Jaejoong dan menaiki paha dalam balutan celana longgar Jaejoong, dan menciuman bibir Jaejoong yang tersenyum kepadanya, sementara Jaejoong Jaejoong memohon permintaan maaf darinya...


Di butakan nafsu, Yunho memindahkan bidak kudanya.

"Mr. Jung, itu adalah gerakan yang ceroboh dan aku mohon ...oh" Dengan menyandar ke depan, Jaejoong mempelajari papan catur dengan teliti. "Betapa pintar dirimu. Aku belum pernah melihat strategi semacam itu sebelumnya. Biar aku pikirkan cara untuk melawanya."

Pintar? Ia melakukan hal yang pintar? Mungkin kehidupan penuh kesia siaan yang ia jalani belum menyebabkan pikiranya menjadi lemah.

Yunho mengedip.
Darimana pikiran itu muncul?
Yunho melihat di sebrang meja. Apakah ia harus bertanya? Hanya dalam waktu satu hari, Jaejoong telah menempatkan ide ide ke dalam kepalanya. Hal itu pastilah pengaruh Jaejoong. Tidakkah mungkin selama ini, ia semacam diam diam sadar bahwa ia telah menghindari tugas tugasnya.

"Bagaimana aku akan dibebaskan?" Yunho berharap mereka memiliki rencana bodoh. Yang akan memberikan ia kesempatan untuk merasa sangat unggul.

"Setelah aku dan Bibi Yoori pergi dari sini ..."Jaejoong memulai.

"Kau akan melarikan diri?" sebuah ejekan tercetus dengan lembut.

"Ya, dari pada tinggal disini melihatmu memerintahkan untuk menguliti kami hidup hidup, kami akan pergi." Jaejoong menantang Yunho dengan sarkasmenya dan logikanya.

"Aku tidak dapat membayangkan dia menguliti kita hidup hidup, sayang." Kening Yoori menegang." Hal itu sepertinya sudah ketinggalan zaman. Aku yakin Yunho akan harus merasa puas dengan mengganggu kita."

" Benar, Mr. Jung?" Jaejoong tertawa di hadapan Yunho.

Siapa pria menyebalkan ini, dengan bahasa, aksen yang bagus dan mulutnya yang pedas?

Yunho membelokan pandanganya kepapan catur. Dengan lirikan gelap dan suara mengandung suatu ancaman, ia menatap Jaejoong. "Aku baru berpikir terdapat cara lain untuk membunuh Pria cantik sepertimu."

Jaejoong mengigit bibir bawahnya dan menatap dengan rasa khawatir seolah olah hal tersebut tidak dapat dipahaminya.

Apakah Jaejoong benar benar lugu?  Atau itu hanya permainan yang dilakukanya seakan semua ini pertunjukan?

"Seperti ...siksaan?" seakan Yunho adalah mahluk aneh ,misterius, Jaejoong mengamatinya dari sudut matanya ketika menggerakan lagi bidak caturnya.

"Beberapa orang mungkin akan menyebutnya siksaan." Yunho meledak mengeluarkan ledakan tawa singkat. Ya, duduk disini menenggelamkan diri dalam fantasi mengenai pria cantik yang tidak terpelajar, berpikir kriminal jelas merupakan siksaan. " Akan tetapi kau sedang mengatakan kepadaku bagaimana aku akan di bebaskan."

"Oh," Jaejoong meluruskan tubuhnya. "Kau tidak memiliki masalah untuk bebas dan kembali ke tempat seharusnya kau berada. Rumahmu yang berada di sebrang lautan."

"Jadi aku berada di Jeju." Ketika hari berlalu, Yunho mulai mengira ngira. Tidaklah mungkin untuk mengatakan melalui jendela tinggi, dan penyihir ini dapat menempatkanya di tempat penyimpanan anggur manapun dan berbohong mengenainya.

Yunho memindahkan bidak.
"Itu bagus." Jaejoong menggerakan bidak mentetinya.

"Kunci dari belenggu telah disimpan di sebuah laci di rumahmu. Setelah kami pergi, kami akan mengirimkan pesan yang mengatakan dimana kunci tersebut,dan kau akan bebas setelah pamanmu datang kesini dengan kunci itu."

Yunho mepelajari papan catur sambil bersama sama mempelajari Jaejoong dengan diam diam.

"Jadi?" Jaejoong mengetuk ngetukkan kakinya.

Yunho memindahkan ratunya ketempat yang baru di gerakan oleh Jaejoong.

"Itu adalah gerakan yang sangat bodoh, Mr Jung."ketidak senangan Jaejoong begitu nyata. "Apakah kau seorang pemain yang biasa biasa saja atau kau bersikap sebagai seorang pria jantan dan membiarkan aku memenangkan permainan, dan keduanya tampaknya tidak mungkin. Jadi apa yang kau pikirkan?"

Yunho sedang berpikir sangat keras bahwa jika Jaejoong adalah miliknya maka ia akan menyuruh Jaejoong untuk mengenakan pakaian dengan bahan terbaik agar melindungi kulitnya yang lembut tersebut ...dan hal itu mengarahkan kembali kepada fantasi yang nyata.

Yunho menggelengkan kepala. Selama dua bulan ia bersembunyi di estat keluarganya di Nami Island, dan selama itu pula ia merasa bosa setengah mati. Kemungkinan karena itulah ia merasa telah begitu lama menahan hasratnya.

Setelah ia bebas ,,, ia akan melupakan Jaejoong dalam pelukan lengan wanita. Atau ia akan mencari Jaejoong dan menunjukan kepadanya apa yang akan terjadi jika ia berani melawan Jung Yunho.

Yunho mengetuk ngetukan jarinya dan tersenyum.

Yunho melucutinya dari kemeja yang buruk rupa menyentuh niplenya dengan jarinya, memeriksa bentuk dan warna dari puncaknya. Mereka selunak dan sepucat buah persik ...tidak bahkan ia memiliki dada layaknya seorang wanita dan tegang dengan hasrat untuk dirinya ...

" Yunho, kau tampak seperti tertidur?" Yoori menyimpan rendanya di meja. " Apakah kami sebaiknya meninggalkanmu?"

"Tidur pada jam segini? Tidak masuk akal. Sekarang bahkan mungkin belum jam sembilan." Di Seoul Yunho menghabiskan malam malam di klup bersama teman dan wanita hingga matahari terbit.

"Itu mungkin benar bagimu, tapi aku seorang wanita tua dan memerlukan tidur." Yoori berdiri.

Yunho juga berdiri, sifat hormat yang ia rasakan tidak ia sesali.

" Aku akan pergi denganmu." Jaejoong bergegas kesisi Yoori." Kita dapat meninggalkan lilin untuk, Mr. Jung, dia dapat membaca."

Yunho melirik ketumpukan buku buku tua di lemari, ia mengenali semua buku itu.

"Tidak tidak, aku tidak apa apa dan tamu kita sebaiknya tidak ditinggal sendirian. Kalian berdua tinggalah disini dan selesaikan permainan kalian." tanpa perasaan takut Yoori datang dan memeluk Yunho.

Jaejoong bergerak tiba tiba menuju mereka, kemudian ketika Yunho membalas rengkuhan Yoori, Jaejoong berhenti. Jaejoong bergerak ke lemari penyimpanan pistolnya, menempatkan tanganya di laci dan menatap Yunho dengan penuh arti.

Yunho mapir tak dapat menahan rasa jengkelnya. Ia telah mempelajari pelajaran pagi ini. Bibinya rentan. Yunho tidak akan permah melukainya lagi.

Menelungkupkan tanganya di sekitar wajah Yunho, Yoori melihat kedalam matanya. "Senang sekali memilikimu sebagai tamuku lagi. Cepatlah kembali ..." Bibinya melempar tatapan bersalah kepada Jaejoong. "Ya, Tuhan, aku lupa. Aku tidak akan berada disini, akan tetapi aku harap kau tidak akan jadi orang asing bagi Jeju. Desa dan semuanya akan gembira menerima kunjungan dari Directur mereka."

Kembali Yunho melirik pada Jaejoong. Yunho melihat dengan jelas senyum mencemoh yang ia hatapkan. Yunho tahu pendapat Jaejoong tentang dirinya.

"Aku akan melakukan itu, Bibi." membungkuk Yunho mengusapkan sebuah ciuman di pipi Yoori.

"Anakku sayang." suara Yoori bergetar. "Aku merindukanmu." dengan pelukan terakhir ia mengambil lilin dan pergi.

Kegelapan memeluk cahaya lain dari lilin. Akan tetapi Yunho masih tidak dapat lolos dari tatapan menuduh Jaejoong. "Directure yang terhormat, tentu saja. Kau tidak tahu bagaimana caranya untuk menjadi pemimpin yang terhormat."

" Aku adalah keturunan Jung. Kami telah menjadi pemilik dari wilayah ini selama lebih dari lima ratus tahus. Ayahku menurunkan pengetahuan yang diperlukan menjadi seorang pemimpin."  akan tetapi ia telah mengabaikan kewajibanya, dan hinaan Jaejoong menyengat dirinya.

Jadi Jaejoong bertanya dengan kejam." Apa yang di ajarkan ayahmu? Atau apakah kau bahkan tahu siapa dia?"

Jaejoong mendekatinya sedemikian cepat, untuk sejenak Yunho berpikir benar benar dapat merenggutnya. Akan tetapi Jaejoong berhenti menyisakan jarak beberapa centi.


  "Ayahku memberitahuku untuk jujur kepada diriku sendiri, dan aku melakukan hal yang benar. Dia menunjukkan kepadaku arti dari tugas dan pengorbanan. Aku mempelajarinya pelajaran yang di ajarkan oleh ayahku. Sangat disayangkan kau tidak melakukan hal yang sama."

Ya, Tuhan! Jaejoong mencambuknya dengan kata katanya. Menunjukkan tidak sedikitpun hormat untuk posisinya.." Apakah lebih baik aku menjadi seseorang yang lembut setelah terjatuh pada saat saat buruk dan membiarkan kepahitan dari kerja keras untuk meracuni dirimu?"

"Apakah itu teorimu mengenai aku?" jaejoong mendengus. " Aku mengira ngira omong kosong apa lagi yang akan kau ciptakan untuk menjelaskan penahananmu disini?"

" Terdapat suatu hal yang membuat dirimu menjadi dirimu, akan tetapi satu hal yang tidak dapat diubah. Kau adalah pria yang tidak masuk akal." Yunho menggunakan nada yang penuh hina yang ia dapat harapkan menjelaskan apa...

" Hidup merupakan latihan yang tidak masuk akal yang dimainkan oleh yang bosan, yang lapar, dan yang putus asa. Dan aku bertahan denganmu. "Jaejoong memandang kesekeliling. "Aku belum dapat keatas. Kau pemain catur yang buruk."

Tersengat, Yunho membalas. "Sebenarnya, aku salah satu pemain ternaik di Seoul." ketika tidak bermain dengan seorang pria cantik, seseorang yang cantik dan membuatnya naik darah.

"Kalau begitu, Seoul adalah tempat orang orang bodoh." Tatapan Jaejoong mendarat di pekerjaan tangan Yoori. "Memasang manik manik dan membuat renda akan membuatmu terhibur."

" Tidak ...hal itu ...tidak akan" Yunho berbicara melalui giginya.

Mengambil potongan renda Jaejoong melambaikanya di hadapanya. "Ayo, Mr. Jung. Pikirkan seberapa puasnya kau untuk menunjukan bahwa aku salah tentang apapun."

"Aku bukan seorang wanita." Akan tetapi Jaejoong juga bukan, dan itu pengecualian untuk pria cantik itu. Yunho menyukai cara Jaejoong mengancingkan kemejanya sampai kancing teratas menutupi dadanya seolah olah menutupinya dari pandangan Yunho, dan dari nafsu pria itu. Tindakan itu menunjukkan pria manis itu tidak berpengalaman atau malah sebaliknya.

"Tidak, kau salah satu orang yang bosan."

Jaejoong benar sekali mengenai hal itu. Yunho tau Jaejoong sedang memancingnya. Ia tahu seharusnya ia tidak menyerah kepada musuhnya. Akan tetapi ia bosan. Dan bernafsu. Dab putus asa. "Baiklah." Yunho mengambil keputusan dengan cepat. "Tunjukan padaku."

Jaejoong tampak terkejut, kemudian curiga.

"Apa?" Yunho mengangkat alis tanpa dosa seoal olah tak bersalah. "Kau telah menyakinkan aku."

"Kau menjadi terlalu menyenangkan."

"Beberapa orang sebenarnya menyebutku pemuda yang sangat menarik."

"Gadis gadis, wanita dan Gay."Jaejoong mengatakan kata tersebut dengan mencela. "Apakah aku benar?"

"Ya."

"Jangan mempercayai mereka." Jaejoong menasihati."Mereka mengejar cincinmu di jari mereka."

Itu juga yang Yunho percayai, akan tetapi Yunho mempercayainya dengan sesuatu yang berbeda. Suatu cara yang seolah olah tidak pernah percaya. Cara yang secara polos memberitahu Yunho bahwa yunho tidak pernah menarik hati.

Mulut Yunho mengeras." Tidak perlu, pergilah keatas. Aku bukan Anak anak. Aku tidak memerlukanmu untuk menghiburku."

"Baiklah."Jaejoong memasukkan pekerjaan yang belum selesai itu ke sakunya." Lagi pula, aku yakin kau tidak akan berkonsentrasi cukup lama untuk belajar.

Yunho melangkah ke tempat tidurnya dan melemparkan diri ke ranjang yang keras itu. "Ya, karena aku lah orang yang dapat di abaikan, tidak bertanggung jawab dan ditertawakan."

Jaejoong merasa ragu, jelas tidak memahami perasaan hati Yunho.

"Ambil lilinya."Yunho menyuruh Jaejoong pergi dengan menjentikan jarinya.

Dengan menyentakkan tubuhnya karena marah, Jaejoong meninggalkan Yunho menatap kegelapan.



         ~*~

" Kita mendapatkanya! Bibi Yoori, kita mendapatkanya!" Hari berikutnya. Hari sudah menjelang malam ketika Jaejoong berlari ke rumah , surat dari Kangin tergenggam erat di tanganya.

Yoochun mengikutinya dengan kecepatan yang lebih lambat.

Yoori bergegas keluar dari dapur, celemek terpasan di atas tubuh berbalut pakaianya. Dan JiJi berada di samping kakinya. "Terima kasih, Tuhan! Sekarang kita dapat membebaskan Master Yunho."

"Ya, sayang sekali." Jaejoong menjawab ketus, akan tetapi ia tidak dapat menahan kegembiraanya.

Mendengar keketusan Jaejoong Yoori terlihat khawatir. "Anakku sayang, kau tidak dapat mengatakan bahwa merupakan hal yang benar untuk menahan seorang pria yang muda dan sehat."

"Hal itu bagus untuk dirinya." Jaejoong menyobek segelnya.

"Bagaimana kau bisa mengatakan itu?" tanya Yoori.

Jaejoong membaca kata kata dengan cepat. "Dia,um, belajar ..." Kata katanya keluar menjadi sangat perlahan.

"Ada apa, sayang?" suara Yoori bergetar.

Jaejoong melihat keatas, Yoori dan Yoochun memandanginya. Ia tidak tahu apa yang harus dikatakanya. Bagaimana mengatakanya pada mereka.

"Lebih baik kau katakan saja, Jae."Yoochun berdiri disana, tegap seperti biasanya, akan tetapi tidak mampu untuk menahan kesulitan keuangan lebih lama lagi.

Yoori membungkuk, rentan dan masih memar akibat terjatuh dengan Jung Yunho.

Jiji duduk seimbang dengan bagian belakang tubuhnya, menjilati perutnya. Dan Jaejoong menyeret mereka ke dalam hal ini.

"Mr. Jung Kangin mengumumkan bahwa ia tidak akan membayar uang tebusan. Dia mengatakan bahwa minta maaf, akan tetapi kita akan harus membunuh Jung Yunho."

"Aku tidak mengerti. Dia tidak percaya bahwa kita benar benar akan memebunuhnya." Jaejoong duduk di meja dapur dan mengusap usap keningnya yang sakit.

Kening Yoori berkerut bingung."Ya ...kita tidak akan melakukan itu."

"Akan tetapi dia tidak tahu itu."Jaejoong ingin naik darah. Sebaliknya ia merasa sangat heran." Dia tidak tahu salah satu dari kita adalah seorang wanita dengan rencana putus asa. Sejauh yang dia tahu, kita adalah penjahat yang kejam. Kita adalah pembunuh. Bahkan jika dia membayar uang tebusan, kita masih dapat membunuh Jung Yunho.!"

" Kita tidak akan pernah membunuh siapapun."

"Aku tidak tahu mengenai hal itu. Jung Yunho sangat menjengkelkan ..."saat Yoori menarik nafas, Jaejoong melunak. "Baiklah kita juga tidak dapat membunuh dia."

Walaupun ketika melihat pria itu bermalas malasan di atas tempat tidur seperti dewa romawi Jaejoong seakan akan ia adalah orang bodoh, ia benar benar berpikir untuk mencekiknya akan lebih baik untuk pria itu. "Akan tetapi Jung Kangin tidak tahu itu."

"Itu yang terus kau katakan,"Yoochun berdiri di pintu lenganya dilipat di dadanya yang bidang. "Akan tetapi Jung Kangin adalah babi yang curang. Mungkin dia berpikir bahwa kau akan membunuh keponakanya dan dia tidak peduli."

Jaejoong mengangkat kepalanya dan menatap Yoochun. Seluruh dunia telah menjadi gila, dan Yoochun berada di dalamnya.

"Yoochun, itu hal yang sangat buruk untuk dikatakan!" Yoori terkejut. "Aku juga memang tidak menyukai Kangin, tetapi dia bukan pembunuh."

"Bukan, Bibi Yoori. Kalau demikian, dia tidak akan menjadi pembunuh." Yoochun berkata dengan tenang. "Jika itu bukan masalahnya, mengapa dia tidak mengirimkan uang tebusanya?"

"Kau meminta terlalu banya." Yoori berpikir mengenai hal itu, kemudian mengangguk seakan akan hal itu membuatnya puas. "Orang yang malang, dia pasti putus asa dengan pemikiran mengenai keponakanya yang malang akan di bunuh karena kurangan uang."

" Akan tetapi dia kaya! Pabriknya menghasilkan uang ribuan meter renda bermanik, juga pusat liburan di busan dan Nami jangan lupa perusahaan dan penyewa tanah." Jaejoong menampar meja. "Dan pabrik baru itu muncul dengan mesin rancanganmu."

"Sayang, kau tidak memahami keuangan,"kata Yoori. " ketika operasi di mulai di butuhkan modal mesin dan pembangunan. Kedanalah uang Kangin di curahkan."

"Bagaimana kau tahu hal itu?" tanya Jaejoong.

"Keluargaku tidak selalu tidak mampu."Yoori mengangguk dengan bijak.

"Tidak juga keluargaku," kata Jaejoong. "Akan tetapi kami tidak pernah harus mengurus uang kami sendiri."

"Kau memiliki seorang sekertaris pribadi." mata Yoori bersinar seperti ia sedang membayangkan romansa dari masa lalu Jaejong. "Baiklah, tentu saja kau punya."

Dari ruang penyimpanan anggur, teriakan seseorang pria terdengar. "Jae, aku dapat mendengar kau berbicara. Jika kau kembali, jika kau kembali kau dapat melepaskan aku."

"Ya, Tuhan." Jaejoong merasa putus asa. "Apa yang akan kita katakan kepadanya?"

"Kita." Yoori melebarkan matanya yang polos.

" Ya, kurasa aku layak memperoleh itu." ketika Yunho berteriak kembali, Jaejoong berpaling menatap tangga. "Apa yang akan ku katakan padanya?"

"Bahwa bagaimanapun juga kita akan membebaskanya?" Yoori menyarankan.

"Jangan konyol. Kita tidak dapat menyerah sekarang. Dia tahu apa yang telah kita lakukan dan tanpa uang kita tidak dapat melarikan diri."Jaejoong berdiri. " Tidak. Biarkan aku menangani masalah ini. "Jaejoong mulai menuruni tangga.

"Jae, kau mungkin sebaiknya mempertimbangkan untuk menenangkan mahluk buas yang liar." Yoochun mengangguk kearah nampan Yoori yang penuh yang telah diisi minuman teh untuk Yunho.

"Mengapa aku harus mengambil hati laki laki itu? Dia dalam keadaan kuasa kita." Akan tetapi sikap menantang Jaejoong bergema tanpa suara di dapur.

Ia menyeret kakinya dengan enggan ketika ia berjalan ke poci teh. Menuangkan secangkir teh dengan gula dan krim. Ia menempatkan sebongkah besar roti di piring. Ia menyelipkan surat Mr. Kangin di bawah piring.

Teriakan ketidak sabaran dari bawah semakin meningkat.

Mengambil nampan Jaejoong bergerak lebih jati hati menuju tangga, berharap dengan seluruh keinginanya bahwa ia tidak perlu menghadapi Jung muda itu dan berusaha untuk menjelaskan apa yang terjadi.

Suara teriakan itu berhenti ketika suara derap langkah pertama terdengar di tangga. Jiji menyelinap menuruni tangga di belakangnya. Ia memfokuskan pandanganya kepada cangkir teh agar tidak tumpah, kemanapun agar tidak melihat Yunho. Jaejoong merasakan tatapan Yunho kepadanya, menatap tajam setiap gerakan Jaejoong.

Ketika Jaejoong menempatkam nampan di bagian ujung meja lain, Yunho berkata. " Suatu gambaran kerumah tanggan yang indah yang kau buat. Sebuah topi pelayan dan celemek akan melengkapi gambar itu."

Pada nada lambat yang di ucapkan dengan menyindir itu, tatapan Jaejoong terlempar kepada Yunho.

Pria itu tahu. Dengan suatu cara, Yunho tahu. Jaejoong melirik ke tangga.

"Kau mengira ngira apakah kau dapat mendengar apa yang terjadi diatas sana. Aku tidak dapat. Akan tetapi ketika kau menuruni tangga membawa nampan permohonan maaf dan ekspresi wajah seperti itu ..." suara Yunho meninggi. "Aku tahu ada sesuatu yang salah."

Jiji menyelinap di sekitar pinggiran dinding memasang mata waspada kearah dua orang itu.

Tulang belakang Jaejoong menegang. "Tetapi tidak ada hal apapun yang dapat kau lakukan mengenai hal itu. Kau adalah tawanan kami." Jaejoong mendorong nampan itu mendekati Yunho, tetap berada cukup jauh dari jangkauan pria itu.

"Ya, benar, dan aku sudah mulai bosan dengan itu." Yunho memiliki luka kecil di dahunya bekas pisau cukur yang dihasilkan oleh tanganya yang tidak pernah menggunakan benda itu sebelumnya. "Kapan aku dibebaskan?"

"Makanlah sebuah roti. Mereka baru di panggang pagi ini dari toko roti terbesar di sini."

"Aku tidak mau roti. " Yunho menekankan kejengkelan di antara kata katanya. "Aku ingin keluar!"

"Kami belum dapat melakukan hal itu," Jaejoong bertengger di lengan kursi, berusaha menunjukan tingkah laku yang biasa, seolah olah bernafas tanpa hambatan." Setidaknya minumlah tehmu selagi panas."

Yunho mengabaikan semua hal kecuali apa yang Jaejoong inginkan agar di abaikan. "Mengapa kau tidak dapat melepaskan aku?"

"Karena pamanmu tidak mau membayar uang tebusan."

"Apa?" panas dari Yunho hampir menjatuhkan Jaejoong dari kursi.

"Pemanmu tidak mau ..."

"Aku mendengarmu." Yunho tidak berdiri penuh ketika ia bangkit menjadi ketinggian yang luar biasa. "Kau mengharapkan aku untuk mempercayai hal itu?"

"Untuk alasan apa aku berbohong?" kemarahan mendidih di saraf Jaejoong, dan sedikit kegembiraan yang nyata. Untuk alasan buruk apapun Jaejoong suka membuat Yunho kehilangan kesabaran dan meraung.

Melihat Yunho yang dipenuhi amarah membuat jantungnya melompat di dadanya, membuat kulitnya merinding, memalukan ini bukan sesuatu yang ia suka untuk ia akui, atau bahkan sesuatu yang ia pahami, akan tetapi hal itu ada dalam dirinya dan ia hidup di dalamnya. Di dalam diri Yunho. "Walaupun kau adalah orang yang sangat tidak tahu adat, apakah untuk satu menit kau membayangkan bahwa aku ingin menyimpanmu disini?"

" Aku membayangkan kau menikmati hal itu ...memegang nasib seorang pria yang terpandang di dalam tanganmu yang tidak penting. Menggunakanku sebagai pembalasan untuk semua laki laki yang telah mempermalukanmu secara tidak hormat dan tidak memperlakukanmu dengan penghormatan yang kau asumsikan layaknya kau peroleh." Yunho bergegas meraih ujung rantainya, dengan otot yang mengendur dan mengencang seperti harimau yang sedang berkeliling mencari mangsa.
"Aku tidak tahu siapa dirimu, akan tetapi Mr. Kim Jaejoong, rencanamu ini di takdirkau untuk gagal."

"Jadi kau yakin rencana ini akan gagal? Atau bahwa aku berbohong tentang uang tebusan sehingga aku dapat menahanmu disini? " Jaejoong menawarkan pilihan.

"Karena kau tidak memiliki keduanya. Apakah ini karena pamanmu menolak untuk membayar uang tebusan karena dia tidak dapat mengumpulkan sukup banyak uang ..."

"Apakah kau menyangkalnya?"

"Tidak, aku tidak menyangkalnya!".Jaejoong juga mulai merasa kesal. "Kau layak untuk di pukul juga hingga kau belajar sejumlah perilaku, walaupun aku kira sudah terlambat untuk itu. Akan tetapi jika hal terakhir itu benar, jika aku menahanmu disini untuk menyiksamu, Mr. Jung? Kapan aku mengatakan ini sudah cukup dan pergi? Karena diluar sepengetahuanku, kami mengeluarkan uang kami yang terakhir untuk menyediakan makanan yang enak bagimu."

" Kau menyebut ini makanan yang enak?" dengan sapuan dari lenganya, Yunho menyapu bersih isi nampan. Cangkir dan piring pecah ketika mereka menghantam dinding. Roti terlempar ketanah. Surat berkibar di lantai.





             ~TBC~

Senin, 01 Juni 2015

Black Pearl chap 2 (Remake) Yunjae


Title        : Black Pearl
Author    : Sulis Kim
Main C,  : Kim Jaejoong
                  Jung Yunho
                      Other

Rate    : M+18
Ganre  :Romance, Fiction.

            WARNING

Remake novel Christina Dodd. Title The Barefoot Princess. YAOI. Boy x boy. Dengan berbagai perubahan untuk keperluan cerita. Di ganti dengan Cast fav author. ^.^ jika tidak suka mohon jangan baca, demi kenyamanan bersama. Author cinta damai.

Apabila ada kesalahan typo dan lainya mohon di maklumi. Menerima kritik dan saran. No Bash. ^.^
 

Happy reading ...!



 

Apa yang dilakukanya untuk layak memperoleh rasa tidak suka yang amat sangat dari Jaejoong? Mengapa ia peduli? Ia tidak pernah lembut menolah pria bersetatus uke sebelumnya, dan tidak juga untuk Jaejoong. " Bagian mana dari badanku yang akan kau tembak?" Yunho mengejek. " Yang tampak hanyalah kepalaku ...dan kau tidak mungkin sehebat itu dalam menggunakan senjata."

" Aku bisa," kata Jaejoong. " Pada hitungan ketiga aku akan menembak. Satu..."

" Kau akan mengambil resiko menyakiti Bibi Yoori?" tanya Yunho.

" Aku tidak akan menyakitinya. Dua..."

" Jaejoong, tolong, lepaskan dia!" Yoori memohon. "Dia anak laki laki yang sangat manis."

" Tiga." mata Jaejoong menyipit, jari jarinya mulai menekan pemicu.

Dan Yunho memutar Yoori ,memutarnya menjauh dari dirinya dan mendorong kearah lemari.

Yoori mendarat dengan bunyi gedebuk dan jatuh.

ketika pistol meletetus.

Yunho menelungkup di lantai. Sebuah tembakan mendesis melewati tempat di samping kepalanya tadi berada.

Jaejoong mendesis lega. " Sialan. Untung kau menyerah lebih cepat. Mr. Jung."

" Jangan menyumpah seperti itu, sayang. Itu tidak baik. " Dan di lantai. Yoori menangis.

Yunho secara mengejutkan juga merasa ingin meledak tangisnya. Tidak peduli bahwa dia mengatakan pada dirinya sendiri bahwa Jaejoong tidak dapat mengenainya. Ia tidak dapat mempercayai dirinya sendiri. Pria bermata tajam itu membencinya, hingga pria itu menempatkan kembali senjata itu di lemari, Yunho tidak dapat melepaskan nafas tertahanya.

" Bibi Yoori," tanpa mempedulikan tatapan lainya. Jaejoong bergegas kesisi wanita itu. " Apa kau baik baik saja? Apa dia melukaimu?"

" Tidak. Tidak, Ya. Sedikit ketika dia melemparkanku." Yoori menggosok gosok bahunya. " Akan tetapi dia hanya tidak ingin aku tertembak hanya karena kau ingin meledakkanya."

" Meledakkanku?" Yunho tertawa. Berdiri dan menepuk nepuk debu di celana panjangnya. Sebelum menempatkan pisau di meja.

Dan menyadari segera bahwa keherananya tidak berkenan bagi Jaejoong. Jaejoong melihat dengan menghina dan benci. " Bagaimana rasanya untuk menjadi seorang yang terhormat dan jahat sehingga kau harus menggunakan wanita kecil ini sebagai tameng."

Sebenarnya Yunho merasa sedikit malu atas dirinya sendiri, akan tetapi ia tidak akan mengatakan pada orang menyebalkan tersebut. " Aku mendorongnya kesisi ketika kau menembaknya."

" Kau mendorongnya keluar ketika kau menyadari aku akan menembakmu." jawab Jaejoong dengan sengit.

" Itu tidak benar," Yunho tidak percaya bagaimana gadis itu dapat menyalah artikan tindakanya." Tidakkah kau memiliki perasaan hormat untuk orang yang berkuasa?"

" Itu sebabnya aku akan membantu Bibi Yoori naik ke atas dan mengantarkanya ketempat tidur dengan secangkir teh hangat. Kau dapat duduk saja disini dan ...dia mendentingkan belenggumu!" Dengan lenganya merangkul Yoori, Jaejoong menaiki tangga ke atas.

" Tidak, sayang." Yunho mendengar Bibinya memperingatkan. " Dia tidak akan menyakitiku. Dia dulu anak laki laki yang baik."

Yunho membenamkan diri ketempat tidur. Ketika dia masih muda, orang orang mengatakan bahwa, mempertimbangkan, ia adalah anak laki laki yang baik.

Yunho senang mengunjungi Lee Yoori. Ia menyukai kue buatanya dan kehebohan yang dibuat Bibinya untuk roti keju. Lee Yoori telah menjadi pengaruh yang bedaradap terhadap anak laki laki yang dibingungkan oleh peristiwa yang tidak ia pahami.

Yunho tidak ingat kapan ia menghentikan kunjungan tersebut. Hal itu tidak lebih dari sebagian hal untuk tumbuh besar, menemukan sesuatu yang lebih menarik, pesta, wanita rokok serta lautan langit dan bumi.

Yunho teringat ketika Jaejoong berkata dengan tenang dan kuat 'Tiga'. Ia mengingat kilasan tersebut dengan tangan bergetar.

Yunho tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi disini. Akan tetapi ia tidak bermaksud untuk mati di tempat ini, di tempat terkutut di tangan seorang pria cantik. Ia akan melarikan diri.

Duduk tegak, Yunho mencoba melepaskan belenggu.

           ~*~

Di kamar tidur Yoori tidak protes ketika Jaejoong membantunya naik keranjang. Ia meringis ketika mengangkat lenganya guna menyelipkan selimut. Jaejoong menyibak gaun Yoori, dan melihat memar keunguan mulai muncul di kulit rentan wanita itu.

Dengan marah Jaejoong berharap kepada mahluk buas dibawah memiliki sedikit moral atau menunjukan penyesalan yang layak.

" Jongie sayang, apakah kau ingat ketika Yoochun membawamu kesini dalam keadaan basah kuyup dan berlumur lumpur."

" Tentu saja aku ingat."

" Aku bertanya darimana kau berasal, dan kau memalingkan mukamu dan kau tidak mau mengatakan satu katapun. Kau menolak mengatakan darimana asalmu dan saudaramu yang hilang. " Yoori mengelus lengan Jaejoong. " Aku takut kau tuli atau bisu, kau jelas jelas kelaparan."

" Kau memberikan aku makan malammu." Jaejoong menarik selimut menutupi kaki Yoori.

" Dan kata pertama yang kau ucapkan adalah, ' Tidakkah kau takut, aku akan membunuhmu ketika kau tidur?"

" Aku memang secara abadi menarik," Jaejoong menertawai dirinya sendiri dan keabsuran situasi saat ini." Dan Jung Yunho akan setuju."

" Dia tidak mengenalmu,sayang. Jika dia telah mengenalmu, dia akan menyukaimu seperti semua anak muda di desa ini." Yoori menghela nafas. " Aku merasa kasihan kepadamu, sendirian di dunia tanpa pelindung atau siapapun yang peduli kepadamu. Aku ingin merawatmu dan menyimpanmu selamanya."

" Kau wanita terbaik di seluruh dunia." Jaejoong tahu apa yang ia bicarakan. Ia telah berada di dunia luas sejak dua belas tahun, sebagian besar waktu dengan saudaranya Kim Heechul, akan tetapi dua tahun sendirian. Ia telah melihat hak hal yang buruk, mengalami kekejaman dan celaan, kemiskinan dan teror. Jaejoong belum pernah bertemu dengan orang sebaik Lee Yoori.

" Dengan caranya sendiri, Master Yunho tersesat sepertimu." Yoori berkata dengan nada kecil dan sedih.

Jaejoong menahan diri untuk tidak mendengus, akan tetapi tidak berhasil.

" Itu benar. Ketika ibunya meninggalkan kami, Yunho baru berusia tujuh tahun. Tidak ada anak laki laki kecil yang terlihat lebih begitu sedih. Ayahnya Jung Siwon adalah pria yang baik, tetapi ia menerima kehilangan istrinya dengan buruk. Dia menjauh dari kasih sayang kasih sayang apapun, termasuk untuk anak laki lakinya. Ia mengajarkan Yunho bagaimana menjadi seorang pria. Tidak ada yang memeluk Yunho atau mencium lukanya atau mencintainya."

Jaejoong tidak paham kenapa wanita tua itu berpikir hal itu penting. Ia tidak dapat mengingat ibunya sendiri, dan jika Granmama-nya telah memeluknya, ia pasti akan mati beku.

Yoori tidak menjelaskan lebih lanjut. Wanita itu memiliki kecwnderungan bahwa orang paham betapa pentingngnya Cinta, bahkan kepada pria bajingan seperti Yunho ...dan jiwa yang hilang seperti Jaejoong.

          ~*~

Dengan sangat hati hati, Jaejoong membuka pintu tempat penyimpanan anggur, dengan tindak tanduk yang begitu sopan. Dan sebagai hadiahnya, ia memiliki kepuasan melihat Yunho duduk di tempat tidur dengan lutut terlibat di kedua sisi tubuhnya dan pergelangan kakinya tertarik ke rah dabanya, mengutuki belenggu itu.

" Aku menemukan benda itu dari kastilmu sendiri." kata Jaejoong.

Yunho melompat seperti anak kecil yang ketahuan berbuat nakal. "Kastil ..ku?" seketika ia menyadari apa yang di maksudJaejoong. "  Di pulau ini maksudmu. Tumpukan peninggalan tua itu."

"Ya." Jaejoong berjalan lambat, jauh kedalam ruangan." Aku pergi keruang bawah tanah, merangkak di antara sarang laba laba dan kerangka dari musuh keluargamu ..."

" Oh, yang benar saja." Yunho meluruskan kakinya. " Tidak ada kerangka apapun."

" Tidak." Jaejoong mengaku.

" Kami sudah menyingkirkanya bertahun tahun lalu."

Untuk seketika Jaejoong merasa terkejut. Jadi keluarga Jung adalah pembunuh yang kejam. Kemudian Jaejoong menyadari Yunho menyerigai. Orang bodoh ini mengolok olok jeri payahnya.
" Jika saja aku menemukan dua belenggu yang dalam keadaan baik, aku akan mengunci kedua kakimu ke dinding."

" Mengapa berhenti disitu? Mengapa tidak tanganku juga?" Yunho menggerakkan kakinya dan menimbulkan suara berdenting yang keras. " Bayangkan kepuasan yang kau peroleh, tubuhku yang telanjang, dan kelaparan terantai di dinding batu yang dingin ..."

"Kelaparan?" Jaejoong mengalihkan pandanganya pada nampan sarapan yang kosong, kemudian berhenti untuk membiarkan bibirnya tersenyum sarkartis.

" Kau akan suka melihat badanku yang telanjang, bukan?" Yunho menatap mata Jaejoong, dan untuk satu detik Jaejoong melihat mata setajam musang Yunho. " Bukankah hal ini semua tentang itu?"

" Maaf." Jaejoong mendekati pria itu bebetapa langkah , meskipun ia menjaga jarak dari Jaengkauan lengan panjang pria itu. " Apa yang kau bicarakan?"

" Aku menolakmu bukan?"

" Apa?" apa? Apa yang pria itu ocehkan?

" Kau pasti salah seorang di masa laluku, pria Gay penggoda tidak penting yangku abaikan pada pesta di klup yang ku datangi, dan aku mengabaikanmu." Yunho merentangkan tubuh di atas tempat tidur menandakan kesantaian penuh. " Atau mungkin aku melihatmu, tetapi aku tidak bicara denganmu. Atau aku lupa menawarkanmu sesuatu, berdansa misalnya ..."

" Aku tidak mempercayaimu," Jaejong berjalan terhuyung ke kursi goyang dan duduk di atasnya. " Apakah kau mengira seluruh penculikan dilakukan karena kau, Mr. Jubg yang terhormat, memperlakukan aku seperti orang mengemis cintamu dan di abaikan?"

" Tampaknya aku mengabaikan para pria cantik, aku memiliki selera yang lebih baik dari itu. Banyak gadis yang naik keranjangku dengan suka rela." Yunho melemparkan pandangan mengkeritik naik dan turun ke pakaian kumuh pria itu, kemudian fokus ke wajahnya.

" Kau tidak seperti orang yang biasanya, kau harus tahu itu. Dengan pakaian modis yang lebih layak dan gaya yang di sukai pria cantik pada umumnya ...kau akan tampak pantas bahkan lebih cantik."

Jaejoong menggenggam lengan kursinya, bahkan tidak ada berani memujinya seperti itu. Ok , memang ada beberapa orang mengatakan dia cantik tapi tidak di depan wajahnya dengan serigai menyebalkan.

"Kita sama sekali tidak pernah bertemu Mr. Jung."

Seolah olah Jaejoong tidak pernah berbicara Yunho melanjutkanya. " Tetapi aku tidak mengingatmu. Jadi aku pasti mengabaikanmu dan melukai perasaanmu ..."

"Persetan." Mendadak bangkit dengan amarah dari kursinya Jaejoong bergegas kebelakang kursi, mengenggam bagian belakangnya cukup keras untuk membelah kayu. Kesombongan pria itu sangat luar biasa bebal!

"Tidakkah kau mendengarkan satu kata pun yang aku katakan kepadamu? Apakah kau sedemikian congkak sehingga kau tidak paham ada seseorang yang tidak tertarik kepadamu sebagai pasanga?"

" Bukankah congkak itu tindakan yang benar?" Yunho menambahkan dengan yakin.

Jaejoong tidak bisa mempercayai Yunho. Pria itu membayangkan dirinya di lapisi emas. "Aku telah mengatakam hal yang sebenarnya kepadamu. Kami menculikmu sebagai ganti pencurian dan pengabaianmu."

" Aku bukan pencuri." Yunho berbicara melalui giginya, " Aku tidak mencuri apapun dari Bibi Yoori, dan bahkan jika aku melakukanya apa bedanya? Mesin manik manik, renda? Apa nilai benda itu?"

Oh, pria itu benar benar sombong. Jaejoong ingin menempatkan pria itu di sebuah pabrik mengawasi mesin membuat renda selama dua belas jam sehari.

Mengambil gulungan benang Yoori dari meja, Jaejoong melambaikan potongan kecil renda hadapanya. " Wanita membayar renda bermanik untuk gaun dan syal mereka. Rancangan rumit dan sulit untuk di pelajari. Apakah kau tahu berapa lama waktu untuk menciptakan dua setengah centi renda bemanik?"

" Tidak, tetapi aku yakin kau akan mengatakanya kepadaku." Yunho tidak dapat terdengar lebih merasa bosan.

" Bibi Yoori sangat mahir melakukanya, dan dia memerlukan waktu dua jam."

Yunho menunjukkan wajah merendahkan. " Kau melebih lebihkan."

"Apakah aku begitu." Jaejoong mulai merasa senang. "Mari kita lihat seberapa cepat kau dapat menempelkan manik manik dan membuat renda."

" Aku tidak akan melakukan itu."

"Tentu saja tidak, kau laki laki terhormat. Kau memiliki hal lain yang lebih untuk dilakukan. Berfoya foya, bertinju, merokok ,berpesta..." Jaejoong melirik tempat penyimpanan anggur." Apa yang sedang kau lakukan sekarang"

Gigi putih Yunho terkatup rapat. "Aku dapat membaca jika kau punya sebuah buku."

"Oh, kami punya buku. Kami punya beberapa buku. Mereka buku usang, telah dibaca tapi dihargai. Yang tidak kami punyai adalah uang untuk membayar listrik, bahkan untuk membeli lilin."

" Apakah kau ingin mengatakan bahwa malam ini aku akan duduk disini dalam kegelapan?" Yunho duduk, sikap berputa pura santainya hilang.

" Aku berkata , Bibi Yoori akan mengorbankan lilinya untukmu dari pada membiarkanmu duduk di kegelapan, tapi cahaya ini remang remang, mungkin hanya percikan cahaya, tidak sama sekali dengan apa yang biasa kau gunakan. Itu mengapa kami menempelkan manik dan membuat renda. Jika kau belajar kau dapat melakukanya dalam cahaya yang buruk."

" Seberapa sulit hal itu jika kau melakukanya dalam gelap?" Yunho tertawa dengan memandang renda." Tapi tentu saja,itu pekerjaan wanita. Dan kukira kau juga tidak kesulitan sama sekali."

Jelas bahwa Yunho memiliki pandangan menghina tentang genre Jaejoong. Dan bukan hanya hinaan merendahkan diri yang ditunjukan seorang pria. " Jangan takut Mr. Jung. Kau tidak perlu khawatir kau akan membuat dirimu sendiri kelihatan bodoh" Jaejoong kembali mengeluarkan potongan kecil manik lainya. " Kita akan memukai dengan rancangan sederhana denganmu."

Yunho mengabaikan Jaejoong dengan ketidak pedulian yang sombong. Merayap kembaki ketempat tidur seperti ular yang sedang mencari tempat di batu yang hangat. " Katakan sebenarnya? Apakah aku mematahkan hatimu?"

" Jung Yunho! Aku tidak punya hati wanita untuk di patahkan." Yunho menghujamkan pandangan mengkeritik ke tubuh Yunho yang bermalas malasan." Dan jika aku memang punya, dan hati itu tidak akan patah oleh orang sepertimu. Membisankan, lamban, tidak punya hati, tanpa rasa hormat apa lagi hati nurani ..."

"Jadi berdasarkan cacianmu, kau menyatakan bahwa kau benar benar tidak pernah menginjakakkan kaki di Seoul." Yunho tidak pernah merasakan sedemikian terhina di sepanjang hidupnya, dan oleh pria ini , mahluk ini...

Siapa pria itu yang berani menahan dan mengkritik tanpa rasa hormat Jung Yunho. Selama ia di belenggu Yunho tidak akan bisa berbuat apa apa untuk mencari tau siapa sebenarnya Jaejoong. Dan kelemahan kelemahan pria itu.

Yunho kembali bersandar ke tempat tidur, secara sadar memberikan gambar bermalas malasan. Karena ia menikmati mengamati Jaejoong yang berbudi ini, menunjukan raut wajah asam di wajahnya. "Kalau demikian siapa kau? Dari mana asalmu?"

" Aku Kim Jaejoong dan aku ..."Jaejoong merasa ragu dan tersenyum sedikit. " Tidak dari sini maupun Korea."

" Tidak. Kau berasal dari Beaumontagne, karena Bibi Yoori mengatakan itu."

Yunho memiliki kepuasan melihat mata Jaejoong melebar dengan ngeri."Dia mengatakan itu kepadamu?"

"Bagaimana lagi aku bisa mengetahuinya?"apakah pria itu merasa bersalah karena berbohong tentang asal usulnya? Atau apakah gadis itu terkejut karena Yunho telah menemukan kebenaran? " Kau memang memiliki sedikit aksen, tetapi aku tidak mengenalinya. "

"Apalagi yang dikatakannya kepadamu?" Jaejoong bersandar di meja sebrangnya. "Apa lagi?"

"Tidak ada lagi. Mengapa?"

"Tidak apa apa." Jaejoong menyandar lagi kebelakang. " Aku hanya mengira ..."

"Kau mengira dia telah menghianati rahasiamu." Dengan terbukanya rahasia tersebut, Yunho hampir disirami perasaan gembira, dan Yunho mengalami kegembiraan lagi ketika Jaejoong menghianati dirinya sendiri dengan gelengan kepala. "Atau ..tidak semua rahasiamu, tetapi satu rahadia besar."

" Aku yakinkan kau, jika aku memiliki sebuah rahasia, tidak ada gunanya jika kau mengetahuinya." Jaejoong mengabaikan Yunho dengan melambaikan tanganya.

" Tidak, ketika aku terikat. Akan tetapi itu memberikanku teka teki untuk dipecahkan. Biar kupikirkan, apa yang ku ketahui tentang Beauntangne?" Yunho menyelidiki dalam pikiran. " Terdapat sebuah revolusi disana sekitar sepuluh tahun yang lalu. Presiden terbunuh dalam sebuah kerusuhan,  pemberontakan terjadi dinegara itu. Negara tersebut di pulihkan oleh seorang Wanita bangsawan, akan tetapi dia sangat tua, spekulasi mengatakan bahwa dia dikendalikan di belakang layar. Seseorang mengambil alih kuasa dan sejenisnya."

Jaejoong melipat tangan di atas perut ketika ia mendengarkan.

Jadi Yunho memberikan Jaejoong sakit di perut, bagus. " Terdapat anak anak, akan tetapi dia menghilang dalam kehebohan dan diperkirakan telah mati jika memang bahwa wanita bangsawan yang di anggap ratu itu memang berkuasa , tidak ada orang untuk mewarisi tahta itu, kebangsawanan pemimpin sangat dibutuhkan, seperti seorang pangeran, atau putri." ketika Yunho berpikir, ia menepuk nepuk bibir dengan jarinya. "Dan kurasa kau mungkin ..." ketika ia mengamati ketegangan dalam diri Jaejoong. "Seorang pengungsi."

" Aku mungkin demikian. Atau aku mungkin seorang artis luar biasa yang telah mengubah bakatku menjadi membayangkan sebuah masa lalu untuk diriku yang sebenarnya."

"Bukan seorang artis, aku kira bukan. Jika kau seorang artis aku pasti pernah melihatmu, dan mungkin aku akan melalui semua rintangan untuk menjadikanmu simpananku."

"Kau benar benar seeokor anjing." bibir Jaejoong mungkin menyerigai mencemoh. Akan tetapi bibir itu menjanjikan kesenangan seksual.

" Dan aku tidak mungkin salah satu simpananku, aku tidak tertarik dengan pria,  Aku akan mengingat hal itu." Bahkan, keseluruhan diri Jaejoong bernyanyi kepada Yunho seperti seorang siren yang menggoda pelaut untuk menabrak batu karang.

Yunho tidak suka perasaan bahwa ia menginginkan Jaejoong, akan tetapi ia adalah seorang pragmatus. Jika ia harus dikurung, lebih baik untuk memiliki seorang penjaga yang bergerak dengan sensualitas yang memuaskan. Tidak peduli Jaejoong seorang pria, ia memiliki kulit halus dan tubuh yang menggoda bahkan mampu membuat pelacur iri padanya.

Dengan nada yang tenang, Yunho berkata. "  Walau kau bukan jenis simpanan yang aku sukai, aku lebih suka wanita, wanita yang tunduk yang hidupnya didedikasikan untuk membuatku gembira. Akan tetapi mata hitammu dan tubuhmu sangat luar biasa. Aku takut aku tidak bisa untuk mengambilmu."

Mata hitam Jaejoong menyipit dengan berbahaya.

" Dengan mata besar dan eksotis, aku heran bagaimana seorang pria bisa memiliki mata sepertimu." Yunho melanjutkan. " Mata itu hampir menyerupai mata kucing."

Tangan Jaejoong melingkar seperti kucing." Apa kau selalu menyebut aset seseorang dengan  keras kepala mereka?"

"Tidak pernah."Yunho menusuk Jaejoong dengan ucapan tajam. " Akan tetapi aku membosankan, lamban, tanpa rasa hormat  ataupun hati nurani, ingat?"

Ketika Yunho melemparkan kata kata Jaejoong dendiri ke wajahnya, mata Jaejoong bersinar dan kembali Yunho memikirkan bahwa Jaejoong memiliki mata seperti racun.

Ini adalah pembalasan untuk rasa malu karena di rantai, akan tetapi Yunho menikmati dirinya sendiri secara berlebihan. " Aku rasa rambutmu, jika tidak kau ikat separuh, pastilah sangat indah."

Seperti dugaan Yunho, Jaejoong mengangkat tanganya menyentuh ikatan kecil di pertengahan kepalanya. Dengan gerakan sederhana itu, ia menampilkan figurnya, kesombongan, insting yang tidak dapat ia tutupi.

Yunho mengambil keuntungan tanpa ampun dari pemandangan tersebut, dan meneliti lekuk tubuh Jaejoong. Bagian punggung yang dikagumi Yunho serta dada pria itu yang memang lebih berisi di banding pria pada umunya serta pinggang yang ramping " Kau memiliki lekuk tubuh yang bagus." Untungnya, untuk dirinya yang bosan dan tanpa hati nurani, Jaejoong memang memilikinya. " Walaupun pakaianmu sama sekali tidak sesuai." dan hal itu merupakan sebuah penghinaan.

Jaejoong memang memakai kaos lusuh dan celana panjang lusuh. Garis leher kaos itu memang sedikit rendah dan memperlihatkan sebagia dada dan pundaknya. Dan Yunho terperangkap dalam kilasan fantasi yang memperlihatkan ia menyingkirkan kaos itu dan mengekuskan tanganya di dada ... Ia menyadarkan diri sendiri dan tersenyum. Ya pria itu menarik dan ia bosan.

Jaejoong menyadari bahwa ia berpose untuk Yunho, apakah itu senyumnya? " Dalam skenario mana dari dirimu di mana aku tidak akan terhina mendengar penilaianmu atas tubuhku atau pakaianku?"

"Selama kau berada disini, aku berjanji aku akan mengatakan pendapatku." Senyum Yunho mendingin. " Itu hanya sedikit yang aku lakukan untuk menghargai keramahanmu."

Yunho sudah cukup bosan dalam sehari dan tidak melihat matahari, ia sudah mencoba menggerakan kakinya dan syukurlah kakinya tidak terkilir meskipun masih sedikit nyeri. Ia berharap Jaejoong merasa jijik dan membiarkanya pergi ...akan tetapi tidak berguna , untuk mahluk bermata kucing ini.

Sebaliknya Jaejoong memutar mata keseluruh ruangan. Dengan dengusan, Jaejoong duduk di ujung meja berlawanan dengan Yunho, berada di luar jangkauan pria itu. " Apakah kau akan mengira aku akan terkejut karena kau menyinggung wanita simpanan dan melarikan diri?"

" Tidak." Yunho mengamati Jaejoong, pria itu kurus tapi ia cukup kuat. "Kau tidak menyembunyikan wajahmu atau menarik nafas karena ngeri."

"Setiap orang tau, pria sepertimu memiliki seorang simpanan. Bibi Yoori tau kau memiliki banyak kekasih gelap."

"Akan tetapi Bibi Yoori akan berpura pura dia tidak tahu, dan yang paling jelas adalah ia tidak akan membiarkan kata itu keluar dari bibirnya. Dan ia wanita terhormat " Yunho mengamati Jaejoong dengan seksama untuk melihat bagaimana hinaan tersebut telah mempengaruhinya.

Hal tersebut tampak tidak mempengaruhi Jaejoong sama sekali." Jadi demikian."

" Kau di lain pihak, mungkin kau berbicara seperti seorang yang terhormat, tetapi kau tidak dilindungi dari kenyataan hidup. Ketika aku berbicara denganmu, aku belajar banyak hal mengenai dirimu."

" Apa maksudmu? Mengapa kau peduli untuk belajar tentang aku?" Jaejoong merasa tersinggung, naik darah.

Yunho duduk dengan perlahan, membiarkan Jaejoong mengamatinya. " Jika aku bebas dan aku akan menangkapmu serta mengirimkanmu ke penjara . Aku ingin mengetahui pria sejenis apa kau ini sehingga aku akan menghindari dari pria sepertimu."

Jaejoong menyembunyikan kegusaranya, tentang penjara." Aku hampir dapat menjanjikan bahwa kau tidak akan pernah menemui pria seperti aku."

"Kau membayangkan dirimu sebagai orang yang unik."Yunho memang sedikit heran. Setiap irang ingin tampi berbeda tapi tidak dengan Jaejoong.

" Aku tidak membayangkan apapun. Bayangan hanyalah kemewahan yang tidak dapat aku peroleh."

Jadi begitu, pria itu adalah seorang pragmatis, seorang pragmatis yang sangat muda. "Aku memiliki imajinasi ,imajinasi itu cukup aktif."

"Membayangkan aku mendapat hukuman gantung, Mr. Jung?"

" Tidak. Membayangkanmu sebagai simpananku."


          ~TBC~