Kamis, 07 Mei 2015

The Mysterious Man chap 7

Title   : THE MISTERIOUS MAN
Author : Sulis Kim
Main cast:   Jung Yunho
                   Kim Jaejoong
             Hankyung &Heechul
                 Yoochun & Junsu
                        Other

Rate   : M
Genre : Romace, Fiction

          WARNING

SANDURAN, novel The Dangerous Lord. Sabrina Jeffries.
Dengan banyak perubahan untuk menyesuaikan alur cerita dengan pemeran Favorite saya.

GS for uke. Jika tidak suka jangan dibaca, author cinta damai. Saya masih butuh banyak belajar, apabila ada kesalahan typo dan lainya mohon di maklumi, menerima saran dan kritik yang membangun. Terimakasih.

Happy reading ....!!!
 
 
 
 

Jaejoong memaksakan nada menghina dalam suaranya. " Bukankah Mr X adalah seorang yang menulis gosip." Ia berjalan santai ke sisi lain ruangan dan mendudukan diri pada sofa." Yunho shi, aku tak percaya kau mengkritik kesukaanku akan fiksi saat kau sendiri membaca karya tukang gosip seperti Mr X."

" Yunho tidak membacanya, dia membenci orang ini." sela Yoochun. " tapi ku akui aku mengagumi penulis itu. Komentar komentarnya sangat menggigit bagai tonik bagi semua kemunafikan di antara kalangan kita. Mr X cukup cerdas, bahkan ketika ia menyinggung Yunho, kadang kadang."

Tatapan Yunho terpaku pada Jaejoong. "  Ya dia begitu cerdas dalam urusan orang lain."

Rasa mual mulai menjalari perut Jaejoong. Brengsek, mengapa Yunho tidak mau melupakan masalah ini.

" Itu tidak benar. " kata Junsu. " Pria itu bijaksana dalam kecerdasannya. Dia hanya mempertajam komentar dengan gaya sombong, kejam tanpa berpikir. Minggu lalu dia membela seorang wanita muda yang mengabaikan restu orang tuanya untuk kawin lari dengan pria yang dicintainya." pembelaan Junsu menaikkan semangat Jaejoong.

Jaejoong memperhatikan adanya nuansa ketegangan. Yoochun menatap istrinya dengan tatapam menyela. " Kau seharusnya tidak menyebutkan kata kawin lari, sayang. Yunho tidak begitu menyukainya seperti dirimu."

Raut wajah Junsu berubah. " Ya, Tuhan, aku lupa …ya ampun, aku…"

Pada saat itu surat kabar dibawa masuk, menyelamatkan Junsu dari rasa malu yang lebih lanjut. Sekarang dengan gaya mencemoh, Yunho dengan cepat membalik balik surat kabarnya. Lalu mengambil satu dan melemparnya kearah Yoochun. Seperti The Evening.

" Yah, tidak disebutkan tentang kawin lari di kolom terbaru Mr X. Tetapi aku berani mengatakan tulisan ini sama saja akan membuatmu dan Junsu tertarik. Tampaknya penyebab gosip ini belum lelah menjadikanku sebagai subyek tulisanya."

" Mwo?" Yoochun tampak terkejut, sebuah reaksi yang tampaknya juga diperlihatkan oleh seluruh orang di dalam ruangan itu. Jaejoong menyiapkan diri untuk hari akhirnya.

Yoochun mulai membuka halaman halaman surat kabarnya. " Yunho, kupikir kau bermaksud untuk menenukan identitas Mr X yang sebenarnya. Jangan bilang kau belum dapat meyakinkan orang itu untuk tutup mulut tentang urusan urusanmu."
Jaejoong menarik nafas cepat matanya menatap Yunho tajam.

Yunho mengulur waktu menjawab, kelihatan jelas ia gembira dengan kekuasaanya. " Aku memiliki kesulitan dengan pria bernama Mr X ini. Tetapi aku telah berbicara dengan Mr. Lee. Meskipun orang itu tidak akan membuka identitas penulisnya, dia memberitahuku sesuatu yang menarik."

Perut Jaejoong mukai terasa di aduk aduk.

" Mr. Lee?" sela Heechul. " Tetapi Yunho, bukan dia yang kau sebutkan ketika …" ia menghentikan kalimatnya, tatapanya beralih dari Yunho ke Jaejoong. Jaejoong tisak berani menatap temanya.

" Mr. Lee adalah penerbit The Evening," Yoochun menjelaskan, tidak menyadari ketegangan di dalam ruangan. Ia mengamati dengan cepat untuk mencari kolom tukisanya. " Tunggu, ini dia."

" Bacakan dengan keras," perintah Yunho sambil memandang Jaejoong dengan tajam, bagai sebuah busur.

Jaejoong merasa semakin gelisah di tempat duduknya. Sungguh berbeda menulis pernyataan pernyataan sendirian di dalam kamar diliputi kemarahannya dengan mendengarnya dibicara oleh teman Yunho…
Jaejoong mengapalkan tangan di atas paha saat suara geli bergemuruh memenuhi ruangan.
 
 
 

" Hati hatilah,Temanku, janganlah kalian membangunkan kemarahan Jung Yunho dengan membaca kolom ini. Dia tidak gembira disebutkan di dalam kolom ini minggu lalu. Tampaknya Directur muda yang baik itu harus membuat kita percaya bahwa wanita yang tinggal di Kawasan elit Gangnam street bukanlah simpananya, melainkan saudara teman seperjuangannya ketika ia mengikuti perang militer yang sedang ia bantu selama mengalami masa sulit.

Jika hal ini benar, tingkah laku Jung Yunho pantas mendapatkan pujian, bukan kecaman  penulis anda yang setia ini, entah bagaimana, mendapati kemungkinanya membingungkan, terutama pernyataanya tentang dia ikut berjuang dalam peperangan melawan teroris. Apakah di antara kalian semua pernah mendengar prestasi atau melihat keberanianya dalam peperangan secara langsung? Jika ada, biarkan The Evening mengetahuinya dengan segera. Kami akan sangat gembira menerbitkan dongeng dongeng tahun tahun kepergian pemimpin muda berdarah biru ini ke luar negri memerangi teroris.

Terduga Anda ini, yang sebenarnya, entah bagaimana, bahwa tahun tahun berjuangan sang Directurs patut di pertanyakan seperti halnya kebajikanya yang dalam kasusnya, pengakuanya, menghina keberanian mereka yang benar benar berperang untuk negara itu sendiri."
 
 
 

Yoochun melempar surat kabar matanya disinari kemarahan. " Aku menarik semua pujianku yang pernah kuberikan pada pria ini, Yunho! Ini adalah pencemaran nama baik! Kau harus menuntut orang ini! Dia tidak boleh menjelek jelekanmu seperti ini …dia harus di paksa untuk menarik penghinaan ini atau melayani dalam pertarungan nyata."

Jaejoong memaksa diri untuk terus bertemu dengan tatapan Yunho. Kurangnya reaksi Yunho jelas jelas menunjukan bahwa pria itu menunggu reaksinya. Rasa malu atau merona misalnya?

" Yang tidak ku mengerti," Junsu berkomentar. " Bagaimana Mr X ini mengetahui apa yang kau beritahukan kepada kami tentangmu, Yunho. Aku bersumpah aku tidak pernah mengatakan kepada siapapun selain orang di ruangan ini."

" Aku juga tidak," timpal Heechul.

Jaejoong mendengarkan tak percaya. Apa? Itu tidak mungkin. Dua orang nyonya besar itu pasti memberitahu yang lain. Heechul telah memberitahu dirinya. Dan pasti alasan utama Yunho berbohong kepada mereka adalah untuk memastikan mereka memberaihkan namanya dari rumor rumor.

Yunho melayangkam senyuman paling mengejek. " Tidak apa apa, Heechul. Aku tahu kau mungkin hanya memberitahu beberapa orang untuk membelaku. Aku tidak menyalahkanmu dalam hal itu."

" Tetapi aku tidak memberitahu siapapun." protes Heechul. " Kau memintaku untuk tidak bicara apa apa, dan aku mengabulkan permintaanmu"! Tatapan Heechul beralih kepada Jaejoong, bingung dan jengkel.

Rasa bergejolak dalam perut Jaejoong sekarang mengancam membuangtanya pinsan. Yunho telah meminta mereka untuk tidak mengatakan apa apa? Oh Tuhan. Bagaimana Yunho tahu bahwa Heechul telah memberitahunya dan hanya dirinya? Setan macam apakah pria itu sebenarnya?

" Kau atau Junsu pasti telah mengatakan sesuatu" balas Yunho dengan tampak tak berdosa. " Kau bahkan bisa jadi tidak menyadari telah mengatakanya. Mr. Lee sendiri telah memberitahuku bahwa Mr X memiliki seorang wanita yang membantunya mengumpulkan informasi. Tidak diragukan lagi dia mendengatkan kebenaranya dari salah satu dari kalian di acara pesta dansa itu."

Dasar pembohong, pikir Jaejoong dengan marah. Bosnya tidak mungkin memberitahunya hal semacam itu.

Yunho menambahkan dengan licik." Mungkin saja Narsya, dengan keahlianya dalam hal gosip."

"Tidak!" teriak Heechul. " Aku tidak mengatakan sepatah katapun kepadanya! Satu satunya orang yang kuberitahu adalah…"

Heechul memutuskan kalimatnya persis saat Jaejoong merasa jebakan telah mengenainya. Yunho bersandar kembali dengan ekspresi yang benar benar percaya diri, merasa santai dengan keberhasilan istrik yang dibuatnya.

Jaejoong menatap Heechul, tersentak dengan ekspresi terluka wanita itu  mereka telah membenci dirinya, Jaejoong mencoba mencari pembelaan, berpura pura tidak menyadari kesimpulan yang di buat Heechul. " Kau memang telah memberitahuku, Heechul, jadi kau pasti memberitahu orang lain lagi."

Heechul menatap Jaejoong karena merasa marah karena dikhianati. " Tidak. Tidak seorang pun kecuali kau."

Jaejoong ingin memprotesnya, untuk pura pura terhina, apapun untuk menghilangkan tatapan mengerikan di wajah Heechul. Tetapi melakukan protes akan hanya akan membuatnya lebih bersalah. Jaejoong hanya memiliki sedikit teman dekat dalam hidupnya, dan ia berpikir bahwa Heechul mungkin menjadi teman dekatnya. Kepercayaanya telah hancur karena tak tik Yunho.

Harapan tiba tiba memenuhi dirinya tentu saja. Kwon BoA. " Kau tahu, mungkin sama sekali bukan salah satu dari kita yang berbicara dengan Mr X. Temanmu…yang tinggal di Gangnam Street …mungkin saja telah pergi ke surat kabar itu sendiri untuk menjelaskan. Aku tau aku telah menjadi subjek gosip yang tidak adil, aku akan melakukan itu."

Keheningan tercipta saat semua orang mencerna kemungkinan baru itu. Untuk pertama kalinya sejak Yunho memasuki ruangan ini, sikap percaya dirinya mulai goyah.
" Aku yakin kan kau, Nona Kim, bahwa teman ku Kwo... Bahwa temanku tidak akan pernah melakukan hal sebodoh itu. Dia akan menjunjung tinggi keinginanku tentang prifasi."

Heechul tampaknya lebih dari sekedar setuju. " Ya, tetapi apakah ia akan mempertaruhkan reputasinya sendiri untuk menyenangkanmu? Aku meragukan itu. Dan bahkan jika dia telah melakukanya, mungkin dia tidak tahan melihatmu difitnah secara kejam setelah kau membantunya. Pikirkan bagaimana hal itu akan membebani pikiranya."

" Heechul benar." Jaejoong menambahkan saat rasa lega melingkupinya. " Aku yakin wanita itu telah menganggap hal tersebut sangat membuatnya tertekan."

Lihat bagaimana pria itu akan meloloskan diri dari kisah ini. Pikir Jaejoong.

Hilang sudah sikap sombong Yunho. Matanya menatap Jaejoong berkilau tajam. Ia bangkit dan berjalan kearah Yoochun yang tekah melempar surat kabarnya. " Wanita yang dipertanyakan tidak pergi ke kantor surat kabar. " Yunho mengambil surat kabar dan mengamatinya.

" Disini dikatakan Diretur muda yang baik ini membuat kita percaya. Itu berarti Mr X perpikir akulah orang yang membuat pengakuan palsu."

" Belum tentu." Sela Yoochun. " Jika dia bersikeras menyerangmu dengan tulisanya, dia mungkin tidak ingin para pembaca mengetahui teman wanitamu sebagai sumbernya, karena hal itu akan memberikan keuntungan besar bagimu. Maka dari itu ia menegaskan pernyataanya dengan samar samar. Lagi pula, dia tidak langsung keluar mengatakan dia mendapat informasi darimu atau salah satu temanmu bukan?"

Heechul melayangkan tatapan penuh penyesalan kepada Jaejoong. " Kau lihat Yunho? Itu mungkin saja sama sekali bukan salah satu dari kita."

Pembelaan Heechul yang tulus menghancurkan kemenangan Jaejoong. Heechul tidak pantas menjadi bidak dalam pertmpuran ini. Ini adalah kesalahan Jaejoong yang membuat Heechul ikut terseret.

Tatapan Yunho memandangnya menghina dan sinis tidak membuatnya kebih baik. Yunho berhak untuk membencinya

" Tidak peduli bagaimana Mr X menemukanya." kata Yoochun. " Apa hakya mengaggap kau telah berbohong telah ikut berjuang dalam perang? Dia tidak memiliki bukti. Kau seharusnya menuntut surat kabar itu. Jika aku jadi dirimu, aku akan meminta pemerintah meluruskan The Evening."

" Pemerinta tidak akan repot repot." Yunho mengalihkan pandanganya dari Jaejoong kepada Yoochun." Apa yang ku lakukan di kontinen bukan sesuatu yang resmi. Aku meragukan jika bahkan ada yang masih ingat perananku."

" Apa yang kau lakukan?" tanya Yoochun.

" Tidak pantas untuk dibicarakan."

Tentu saja tidak, pikir Jaejoong, merasa terbarui dalam kebenaran posisinya. Yang pasti bukan karier militer. Betapa mengenakkan tidak seorangpun ingat perananya.

" Mantan mata mata korea Mr, Song Jing Ki ingat apa yang telah kau lakukan," Hankyung tiba tiba berkata dari posisinya yang menyendiri di dekat jendela. " Dia memberitahuku bahwa mititer Amerika tidak akan memenangkan perang tanpa dirimu."

Semua mata beralih kepada pria itu, terutama Jaejoong.

" Mr, Song sendiri yang memberitahumu hal itu?" tanya Yoochun pada sepupu iparnya. " Kapan kau bertemu dengan mantan mata mata itu?"

Hankyung mengangkat bahu. " Dalam satu acara. Aku tidak ingat. Mr. Song dan aku berdebat mengenai peranan berdarah biru Korea dalam militer. Aku baru mengetahui bahwa pria itu tidak dilahirkan dari kalangan darah biru, namun mendapat gelarnya dari usaha dan perananya di FBI untuk negara. Jadi aku memberitahunya kupikir adalah srbuah kebodohan memiliki sesuatu sistem di mana orang orang terpelajar yang terbaik …para pemimpin dan putra tunggal mereka … tidak di dorong untuk mempertahankan negaranya karena keturunan ahli waris. Dalam suasana panas waktu itu, dia mengajukkan Yunho sebagai contoh dari putra tunggal berdarah biru yang berpartisipasi dengan gagah berani dalam perang."

Rasa terkejut membuat Jaejoong tidak dapat bergerak. Mungkin itu benar? Yunho tidak pernah berbohong tentang catatan perangnya? Tidak mungkin! Bagaimana …mengapa seorang pewaris terkaya di Seoul berjuang dalam perang?

" Mr. Song mungkin sedang mabuk," gumam Yunho.

" Jika dia sedang mabuk, dia menyembunyikanya dengan sangat bagus." Kata Hankyung. " Ketika komentarnya membangkitkan rasa penasaranku, aku bertanya lebih banyak tentangmu, dan dia tiba tiba ingat aku dulu pemimpin mafia china dan pernah bergabung dengan Yakuza. Tiba tiba dia bungkam tentang masalah itu. Aku tidak berpikir bahwa menekanya adalah tindakan bijaksana."

" Tidak masalah siapa kau sebenarnya." kata Yunho singkat. " Aku terkejut dia mengatakan hal tersebut. Itu adalah pernyataan berlebihan tentang sedikit bantuanku."

" Mr, Song tidak melebih lebihkan, "Yoochun ikut manambahi. Sebuah nada kekaguman mewarnai nada suaranya." Apa yang kau lakukan selama peperangan itu? Apakah kau seorang FBI? Mata mata? Mengapa tidak seorangpun membicarakanya?"

" Karena itu bukanlah hal yang penting untuk dibicarakan siapapun. Bukan hal yang ingin aku bicarakan." tatapan Yunho mengunci Jaejoong, mengandung sebuah peringatan yang menakutkan. " Atau dibicarakan dalam surat kabar."

Jaejoong belum pernah merasa begitu kecil. Jika Yunho telah mengatakan yang sebenarnya, maka ia sudah melakukan kesalahan besar karena telah mempertanyakan tindakan mulianya di publik.

Sambil menghindari tatapan mata Yunho, Jaejoong terenyak semakin dalam di kursi yang terasa semakin keras. Ia pantas mendapatkan perlakuan yang buruk. Ia telah berburuk sangka pada pria itu, ini adalah prasangkanya terhadap pria kalangan Yunho.

" Mengapa Mr X, menjadikanmu musuhnya?" tanya Hankyung kepada Yunho. " Mungkin kau harus mewaspadai pertemananmu di masyarakat untuk memastikan siapa yang harus di tembak kepalanya."

" Mari jangan membicarakan tentang tembak kepalanya" bujuk Yoochun pada sepupu iparnya. " Kau berpikir seperti mafia lagi, Hankyung, bukan seperti pria yang beradab."

Hankyung melirik Heechul dengan tatapan geli. " Terkadang cara mafia jauh lebih efektif." Begitulah cara Hankyung mendapatkam Heechul untuk menjadi istrinya, menculik gadis itu menjadi tamu di kamarnya, meskipun butuh waktu lama untuk menjinakkan kucing nakal yang telah mencakar jantungnya begitu dalam.

" Hanya jika kau ingin di gantung. " balas Yoochun dengan pedas.

" Cukup, Terimakasih semua saranya, aku bisa mebgatasinya teman teman. Dan aku yakinkan kau, Yoochun, aku akan mengurus Mr, X tanoa menembak kepala siapapun. Tidak perlu ada lagi pembicaraan mengenai hal ini kedepanya."

Meskipun Yunho tidak menatap Jaejoong kedikitpun ketika bicara, Jaejoong tahu pernyataan itu di tunjukkan kepada dirinya. Jantung Jaejoong merosot sampai ke dalam perut. Ia telah bertindak bodoh membuat Yunho marah, terutama dengan masa depan adik adiknya yang menjadi taruhanya. Ia seharusnya mendengarkan nasehat ayahnya untuk tidak melawan meriam dengan tongkat pemukul jika ingin tetap menjaga kepalanya tetap tegag.

         ~~~*~~~

Jaejoong bergegas menaiki anak tangga menuju kamarnya. Bagaimana ia bisa tidur jika tatapan menyalahkan milik Yunho terpatri di benaknya. Balas dendamnya sudah keterlaluan ia harus mengakui itu.

Sambil menahan isakan, Jaejoong berlari menaiki anak tangga ia ingin segera sampai di kamarnya, Oh bagaimana ia bisa membiarkan kemarahanya mengusai dirinya, membiarkan semuanya berkembang sejauh ini?

Dengan menghela nafas Jaejoong membuka pintu kamarnya, senang rasanya pelayan sudah merapikan dan menyalakan penghangat ruangan untuknya. Larut dalam pemikiranya yang murah, Jaejoong menutup pintu, suasana kamar hanya di terangi lampu meja remang remang, biarlah ia ingin kedamaian ini.

Ia melempar bukunya ke atas tempat tidur dan membuka lemari. Tatapanya jatuh pada linggeri. berenda yang telah Yona selipkan ke kopernya. Linggerin milik ibunya, yang diberikan kepadanya ketika berumur enam belas tahun. Jaejoong meraba bunga yang sangat mungil, Jaejoong mengangkat lingerin sutra meremasnya di pipinya, menghirup samar samar aroma mawar yang telah biasa ibunya gunakan.

Ia merindukan ibunya. Dengan tidak sabar ia menanggalkan gaun siangnya dan melepas stoking, tali elastis stokingnya dan gaunya meluncur kebawah. Kemudian ia mengenakan lingeri, dan jubah dia atas pakaian dalamnya. Rambutnya jatuh dari ikatan kuncier kuda, tanpa memedukikan kemana ikatan itu jatuh saat ia menggoyangkan rambutnya jatuh di punggungnya.

Jaejoong berdiri di depan meja rias yang berada di antara dua jendela kamar tidur yang menonjol, ia menatap dirinya pada cermin, untuk sesaat yang ia lihat hanyalah wanita muda yang terlihat telanjang dan mata memerah, nyaris ia kelihatan tidak berpakaian karena gaun itu begitu tipis, dan jubahnya gagal untuk menutupi lekuk tubuhnya.

Sebuah gerakan dalam pantulan cermin membuat nafas Jaejoong terheti di tenggorokannya. Di belakangnya, seorang pria berdiri bersandar pada dinding di dekat pintu yang tertutup.

Yunho! Ya,Tuhan, Yunho telah datang untuk balas dendam. Tangan Yunho yang berotot bersedekap di depan dadanya dan tatapannya yang tajam mengandung kekuatan gelap yang membuat Jaejong tidak bisa bergerak.

" Teruskan." mata Yunho dengan kurang ajar menyapu penampilanJaejoong. " Jangan biarkan aku menghentikanmu."

Perkataan itu membebaskan Jaejoong dari mantra pria itu. Ia berbalik berhadapan denganya, sambil mencengkeram erat pakaianya di depan dada yang separuh tertutup oleh gaunnya. " Beraninya kau! Berapa lama kau telah…"

"Aku telah menunggu sejak aku keluar dari perpustakaan, Hankyung dan Yoochun mengira aku kembali kekediaman Park. Tetapi aku tidak bisa pergi tanpa bicara denganmu."

" Tidak disini, tidak seperti ini! Pergilah kebawah, aku akan menemuimu…"

" Menemuiku?" Yunho tertawa dengan suara hampa dan menakutkan. " Kau pikir aku percaya, kau akan menenuiku? Sebelum aku sampai di anak tangga, kau akan berteriak meminta tolong kepada Heechul untuk mengusirku."

" Apa yang membuatmu berpikir aku tidak akan berteriak sekarang?"

" Kau tak akan melakukanya sementara kau berpakaianya seperti itu." Yunho menatap Jaejoong dengan tatapan menelanjangi persis seperti tatapan sultan dalam lukisan yang sedang memertimbangkan bagaimana menghukum bidadarinya.

Hal itu mengguncang Jaejoong, namun yang membuatnya merasa terlilit adalah ketakutan dalam panas yang menjalar dari kepala, ke payudara, ke tempat di antara kedua kakinya. Terkutuklah Yunho karena itu.

" Lagi pula, jika kau berteriak , dan Heechul kemari meminta penjelasan, dengan penampilanmu seperti ini, kau akan mengalami lebih banyak kesulitan dalam meyakinkan rasa tidak bersalahmu daripada yang kau lakukan terakhir kali."

Alasan Yunho memang benar, namun ia tidak menduga Yunho akan menyergapnya di kamar tidurnya sendiri. Kemarahan membantu mengusir ketakutan Jaejoong.

Sambil mendongakkan kepalanya, ia mengamati Yunho, pria itu di terangi dengan begitu anehnya dengan hanya lampu meja yang membuat pria itu semakin misterius. Namun Jaejoong tidak perlu melihat wajah Yunho, pertama kalinya sejak mereka bertemu, suara pria itu memperingatkan luapan perasaanya, nada ketus yang terang terangan dalam kemarahanya.

Ia pernah mengalami ini sebelumnya dan Jaejoong bisa mengatasinya. Namun ,Yunho, mungkin tidak untuk dilawan.

Hati Jaejoong menciut, tetapi ia harus melawan dengan beradu pandang Yunho sekali lagi. " Kau tidak datang kemari untuk berbicara, atau kau tidak akan mengamatiku menanggalkan pakaian." Ia menambahkan dengan nada menuduh. " Apakah kau sekarang ahli mempermalukan wanita dalam kamar tidur mereka sendiri? Hankyung akan sangat kecewa... Dia tampaknya mengira kau seorang pahlawan."

Bibir Yunho merapat." Kita berdua tahu betapa tidak jujurnya dia pada pendapat itu , bukan? Aku hanya sekadar memuaskan pandanganmu tentangku. Menurut hasil menelitian yang kau lakukan dengan teliti, aku seorang pembohong, bahkan seorang perusak wanita. Seorang pria tanpa kehormatan."

Setiap kata kata tajam Yunho seperti hantaman sebuah palu bagi hati kecil Jaejoong." Aku tidak menjulukimu seorang pembohong." Jaejoong berkata membela diri. "Aku hanya… mempertanyakan pertanyaan yang kau buat tentang masa lalumu."

" Pernyataan yang tidak pernah ingin ku publikasikan."

" Mengapa tidak? Hankyung mengatakan tidak ada yang perlu membuatmu merasa malu."

" Tetapi kau tidak percaya itu, bukan?" kata Yunho pahit. " Tidak, kau teramat sangat cerdas untuk memercayai pengakuan dari temanku."

Yunho menegakkan kepalanya, tanpa sengaja memperlihatkan wajahnya yang tegas dengan sinar cahaya temaram. Pria itu marah, bahkan murka.

Dengan susah payah menelan ludah, Jaejoong mencengkeram bajunya didadanya. "A-aku percaya sekarang. Tetapi kau pastinya paham mengapa aku sebelumnya tidak percaya. Bagaiamana bisa kau mengharapkan aku mempercayai pernyataanmu saat kau bersikeras menyembunyikan masa lalumu? Selain rumor rumor yang berlawanan itu, tidak seorangpun yang mengaku telah berjuang denganmu. Karier militermu tidak pernah di sebutkan dalam publik."

" Itulah yang lebih kusukai. Jika aku ingin sejarah ikut sertaanku dalam perang diketahui umum, aku pasti telah mengirimkan detail detailnya pada surat kabar saat aku kembali tiga tahun lalu. Sayang sekali kau tidak merasa perlu untuk berkonsultasi denganku berkenaan dengan keinginan keinginanku tentang masalah masalah itu."

"Salahmu sendiri sampai aku harus menuliskan semua itu. Kau tahu dengan begitu baik bahwa ceritamu tentang Nona Kwon akan dipertanyakan. Lagi pula, aku tidak akan menulis tentang dirimu lebih banyak lagi jika saja kau tidak mempermalukanku…"

" Mempermalukan?" Yunho berjalan menjauh dari dinding. " Kau menyebut sekadar sebuah ciuman itu mempermalukan?"

" Itu bukan sekedar ciuman bagiku," Jaejoong meledak marah sebelum ia bisa menghentikan dirinya sendiri. Ia melanjutkan dengan gumaman. " Jika itu memang sekedar ciuman, aku tidak akan bereaksi seperti yang telah kulakukan."

Hal itu mengejutkan Yunho. Tatapanya yang begitu dalam mendarat di bibir Jaejoong dan tetap disana ,mengingat Jaejoong ketika terakhir kali Yunho menyentuh bibir itu dengan bibirnya. Bibir Jaejoong bergetar sebagai responya.

" Itu juga bukan sekedar ciuman bagiku." suara Yunho bergema dalam kamar yang bercahaya temaram  " Tidak dalam pengertian apapun."

Sebuah getaran yang tak beralasan menembus diri Jaejoong melalui kata kata Yunho. Pria itu mungkin tidak bermaksud mengatakan itu. Jaejoong tau perkataan Yunho yang tampak begitu jujur bisa berubah penghianatan yang dingin. Namun, ia ingin mempercayainya.

Udara terasa penuh dan menyesakkan, ruangan terasa begitu kecil bagi mereka berdua, meskipun Yunho berdiri beberapa langkah dari Jaejoong. Mereka sendirian, lebih sendiri daripada sebelumnya, tidak ada seorangpun tau pria itu berada disini.

Jaejoong hanya mengenakan lingerin dan jubah tipis di atas celana dan baju dalamnya, nyaris terlanjang karena kain sutra itu melekat di kulitnya. Ia mencoba menutup kembali jubah di tubuhnya, tetapi seperti terjepit tidak mampu menjaganya tetap tertutup.

Tindakanya tampaknya menarik perhatian Yunho. Matanya yang hitam menyusuri tubuh Jaejoong, dengan rasa lapar, dan bersemangat, melucuti semua pertahanan Jaejoong dengan ketajaman sebilah pisau. Yunho pernah menatapnya seperti itu, ketika pria itu hanya beberapa centi jauhnya dengan tangan memeluk pinggang Jaejoong dan bibir merendah mendekati bibirnya…

Sambil mengutuk dalam hati, Jaejoong mengalihkan tatapanya dari tatapan Yunho.

Yunho berdeham. " Bagaimanapun," ia melanjutkan dengan suara serak, seolah narah karena menyebutkan  ciuman mereka. " Apa yang ku lakukan merupakan provokasi yang tidak mencukupi untuk penodaanmu terhadap reputasiku."

" Kau menodai reputasiku lebih dulu, malam itu di balkon."

" Tidak benar, apa kau lupa tentang kolom pertamamu?"

Jaejoong menggerang. Yang menejutkan, ia telah melakukanya. " Pendapat kita berbeda tentang apakah itu menodai reputasimu."

" Hal itu mendorong calon tunanganku untuk kawin lari dengan pria lain. Jika tidak menodai reputasiku, paling tidak itu memudarkan sinarnya."

" Kau telah melakukan balas dendam untuk itu, bukan? Menundukanku dengan ciuman ciumanmu dan …"

" Menundukanmu…" Yunho mendekati Jaejoong sambil menggeryit." Apakah kau mengatakan, kau tidak menikmatinya?"

" Tentu saja aku menikmatinya!" sembur jaejoong. Melihat tatapan Yunho yang tampak puas, Jaejoong menambahkan. " Bagaimana aku tidak meniknatinya? Kau seorang yang bejat…membuat para wanita menikmati ciumanmu adalah keahlianmu. Tapi hal itu tidak mengubah fakta bahwa ciuman itu kau paksakan padaku."

" Aku bukan orang bejat." Yunho menyisirkan tangan kerambut dengan putus asa. " Jika kau benar benar telah melakukan Penelitian tentang tulisan palsumu itu, kau akan mengetahuinya. Dan tentang memaksamu, jika kau menamparku pada ciuman pertama, aku tidak akan tinggal lebih lama lagi." Tatapanya menyipit. " Tetapi kau menarik jasku, menarikku kembali. Kau menyambut ciumanku, tak peduli apa yang kau katakan setelah itu pada Heechul dan yang lain. Setidaknya kau punya kehormatan untuk mengakuinya."

" Aku tidak berbohong kepadanya." protes Jaejoong.

" Kau mengatakan kepadanya bahwa aku telah memanfaatkanmu."

" Tidak! Dia hanya…menganggap bahwa kau melakukan itu karena....karena…"

" Karena kau bilang aku bertindak terlalu jauh." Dengan pelan Yunho mendekati Jaejoong, matanya menyala nyala bagai batu antik yang ditanamkan pada perak. " Apa sebenarnya yang kau maksud terlalu jauh Jaejongie"?

Jaejoong melangkah mundur dan menabrak meja rias. " Aku tahu kau lebih tau tentang hal itu. Mengingat reputasimu."

" Reputasiku." Yunho mendengus. " Aku hampir tidak tahu bagaimana reputasiku akhir akhir ini, sepertinya akibat ulah semua gosip gosip itu. Tapi itu tidak menjawab pertanyaanku. Jika kau tidak berbohong. Lalu apa maksud kata yang kau beritahu pada Heechul bahwa aku bertindak terlalu jauh?"

Sekarang Yunho berdiri hanya sesenti dari dirinya, Jaejoong beniat kabur melarikan diri tapi ia menolak membuat Yunho merasa mengintimindasinya. Selain itu ia sudah tidak bisa kemana mana.

Sambil mencoba mempertahankan dirinya sebagai wanita yang belum menikah Jaejoong berkata. " Kau tahu apa maksudku. Maksudku kau menciumku dengan… dengan…" Oh bagaimana orang menjelaskan tentang jantungnya berdetak dan terjun kedalam gairah karena ciuman seorang pria tanpa terdengar seperti anak ingusan." Dengan antusiasme yang sangat besar."

Yunho setengah tersenyum. " Aku tidak akan mengingkari itu. Menurutku, kia berdua sangat antusias. Tapi kata itu tidak akan membuat Heechul mengusirku dari rumahnya." Tanpa peringatan Yunho merengkuh pinggang Jaejoong, menempelkan dirinya begitu dekat sehingga Jaejoong bisa melihat barisan kumis hitamnya yang baru tumbuh di bagian atas bibirnya. " Jadi beritahu aku, Jaejongie~ku yang suka menipu, apa yang ku lakukan terhadapmu sampai Heechul berpikir begitu buruk tentangku? Aku bersumpah, aku tidak melakukan apapun yang mempermalukan diriku sendiri."

" Karena tidak ada apapun yang membuatmu malu!" Jaejoong meletakkan tanganya di dada Yunho dan mendorongnya, yang sia sia dan hanya membuat jubahnya terbuka lebar. " Lepaskan aku, Yunho, atau akan …akan…" Hati Jaejoong menciut mengingat mengapa ia tidak dapat berteriak. " Aku yakin kau seorang bajingan."

Tawa Yunho tiba tiba meledak." Kau terlanjur yakin dalam hal itu. Lagi puka, aku tidak akan pergi sebelum kau menunjukan apa yang di maksud dengan terlalu jauh. Dengan begitu, aku tidak akan membuat kesalahan yang sama kedepanya, kau paham."

" Kedepanya?" pekik Jaejoong.

         ~TBC~

Selasa, 05 Mei 2015

The mysterious Man chap 9

Title   : THE MISTERIOUS MAN
Author : Sulis Kim
Main cast:   Jung Yunho
                   Kim Jaejoong
             Hankyung &Heechul
                 Yoochun & Junsu
                        Other

Rate   : M
Genre : Romace, Fiction

          WARNING

SANDURAN, novel The Dangerous Lord. Sabrina Jeffries.
Dengan banyak perubahan untuk menyesuaikan alur cerita dengan pemeran Favorite saya.

GS for uke. Jika tidak suka jangan dibaca, author cinta damai. Saya masih butuh banyak belajar, apabila ada kesalahan typo dan lainya mohon di maklumi, menerima saran dan kritik yang membangun. Terimakasih.

Happy reading ....!!!

 
 

Yunho hampir tidak memiliki waktu untuk mengatasi situasi yang janggal ini. Sebanyak ia berharap ia dapat menggunakannya untuk memaksa Jaejoong , ia ragu akan berhasil. Jaejoong jauh mandiri untuk dipengaruhi oleh teman temanya.

Namun saat bertemu dengan tatapan Heechul, tampak bahwa Heechul akan menjadi sekutu yang baik.

" Selamat sore nona nona sekalian." Yunho tersenyum dengan santai. " Aku harap tidak ada sesuatu yang terjadi didalam ruang tidur bayi." Setelah para pelayan dan pengasuh bayi pergi meninggalkanan mereka, namun Heechul dan Junsu berdiri disana membeku.

Sang tuan rumah menatap marah kepada Yunho. Apa yang sedang kau lakukan disini, Yunho?"

" Jaejoong setuju untuk membantuku dalam pencarianku atas seorang istri, kami sedang mendiskusikan strateginya."

" Ya," Jaejoong menimpalinya dengan sangat suka rela." Yunho Shi dan aku sedang berdiskusi panjang tentang hal itu."

Saat Junsu memutar bola matanya. Heechul menatap Jaejoong. " Tapi sayang, caramu berpakaian..."

Yunho menatap Jaejoong dengan senang, sambil bertanya tanya bagaimana ia akan menjelaskan hal itu dengan segera.

Dengan agak tergagap resah Jaejoong mencengkeram jubah tidurnya dengan erat. Tampak jelas ia telah lupa bahwa ia hanya mengenakan linggerin tipis berenda.

" Jangan menyalahkan, Jaejoong," Yunho memberitahu dengan keluhuran hati. " Aku mengejutkanya saat dia telah bersiap untuk tidur, dan kami menjadi begitu asyik dengan pecakapan kami, hingga kami lupa tentang tidak pantas. Lagi pula kami cukup santai dengan hal hal semacam itu."

" Begitu santai hingga kau melepaskan jasmu?" nada Heechul sekeras kanji dan sekaku para ibu. " Jangan coba coba membohongiku, Yunho. Aku tahu bagaimana pria bersiasat. Dan jika kau berpikir aku memberimu kesempatan untuk mengganggu wanita di dalam rumahku..."

" Benar, Heechul. Tidak ada yang terjadi," protes Jaejoong. " Aku tahu ini tampak buruk, tapi..."

" Kau tidak usah membelanya." tungkas Heechul. " Aku tahu siapa dia?

Yunho mengangkat satu alisnya." Benarkah? Kalau begitu kau harus tahu bahwa aku sudah mengusulkan pernikahan dengan, Jaejoong."

Dengan tatapan terkejut, Heechul mengalihkan tatapanya kepada Jaejoong. " Apakah benar begitu"?

Yunho dapat merasakan panasnya kemarahan Jaejoong di belakangnya.

" Ya," Jaejoong buru buru menambahkan. " Tapi aku menolaknya. Kami membicarakanya, dan hanya itulah yang terjadi. Aku bersumpah."

Yunho menahan senyumanya, mungkin Jaejoong mengira pernyataanya akan melepaskannya dari situasi ini, namuan ia tidak mengenal Heechul sebaik Yunho mengenalnya. Wanita itu suka sekali menjodoh jodohkan baik Heechul maupun Junsu sangat bersemangat untuk melihat Yunho segera menikah. Mereka akan berada di pihaknya mulai sekarang.

Cahaya yang telah Yunho kenal bersinar di mata temanya itu. " Kau menolak Yunho?"

" Ya," Jaejoong menatap Heechul, kemudian menatap Junsu, saat melihat senyum wanita itu ia menjadi panik. " Itulah mengapa aku setuju untuk membantunya, untuk mencari seorang istri. Karena aku menolaknya. Dia berkata jika aku tidak menikahinya, aku harus membantunya dan aku setuju... Kami melakukan percakapan dengan sopan, hanya itulah yang terjadi. Sungguh..."

Saat Jaejoong terdiam, Heechul menghujam tatapanya pada Yunho. Satu satunya jawaban adalah Tersenyum. Mata hitam Heechul menjadi lebih gelap. " Yunho  aku ingin bicara denganmu sebentar lagi di bawah. Sekarang aku ingin berbicara dengan Jaejoong. Sendirian."

" Tentu saja." Yunho sempat melirik Jaejoong, dan wajah wanita itu kebingungan dan pucat. Jika saja Jaejoong tahu apa yang akan Heechul lakukan denganya.

Yunho meletakkan tanganya di bahu Jaejoong, mencoba mengabaikan desiran kenikmatan karena menyentuhnya." Kau tidak perlu cemas tentang kebijakanku malam ini, ataupun teman temanku. Aku yakin mereka dapat membuat para pelayan tutup mulut juga. Selain semua pembicaraan awal sore ini, tidak ada seorangpun akan membicarakan hubungan ini sebagai gosip, terutama tidak dengan Mr X. Pria itu tidak akan dibawa kedalam masalah ini, aku jamin. Dan tentu saja tidak olehku."

Jaejoong beradu pandang denganya, dan Yunho melihat kerlipan pemahaman sekilas dalam kedua mata wanita itu. Yunho berutang sebanyak itu kepada Jaejoong untuk melindungi rahasianya.

Namun meskipun Yunho tidak menyadarinya Jaejoong masih bingung. Apa yang sedang Yunho lakukan dengan cara barunya? Ia bisa saja menggunakan kesempatan ini untuk memaksanya menikah bukan, tapi kenapa pria itu begitu jujur dengan teman temanya, dan begitu suka rela menjaga rahasianya.

" Jika kalian tidak kebetatan, aku akan meninggalkan kalian."

Yunho berjalan menuju koridor , meninggalkan Jaejoong yang menggelengkan kepalanya. " Aku tidak akan pernah mengerti pria itu."

" Tidak satupun dari kita yang memahaminya." ujar Heechul di samping Jaejoong. Dengan lembut ia menggandeng Jaejoong masuk ke kamarnya. " Tidak baik para pelayan melihatmu berpakaian seperti itu, jangan takut kami akan membantumu mancari tahu bagaimana berurusan dengan Yunho."

Jantung Jaejoong berdegup, Heechul pasti ingin mencari tau kenapa ia menolak lamaran pria itu, Yunho sudah bersikap layaknya pria terhormat di hadapan mereka sementara dirinya bodoh, atau nakal mereka ingin tahu yang mana.

Jaejoong melihat senyum Heechul dia menggerang, wanita sudah di pihaknya selama ini namun sepertinya sekarang tidak lagi. Jaejoong tidak akan bisa menang. Tidak, kecuali memberitahu mereka yang sebenarnya. Semangatnya tiba tiba bangkit.

Hal itu beresiko namun mereka berdua adalah wanita bijaksana, mereka akam memahami dan akan memihak Jaejoong jika merek mengetahui yang sebenarnya.

" Kau dapat mempercayai kami, " Kata Heechul." Kami tidak akan pernah menggosip tentangmu. Dan tentang Mr X, aku tidak dapat menjelaskan mengapa ia menyebutkan pria itu."

" Ya, aku mengenalnya" sela Jaejoong. " Mr X, selalu berada di tengah kalian selama ini."

Campuran kebingungan dan ketidak percayaan membuat Jaejoong geli. Hampir. Mungkin mereka akan membencinya setelah ini. Jaejoong hanya berhatap mereka tidak begitu setelah ini.

" Apa maksudmu?" tanya Junsu. " kau tidak mungkin berpikir salah satu dari kita..."

" Tidak." Jaejoong ragu ragu, namun hanya sesaat. " Bukan salah satu dari kalian: aku lah Mr X."

 
             ~~~*~~~
 
 

Heechul duduk di atas tempat tidur dengan kedua kakinya terselip di bawahnya, Heechul menatap Junsu sekilas, yang bersandar di atas meja rias. Anggukan sesekali Junsu dan gumaman menyemangati menandakan bahwa ia bersimpati begitu dalam dengan wanita itu.

Heechul menggeleng, kembali menatap wanita bertubuh mungil dengan linggerin berenda tipis menulis kisah yang begitu berlawanan. Jaejoong tidak seperti wanita pada umumnya, juga tidak seperti Junsu atau dirinya.

Heechul memikirkan semua yang terjadi, demi Tuhan Yunho pasti sudah mengetahui identitas wanita itu lebih awal dan memilih nerahasiakanya. Dan mengapa Yunho beraikeras merahasiakanya?

" Kau pasti mendapati ini mengerikan, kau sudah begitu baik kepadaku tapi aku membalasnya seperti ini. Dan aku tahu kau berbeda dari kebanyakan..."

" Kebanyakam apa?" desak Heechul.

Jaejoong menelan ludahnya. " Kebanyak orang dari kalanganmu. Mereka semua memperlakukanku dengan sikap merendahkan."

Jaejoong memalingkan tatapanya yang mengeras. " Mereka ingin aku menghibur mereka dengan kisah tentang Ayahku, tapi ketika aku telah selesai mereka mengesampingkanku seperti hiburan lain, meninggalkanku untuk menjaga diri dari para anak laki laki dan suami suami mereka."

" Sepertinya halnya yang ku lakukan" kata Heechul pelan.

" Tidak, itu tidak sama, selain tentang apa yang kubiarkan malam itu. Yunho tidak pernah mengambil kesempatan terhadapku. Tidak benar benar begitu, kesalahanku sendiri bahwa aku...bahwa aku.."

" Memasukkan segala tindakanya kedalam hati? Mempercayai ciuman ciumanya? Bukan, itu bukan salahmu."

" Tapi aku menuliskanya dalam kolomku."

" Dan kau memiliki alsan untuk menulisnya." sela Heechul. " Aku tidak menyalahkanmu dalam hal itu. Aku juga tidak akan membiarkan perasaanku diinjak injak oleh Seorang Direktur sekalipun."

" Tetap saja tidak sama," Kata Jaejoong dengan suara pelan

" Sama seperti apa?"

Jaejoong menyilangkan tanganya di depan dada, tatapnya menunduk. " Mereka yang lain orang orang yang kutemui karena Ayahku."

Heechul terkesiap. " Apa yang mereka lakukan terhadapmu?"

" Oh, bukan sesuatu yang mengerikan" Kata Jaejoong dengan terburu buru. Meskipun tanganya mengencang di depan dada. " Ciuman yang tidak diinginkan disini, tangan yang menggerayang disana saat aku semakin dewasa. A-aku berumur sebelas tahun saat aku mulai pergi bersama ayahku kerumah para pelangganya dan mencatat untuknya."

Jaejoong tersenyum tipis." Ayahku memiliki tulisan yang sangat buruk, itu sebabnya aku membantunya, dia bahkan tidak bisa membaca tulisanya sendiri. Dan aku suka berpergian kerumah rumah megah itu," senyumnya luntur. " Sampai aku mengetahui seperti apa orang orang di dalamnya."

" Kuyakin tidak semuanya." timpal Junsu.

" Oh, tidak. Hanya beberapa dari para pria itu. Biasanya anak laki laki tertua menghiburku ketika Ayahku sedang sibuk dengan orang tua mereka. Setelah aku tumbuh dewasa untuk membuat mereka tertarik. Tapi aku dapat mengatasi mereka. Satpam dirumahku menunjukan untuk... Untuk.. memukuk mereka dengan lututku di daerah yang menyakitkan."

" Baik sekali dia, maksudku satpam itu." kata Heechul senang dengan para pelayan yang protektif.

" Ayah merekalah masalah sebenarnya. Aku tahu tidak bijaksana untuk menolak seperti apa yang ku lakukan terhadap anak laki laki mereka, jadi aku harus lebih kreatif dalam penolakanku."

Memikirkan seorang anak perempuan melawan kekurang ajaran pria dewasa membuat Heechul marah.
" Dimana para istri mereka, demi Tuhan? Para pria muda.... Dimana ibu mereka? Apakah mereka tidak mengajarkan anak laki laki mereka lebih baik dari pada menyerang tamu wanita muda?"

" Para wanita cenderung berpaling, atau lebih buruk." Jaejoong mengatakan itu tanpa perasaan, namun Heechul melihatnya penuh luka. " Istri salah satu pria menangkap basah suaminya... Sedang mengambil kesempatan terhadapku dan dia malah menyalahkanku kepada Abeoji dan menyarankan untuk menghajarku."

" Tentu ayahmu tidak melakukan saranya!" seru Heechul ketakutan.

" Oh, tidak, Ayahku tidak pernah memukul anak anaknya. Dalam kasus apapun pada saudara laki lakiku. Abeoji memberitahu wanita itu bahwa dia adalah seorang nenek sihir tua pecemburu dengan seekor gurita sebagai suaminya, dan menolak untuk melanjutkan proyeknya. Butuh waktu setahun baginya untuk menemukan klien yang membayar sama besarnya, sehingga Ibuku dan aku berkerja membanting tulang untuk menambal kekurangan."

Heechul melihat kepahitan terbesit di wajah Jaejoong, dan hatinya melunak." Jadi kau memilih tidak mengeluh tentang kurang ajar para pria, bukan? Lebih baik menghadapinya daripada bertanggung jawab atas kehilangan penghasilan keluargamu."

Sebuah senyum tipis tersunging di bibir Jaejoong" Seperti biasanya ,Kau lebih peka dari wanita kebanyakan. Aku begitu malu kau begitu baik kepadaku, tetapi aku menyalah gunakan kebaikanmu malam itu, di balkon."

" Kau melakukan untuk bertahan hidup. Ketika para pria melakukan rayuan sebagai senjata pembelaan. Selain itu jika aku ingat Narsya juga ada. Kau tidak bisa membiarkanya tahu apa yang sebenarnya terjadi."
Dan kemudian ia teringat Yunho memelototinya saat ia mengusirnya pergi membuatnya tertawa.

"Dan jika ada seorang pria yang perlu di tusuk harga dirinya, Yunholah orangnya. Kau harus melihat wajahnya saat aku menuduhnya mengambil kesempatan kepadamu, aku tidak pernah melihatnya begitu tersinggung."

" Dan dengan alasan yang bagus. " Jaejoong menyapu meja rias dengan tatapanya. " Dia membalasku dengan lumayan atas tindakanku itu."

" Tapi kau belum memberitahu kami apa yang dia lakukan disini, Yunho akan begitu tak berperasaan untuk... Maksudku, dia tidak..."

" Tidak." Tapi rona merah mengingkari perkataan Jaejoong. " Dia menciumku lagi, hanya itu."

Junsu tertawa. " Jika itu benar, maka Yunho adalah pria terhormat daripada suamiku dulu."

" Dan suamiku." Heechul menambahkan dengan tergelak.

Jaejoong bergitu terkejut mendengar kata kata mereka. " Tapi para suami kalian begitu terhormat."

"Oh mereka punya perangkap beradap tentunya," Heechul berbaring bersanda pada sebuah bantal di atas tempat tidur, menopang dirinya sendiri dengan sikunya." Itu hanya karena kami tidak akan menoleransi sedikit di muka umum. Dalam orivasi yah..." Heechul tidak bisa menahan senyumnya saat membayangkan bagaimana luar biasanya Hankyung saat mereka bercinta pagi tadi. " mereka bisa sejahat yang mereka mau,  Bukan begiti, Junchan?"

" Oh, syukurlah." tungkas Junsu. Matanya bersinar sinar.

Jaejoong berdiri di tengah ruangan menatap mereka satu persatu." Jadi sore ini ketika aku membiarkan Yunho...ketika dia membuatku merasa... Apakah aku tidak..."

" Jahat karena kau merasakan sebuah gairah." Heechul menggelengkan kepalanya. Mengingat rasa jijik dengan baik ketika Hankyung pertama kali mencuri kesempatan menciumnya dan melangkahi dirinya ,membuatnya bergairah kepada suaminya itu. " Tidak ada yang salah merasakan sebuah gairah, sayangku."

" Itu juga yang dikatakan, Yunho" bisik Jaejoong.

" Tetap saja." Heechul menambahkam dengan tergesa gesa. " Itu bukan berarti dia boleh bercinta denganmu tanpa bertanggung jawab atas tindakanya.

Jaejoong merenggut. " Oh, dia bersemangat untuk bertanggung jawab, meskipun yang dia lajukan hanyalah ..." ia merona. " Pokoknya, itulah masalahnya... Dia ingin menikahiku."

" Ya dia mengatakanya. Yang berarti perasaanya memang tulus."

" Atau paling tidak gairah tulus." tambah Junsu dengan sinis.

Heechul mengamati sepepupunya itu sambil berpikir serius. Junsu lebih mengetahui karakter Yunho akhir akhir ini, apakah yang dikatakan Junsu benar, hanya karena gairah? Heechul tidak percaya.
" Bagaimanapun, kau menolaknya, kau benar benar tidak ingin menikahi Yunho."

" Tidak, " Jawab Jaejong yakin, namun Heechul menangkap keraguan di wajahnya. " Bagaimana aku bisa menikahi seorang pria yang hanya menginginkan aku untuk melahirkan penerusnya? Aku memiliki tanggung jawab ...aku memiliki empat saudara laki laki untuk dirawat,  Yunho tidak akan mau mengambil tanggung jawab itu untuk dirinya sendiri."

"Bagaimana kau tahu? Apakah kau bertanya kepadanya."

" Aku tidak perlu bertanya. Dia hanya menginginkanku karena bisa memberikan keturunan baginya. Dia hanya ingin menjauhi masalah denganku dengan cara menikahiku. Pernikahan kami tidak akan menjadi pernikahan yang sebenarnya." nada suara Jaejoong semakin layu. " Pernikahan kami tidak akan sebahagia pernikahan kalian."

" Baguslah." kata Junsu." Setiap wanita pantas memilih. Namun dari cara Yunho menatapmu di kerumunan pesta dia hanya melihat dirimu saat puluhan orang di satu ruangan, hanya kau yang bisa membangkitkan kemarahanya .... Juga gairahnya, kupikir di memangg peduli padamu."

" Pria itu tidak peduli padaku, atau dia tidak akan berbohong kepadaku tentang... Wanita...wanita itu!"

Heechul menegakkan badanya, ketertarikanya terusik. " Maksudmu temanya yang berada di Gangnam street."

" Ya, dia mengatakan dia bukan Nona Kwon bukan teman saudaranya, tapi dia tidak mau mengatakanya padaku siapa wanita itu bagi dirinya. Dia memintaku mengabaikan keberadaanya."

"Nona Kwon,  Kwon BoA." Heechul mengingat nama itu, sepertinya tidak asing, ia berpikir mencoba mengingat nama itu.

Dengan gerakam cepat Jaejoong menghempaskan diri di kasurnya di samping Heechul. " Kau mengenalnya? Siapa dia? Mengapa Yunho tidak mau berbicara tentangnya?"

Heechul mengingatnya, dan mengutuk dirinya sendiri kenapa sebelumnya tidak menyadari nama wanita itu. " Dia bukan siapa siapa yang harus kau perdulikan" katanya mencoba menutupi kesalahananya.

Merasa di hianati oleh Heechul , ia menghela nafas. " Itulah yang Yunho katakan, Tapi aku tidak akan menyalahkanmu karena tidak mau memberitahuku, karena profesiku."

" Bukan karena itu. Aku tidak begitu mengenalnya, aku takut kau berburuk sangka dengan informasiku yang sedikit."

" Tidak masalah apapun itu, yang ku tahu dia adalah simpanannya."

" Aku tidak begitu yakin, saat aku mengenal Kwon BoA dia kerja dengan paman Yunho untuk mengajar anak anaknya."

" Kalau begitu dia wanita yang lebih tua." tanya Junsu. " Jika demikian tidak mungkin dia simpanan Yunho."

" Dia tidak begitu tua. Mungkin usianya tiga puluh dua tahun, lebih tua beberapa tahun dari Yunho ,waktu itu ia bekerja di kediaman Jung, di sebelah rumah Keluarga Yunho. Jadi kurasa banyak kesempatan mereka  bertemu . Tapi aku tidak pernah mendengar sesuatu di antara mereka."

" Yah sekarang ada sesuatu di antara mereka, dia melahirkan seorang anak setelah Yunho menempatkanya di Gangnam street. Dia pasti simpananya."

" Ada anak".

Jaejoong mengangguk." Yunho bilang bukan anaknya."

Dorongan rasa kasihan untuk wanita muda itu melanda Heechul." Kalau begitu kau harus mempercayai Yunho . Ia adalah peria terhormat, walaupun berbeda dengan yang diberikanya kesan kepadamu, wanita itu mungkin simpana pamanya."

" Mengapa dia tidak mengatakanya jika demikian." Jaejoong mengusap matanya, Heechul menyadari wanita itu sedang menangis. Jaejoong bangkit memunggungi mereka. " Aku tidam peduli apa yang Yunho lakukan dengan wanita itu, aku tidak bisa menikahi seorang pria yang memiliki seorang simpanan."

"Aku tidak menerimanya, percayalah kepadaku .Yoochun tahu jika aku sampai menemukanya dengan wanita lain, aku akan memotong salah satu tubuhnya."

Heechul tersenyum. Namun senyumanya menghilang saat melihat tubuh Jaejoong tegak berdiri. Wanita malang itu tidak akan mengakui alasan penderitaanya, namun Heechul tahu. Dan ia berharap bisa membantu meringankan beban wanita itu.

Masalahnya adalah, ia tidak mengenal Yunho beberapa tahun terakhir ini, salahkan Hankyung yang telah menculiknya dan membawanya ke China. Mungkin Yunho memiliki masalah yang sama dalam hak menerima kenyataan bahwa ia sedang jatuh cinta. Seperti halnya masalah Hankyung dan Yoochun dulu.

Dasar bajingan licik. Pikir Heechul. Ia memahami tujuan Yunho sekarang, dan pria itu lebih licik dari yang ia duga.

" Dia bersikeras untuk aku membantunya mencari seorang istri. Tapi aku hanya mengenal sedikit wanita untuk dikenalkan padanya, dan tidak yakin mereka cocok." suara Jaejoong semakin suram.

" Mungkin kau tidak suka pemikiran tentang menjodohkan Yunho dengan wanita lain."

" Tidak, sama sekali tidak, aku tidak peduli siapapun yang dinikahinya. Selama itu bukan aku!"

Kau bercanda, pikir Heechul. Pemikiran wanita lain dinikahi Yunho mengerogoti Jaejoong . Tidak diragukan lagi, Yunho bergantung pada itu. Dijamin akan berhasil menilai kesengsaraan Jaejoong.

" Aku bisa membantu jika kau mau."

Jaejoong tampak lebih bersemangat. " Benarkah? Bagaimana?"

Heechul mengangkat bahu. " Aku akan mengenalkanya beberapa wanita sebanyak kau mengenalnya. Aku bisa mengatur semuanya."

" Ya, hal itu akan sangat luar biasa, aku tidak harus berada di sekitarnya... Itu akan membebaskanku dari untuk menghadiri urusanku sendiri."

" Urusan apa?" tanya Junsu.

" Tentu saja pekerjaanku. Aku harus bebas berada di antara masyarakat."

" Aku lupa kau Mr X. Namun kau bisa menyuruh Mr Lee, untuk tidak menulis kolommu sementara waktu."

" Dia bisa saja.. Tapi aku menyukai pekerjaanku, aku bekerja keras untuk mendapatkan pembacaku, aku tidak mau kehilangan mereka. Selain itu aku menyukai keramaian pesta dan sebagainya."

Sebuah penjelasan yang lemah, sesuatu membuat wanita itu untuk tetap menulis, apa itu? Ia tidak tahu. Wanita malang, Yunho sudah menyakitinya meski demi kebaikan Jaejoong sendiri.

" Kau bisa tetap manulis dan aku akan membantumu untuk mengenalkan Yunho dengan beberapa wanita. Aku yakin bisa mencarikan istri untuknya tanpa bantuanmu." Heechul menatap Jaejoong lekat lekat.

" Tapi, apakah Yunho akan menyetujuinya. Dia tampak berpikir dia membutuhkan bantuanku." terlihat jelas keengganan wanita itu tentang ide perkenalan Yunho dengan wanita lain, namun Junsu maupun Heechul tidak bertatapan saling memahami.

" Aku yakin, Yunho akan menyambut bantuan siapapun." Junsu memberitatahu Jaejoong dengan riang. Ekspresinya yang licik bahwa ia tidak berpikir seperti itu.

" Aku akan bicara denganya tentang masalah ini, tidak diragukan lagi ia akan gembira dengan keterlibatanku." Tambahnya dengan gembira. Tidak mungkin Yunho akan menyetujui idenya, jika ia mudah tertarik dengan seseorang tidak butuh waktu lama untuk pria itu menikah, setelah dua tahun pencatian ,bukan?

" Aku dan Hankyung akan berada di Seoul untuk sementara waktu , kami akan membawamu ketempat tempat umum dan pesta, kuharap itu bisa membantu, kau bisa tetap menulis tanpa adanya gangguan, dan Yunho biar aku yang menanganinya, besok aku akan mengantarmu pulang dan malamnya kita akan menghadiri pesta." jika firasat Heechul benar, Yunho tidak akan menyukai apa yang akan di katakanya, atau idenya ini.

 
              ~~~~*~~~~

 

Sambil dengan jelas mengendalikan kemarahanya, Yunho menatap marah kepada Heechul." Sialan, apa maksudmu... Kau berencana membantuku, aku tidak membutuhkanya, Chulie!"

" Tapi Jaejoong berkeras kau membutuhkan bantuanya." Heechul melenggang masuk keruang baca sambil menaruh buku disini, dan menarik bantal disana.
"Aku tidak melihat bantuanku tidak disambutnya, sedikitpun."

" Karena aku sama sekali tidak ingin menikahi dirimu, itulah alasanya!"

Heechul mendongak menatap Yunho dengan serius." Aku khawatir, aku tidak mengerti."

Suara Heechul sepenuhnya angkuh, Yunho mencoba membaca wajahnya dengan mata menyipit." Ya, aku mengerti, kau terlalu cerdas. Dan kau mengerti begitu baik cara terbaik untuk mengetahui rasa sayang Jaejoon kepadaku adalah membuatnya menyadari betapa dia ingin menikahiku."

" Benarkah?"

" Ya, benar. Temanku yang suka ikut campur. Dia ingin menikahiku dan aku akan memaksanya untuk mengakuinya. Meskipun aku harus berdansa dengan separuh wanita lajang di Korea di depanya!" Yunho ingin menghancurkan sesuatu saat ini, kenapa juga sabatnya itu ikut campur dan akan membuatnya semakin jauh dari Jaejoong.

" Aku menghargai usahamu untuk membantu, tapi aku sudah menangani ini dengan baik. Aku sudah menetapkan istri yang akan ku nikahi, dan aku tidak memerlukanmu untuk menghancurkan rencanaku."

" Demi Tuhan, Yunho, jika dia tidak ingin menikahimu untuk apa kau membuang buang waktu untuk ini? Kau tidak menginginkan istri yang tidak peduli kepadamu, bukan?"

" Dia jelas peduli denganku, tak peduli apa yang dia katakan. Dia akan menjadi istri sempurna untukku, dia hanya bersikap keras kepala... " Yunho menghentikan ucapanya, sadar akan ketertarikan Heechul yang besar.

" Tentang apa?"

Yunho menyipitkan mata. " Seberapa banyak yang dia beritahukan kepadamu tentang percakapan kami?"

Heechul tampak tidak tahu menahu dan mengangkat bahu." Hanya bahwa dia menolak untuk menikahimu?"

" Apakah dia mengatakan mengapa?"

" Dia mengaku kau tidak akan sesuai. Tampaknya, sementara dia setuju bahwa dia akan menjadi istri yang sempurna bagimu, dia tidak begitu yakin kau akan menjadi suami sempurna untuknya."

Yunho menggeryit. " Itu karena dia tidak mengenalku."

" Atau dia menganlmu terlali baik."

Kata kata Heechul menusuk Yunho lebih dalam dari yang ia pikirkan." Terimakasih atas semua kepercayaanmu padaku."

Heechul mengabaikan kata ketus Yunho."  Beritahu aku Yunho, mengapa kau berpikir dia akan menjadi istri yang sempurna? Dia bukan waniya tipemu. Dia bukan wanita pendiam dan mudah di atur. Dan dia memiliki keluarga yang sangat besar untuk kau topang."

" Aku dapat memenuhinya."

Heechul tersenyum misterius. " Ya aku tidak meragukan kau bisa melakukanya. Lalu ada masalah serius tentang profesinya..."

" Dia memberitahumu tentang itu?" tanya Yunho tak percaya.

" Identitasnya sebagai Mr X?" dengan nada tak acuh Heechul membenamkan diri di sofa." Tentu saja dia memberitahuku tentang peperangan kecil kalian."

Yunho terdiam kaku, ia tidak menduga Jaejoong akan memberitahu begitu banyak pada Heechul, ini akan mempengaruhi rencananya?

" Aku harus mengatakanya," Heechul melanjutkan, " melihat peperangan kalian tidak mengharuskan kalian menikah untuk menyelesaikan masalah, kalian jelas tidak cocok satu sama lain."

" Kau berpikir begitu?" Yunho menatap marah kepada Heechul." Kuanggap itu berarti kau berada di pihaknya, kau pikir dia benar menolakku."

Heechul merapikan gaunya, tiba tiba serius." Mungkin aku berada di kedua belah pihak."

Berjalan kearah Heechul, Yunho membungkuk dan meletakkan tanganya di kedua lengan sofa." Jangan bermain main denganku, Heenim, aku sedang tidak ingin. Kau harus memilih membantuku atau membantunya atau menjauh dari masalah ini."

Wanita menyebalkan itu tetap tersenyum pada Yunho. " Aku butuh informasi lebih banyak untuk membuat keputusan."

" Ingormasi tentang apa?"

" Apakah kau mencintainya?"

Kata kata itu meledak di dalam otak Yunho. Mencintai Jaejoong? Kata itu belum pernah muncul dalam hubunganya sebelumnya. Bahwa itu berlaku terhadap Jaejoong membingungkan untuknya.

Yunho menjauh dari kursi. " Tidak semua pria menikah dengan alasan itu. Hanya karena kau dan sepupumu menikah karena jatuh cinta pada pasangan kalian tidak berarti untuk orang lain."

" Lalu kenapa kau berharap menikahinya?"

" Untuk alasan yang sama bagi setiap pria yang dalam situasiku membutuhkan istri mengurus rumah tangga dan melahirkan penerusku."

" Tentu saja. Tetapi mengapa dia? Lagi pula, statusnya berada di bawahmu terlalu jauh."

" Hak itu tidak masakah bagi suamimu, saudara sepupumu, jadi aku tidak tahu mengapa hal itu akan menjadi masalah."

" Baiklah, jadi hal itu tidak menjadi masalah buatmu. Apa yang membuat kau berpikir harus menikahinya."

" Dia memiliki empat saudara laki laki." tukas Yunho, bersandar pada fakta yang tidak pernah muncul di otaknya. " kemungkinan ia memberiku keturunan laki laki sangat besar."

" Wanita lain juga bisa. Kau masih belum mengatakan apa yang ingin ku ketahui. Mengapa aku harus membantumu untuk menjadi istri temanku, jika semua wanita bisa melakukanya."

Sambil menyisir rambutnya dengan jari, Yunho menatap Heechul tajam. " Kau tahu dia lebih baik menikah denganku daripada tinggal dirumah tua ayahnya dan merawat keempat adik nakal dan berkecimpung dengan gosip."

" Kau yakin? Dia tampaknya menyukai kehidupan ganjilnya, dia tidak bermasalah dengan keuanganya jadi kau belum menjawab, kenapa dia?"

" Karena aku menginginkanya." Yunho meledak. " Dia satu satunya yang aku inginkan.!"

Yunho menyesali pengakuanya melihat senyuman puas Heechul. Dengan sebuah erangan mengalihkan pandanganya dari Heechul, terkutuklah wanita itu karena berhasil menekan dirinya lebih dari yang ia maksud.

Memang benar, wanita itu telah mengaduk aduk yang ada di dalam hatinya, gairah kenikmatan kebutuhan dan kesenangan, mencium wanita yang diinginkanya. Wanita itu menjungkir balik dunianya.

Tatapan Yunho kembali pada Heechul." Jadi, kau tetap berpikir kami tidak akan cocok, setelah aku memberitahumu apa yang ingin kau dengar?"

" Oh, aku mulai berpikir kalian cocok satu sama lain dengan sangat pas." wanita itu tersenyum penuh teka teki. " Duduknya sayangku, aku akan membantumu. Ini waktunya kita membuat beberapa rencana."


             ~TBC~

Jumat, 01 Mei 2015

The Mysterious Man chap 8

Title   : THE MISTERIOUS MAN
Author : Sulis Kim
Main cast:   Jung Yunho
                   Kim Jaejoong
             Hankyung &Heechul
                 Yoochun & Junsu
                        Other

Rate   : M 18+
Genre : Romace, Fiction

          WARNING

SANDURAN, novel The Dangerous Lord. Sabrina Jeffries.
Dengan banyak perubahan untuk menyesuaikan alur cerita dengan pemeran Favorite saya.

GS for uke. Jika tidak suka jangan dibaca, author cinta damai. Saya masih butuh banyak belajar, apabila ada kesalahan typo dan lainya mohon di maklumi, menerima saran dan kritik yang membangun. Terimakasih.

Happy reading ....!!!


Sambil mencoba mempertahankan dirinya sebagai wanita yang belum menikah Jaejoong berkata. " Kau tahu apa maksudku. Maksudku kau menciumku dengan… dengan…" Oh bagaimana orang menjelaskan tentang jantungnya berdetak dan terjun kedalam gairah karena ciuman seorang pria tanpa terdengar seperti anak ingusan." Dengan antusiasme yang sangat besar."

Yunho setengah tersenyum. " Aku tidak akan mengingkari itu. Menurutku, kita berdua sangat antusias. Tapi kata itu tidak akan membuat Heechul mengusirku dari rumahnya." Tanpa peringatan Yunho merengkuh pinggang Jaejoong, menempelkan dirinya begitu dekat sehingga Jaejoong bisa melihat barisan kumis hitamnya yang baru tumbuh di bagian atas bibirnya. " Jadi beritahu aku, Jaejongie~ku yang suka menipu, apa yang ku lakukan terhadapmu sampai Heechul berpikir begitu buruk tentangku? Aku bersumpah, aku tidak melakukan apapun yang mempermalukan diriku sendiri."

" Karena tidak ada apapun yang membuatmu malu!" Jaejoong meletakkan tanganya di dada Yunho dan mendorongnya, yang sia sia dan hanya membuat jubahnya terbuka lebar. " Lepaskan aku, Yunho, atau akan …akan…" Hati Jaejoong menciut mengingat mengapa ia tidak dapat berteriak. " Aku yakin kau seorang bajingan."

Tawa Yunho tiba tiba meledak." Kau terlanjur yakin dalam hal itu. Lagi pula, aku tidak akan pergi sebelum kau menunjukan apa yang di maksud dengan terlalu jauh. Dengan begitu, aku tidak akan membuat kesalahan yang sama kedepanya, kau paham."

" Kedepanya?" pekik Jaejoong.

" Sebanyak aku mengharapkan pertempuran kecil kita berakhir, aku mengenalmu lebih baik daripada itu. Jadi aku ingin tahu apa yang di perbolehkan dan apa yang tidak." Sambil menjepit ujung jubah dengan kedua jarinya, Yunho menariknya hingga terbuka, tatapanya dengan berani mengamati dada Jaejoong yang terlihat di balik lingerinya.

Darah Jaejoong terkesiap, melompat, dan membanjiri nadinya. Ia seharusnya berteriak bahwa tentu saja hal itu tidak diperbolehkan, namun yang dapat dilakukanya adalah untuk tetap bernafas.

Yunho menundukkan kepalanya untuk mencium pangkal leher Jaejoong yang terbuka di atas tali lingerinnya. Ciuman itu begitu intim, sebuah belaina yang berusaha di jauhkan Jaejoong, yang membuatnya kehilangan keseimbangan sehingga terjatuh di tepi meja rias, tangan Yunho memeganginya untuk menompang.

Yunho mengambil kesempatan itu untuk menarik jubah Jaejoong untuk lebih memperlihatkan bahunya. Saat Jubah itu mengumpul di meja rias di belakangnya. Yunho membelai beberapa helai rambut Jaejoong di jemarinya, lalu menciumnya.

" Jangan." bisik Jaejoong dengan parau. Kenikmatan yang memabukkan telah membuat tubuhnya berhianat. Ia berusaha melawan sekuat tenaga. Terakhir kali ia membiarkan Yunho menciumnya, pria itu menginjak injak perasaanya sesudahnya. " Kau ... Kau ...seharusnya tidak…"

Yunho menjatuhkan helai rambut itu, membelainya di tempat terjatuh di bahu Jaejoong. Mengusap bahunya, membebaskan dari helaian rambut lainya. " Apakah ini yang kau maksud terlalu jauh?" Yunho mendorong ujung lengan Jubah Jaejoong untuk menelanjangi bahunya. Nafas Jaejoong tercekat ketika Yunho merendahkan bibir untuk mencium kulitnya yang telanjang. Nafas pria itu membelainya lembut, sebuah janji yang menggoda.

Ketika sebuah desahan lembut keluar dari bibirnya, Yunho mengalihkan bibirnya ke pangkal leher Jaejoong. " Atau ini?" Seolah olah mencari denyutan yang melompat dalam kegilaan karena sentuhan pria itu, dan ketika ia menemukanya, ia menciumnya, lalu ciumanya itu berlanjut mengikuti lekuk leher Jaejoong.

Pada Saat Yunho mengangkat kepalanya, matanya menyala bagai bara api yang terpancar di wajahnya." Tidak, aku sudah lupa. Itu adalah ciuman ciuman, dan terlalu jauh adalah lebih dari satu dua ciuman, bukan? Terlalu jauh pastinya cukup untuk membuat teman mada kecilku meragukam karakter baikku. Jadi, kira kira apa itu?"

Dengan tatapan yang masih tertuju pada Jaejoong, Yunho menggenggam salah satu lengan jubah Jaejoong dan sedikit demi sedikit menurunkan lebih jauh dari bahunya. Rona merah mewarnai wajah Jaejoong saat tanganya mencengkeram tangan Yunho di pergelangan tangan untuk menghentikanya. Namun Yunho malah membawa bibirnya turun ke bibir Jaejoong dan ia mengapa ia tidak boleh bersama Yunho disini, sendirian ...mengapa pria itu tidak seharusnya menyentuhnya seperti ini...mengapa ia tidak mempercayai pria itu ...segalanya.

Ciuman Yunho begitu dalam dan tiba tiba bersifat posesif, lidahnya memasuki mulut Jaejoong bahkan sebelum ia menyadari ia telah membuka bibirnya, Ia mencengkeram tepian meja sampai terasa sakit ia berusaha tidak ingin menarik jas pria itu, seperti apa yang di tuduhkan Yunho kepadanya.

Namun itu hanya sebuah kemenangan kecil,karena Jaejoong tidak dapat menahan tubuhnya dari merespons, dari merasa tegang karenanya, dari menyambut bibir Yunho saat bibir itu mendesak menjelajahi bibirnya …atau tangan Yunho yang telah berhasil menurukan Jubah dari bahunya,, juga lutut Yunho yang menekan kedalam untuk merenggangkan kedua pahanya di palik penjara kain sutra minim. Ia bahkan membantu Yunho dengan cara mendongakkan kepalanya sendiri ke belakang saat bibir Yunho menuruni alur lehernya.

Ketika lingerinya menuruni bahunya dan pria itu telah membebaskan kaitan branya, entah bagaimana Jaejoong dengan cepat kembali ke akal sehatnya, memegangi bra segaligus lingerin sutranya sebelum kain itu mengangga dan memperlihatkan payudaranya yang telanjang. " Hentikan. Kau pikir apa yang sedang kau lakukan?"

" Sedang menentukan batasku." kata Yunho dengan suara serak." Seberapa jauh 'terlalu jauh' itu?"

" Ini jelas terlalu jauh!"

" Oh, Tetapi kau bilang kau tidak berbohong kepada Heechul tentang penghinaanku malam itu, dan aku benar benar tidak ingat melakukan ini." mata Yunho yang hitam bekat malam tertuju kepada Jaejoong, namun tanganya berhasil melepaskan bra dari tubuh Jaejoong dan melempar entah kemana dan menangkup sebelah payudara Jaejoong dengan kelembutan yang membuat nafas Jaejoong terkesiap. " Jika ku ingat lagi, ingatanku terkadang sering salah. Mungkin aku harus menyegarkanya."

" Tidak, kau ...kau..." benak Jaejoong kosong ketika tangan Yunho bergerak di payudaranya. Itu adalah hal yang memalukan, namun indah dan nikmat.

"Oh, aku..." kata sebuah suara yang serak tapi bukan milik Jaejoong, " Apakah aku menyentuhmu seperti ini malam itu, BooJae?"

Jaejoong menutup matanya untuk tidak menyasikan ekspresi kemenangan Yunho. Yunho menekan telapak tanganya dan memulai gerakan memutar yang membuat puncak payudara Jaejoong menegang dan terasa menyakitkan

Pada saat Jaejoong menarik nafas tajam, Yunho mendekat mencondongkan badanya, nafasnya menerpa leher Jaejoong. " Beritahu aku, Querida . Apa aku melakukan ini?"

Kata asing itu membuat Jaejoong terkesima hingga ia ingat Yunho memiliki darah spanyol. Dan ia terlalu malu untuk menanyakan artinya.

" Jawab aku?" " Yunho memerintah dengan nada yang lebih kasar.

" Tidak." sergah Jaejoong lupa dengan harga dirinya. " Kau tahu, kau tidak melakukanya."

Ketika Jaejoong membuka mata untuk menyaksikan ekspresi sombong Yunho yang pastinya disana, ia terkejut bahwa Yunho tidak menyombongkan diri. Kebutuhan dasar terlihat pada wajah Yunho, yang biasanya terkendali.

" Sungguh keajaiban aku tidak melakukanya, karena aku ingin melakukanya, Ya Tuhan, betapa aku ingin melakukanya." akunya terbata bata.

Pernyataan Yunho menyembuhkan harga diri Jaejoong yang terluka. Jadi pria itu juga merasakam apa yang ia rasakan . Dan hal hal yang Yunho lakukan sekarang, ciuman ciuman, belaiannya lebih dari salah satu siasatnya yang terkutuk.

Kenyataan itu membuang kesopanan dan membuatnya bersikap seperti gadis nakal dengan beremangat mencondongkan badanya ke tangan Yunho. Dengan sebuah erangan seorang pria yang merasa puas, Yunho membelainya dengan tulus, memilin puncak payudaranya melalui kain sutra, dengan lembut dan menggodanya dengan keahlian yang jelas, menemukan payudara satunya dan mencumbunya dengan sama sama menyiksa dan hebatnya.

Yang membuat Jaejoong malu, belaian Yunho membuatnya penasaran yang memprihatinkan. Bagaimana rasanya kalau tangan Yunho yang telanjang menyentuh kulitnya. Atau mulutnya? Pikiran yang penuh berbau skandal.

Tetapi satu hal yang pasti Yunho telah mengetahui pikiranya, karena pria itu menyelipkan tanganya kedalam lingerin yang sekarang bertumpuk di pinggang Jaejoong, tubuh mereka yang merekat menahan lingerin itu meluncur ke lantai. Tangan besar itu terasa pas untuk menangkup payudaranya. Pusaran kesenangan yang melandanya kemudian membuat Jaejoong menutup mata dan menggerang keras.

Ya Tuhan ini lebih baik dari yang ia bayangkan. Kulit dengan kulit, tangan Yunho begitu intim dengan tubuhnya. Penolakan penolakan yang tersisa memudar hingga satu satunya yang tertinggal adalah kebutuhan yang mendesak untuk mengetahui lebih banyak, merasakan lebih, dan Yunho menentuh dirinya lebih jauh lagi.

Nafas Jaejoong semakin berat, seolah olah gerakan satu tangan Yunho yang kurang ajar, bukan. Kedua tangan pria itu menggenggam payudaranya sedang melakukan sihir yang menyedot seluruh nafas dari tubuhnya.

" Yunho..." gumam Jaejoong, bahkan tudak mengetahui apa yang ingin ia katakan.

" Ya." suara Yunho terdengar serak dan begitu jauh." Ya Tuhan, kau terasa bagaikan surga dalam tanganku ...begitu menyenangkan ...begitu manis..."

Yunho berlutut dengan satu kaki mendudukan Jaejoong di salah satu kakinya yang tertekuk, ia menurunkan kepalanya dan mencumbu payudara Jaejoong dengan mulutnya persis seperti yang Jaejoong bayangkan. Terkejut dengan kemampuan Yunho yang luar biasa dalam mengetahui kerinduan tubuhnya, Jaejoong menggengam kepala Yunho dengan kedua tangannya. Yunho harus menghentikanya. Ia harus membuat yunho mengenhentikanya.

Namun Jaejoong malah memeluk kepala Yunho lebih dekat, menghirup aroma asap rokok yang melekat di rambutnya. Yunho mengeluarkam geraman di balik tenggorokanya, dan tanganya yang bebas membelai paha Jaejoong, menariknya lebih dekat posisi Jaejoong yang mengangkanginya membuatnya leluasa untuk menjelajahi paha wanita itu. Lingerin tipis Jaejoong terkumpul di pinggangnya memperlihatkan sedikit celana dalamnya. Saat Yunho menempatkan Jaejoong lehih kokoh mengangkangi pahanya, celah di celana Jaejoong menganga terbuka sehingga bagian pribadinya menekan langsung di kaki Yunho, dan hanya selembar kain celana dalam Jaejoong dan kain celana Yunho yang memisahkan kulit pria itu dan kulit Jaejoong.

Rasa terkejut membuat Jaejoong bergeming sesaat. Ini adalah posisi yang paling memalukan. Namun ketika ia menggeliat dalam usahanya yang sia sia untuk duduk dengan lebih tepat. Tekanan keintiman itu begegitu nikmat, setiap kali ia menggeliat menjauh, sendi di antara dua pahanya mukai berdenyut dengan rasa sakit yang tak sepantasnya mereka hanya ketika ia menekankan dirinya kepaha Yunho lagi.

" Ya, begitu." gumam Yunho sambil bersandar di antara dada Jaejoong. "Begitu, Querida, Ya...ya..."

Meskipun Jaejoong tidak memahami yang Yunho maksud, ia tidak memerlukan tambahan dorongan utuk menggosokkan bagian paling pribadinya di sepanjang paha Yunho, Jaejoong memeluk kepala Yunho mendekatinya lagi, sambil berusaha lebih menekankan payudaranya lagi kemulut Yunho yang dengan berani menghisapnya. Helai helai rambut tebal Yunho tumpah di tanganya.

Yunho membuat Jaejoong merasa liar, kesenangan untuk memuaskan diri dengan bergerak naik turu. Di paha Yunho, suara erangan keluar dari dirinya sendiri saat gesekan itu mengirimkan sensasi yang luar biasa nikmat sampai nyaris membuatnya gila. Yunho melepas mulut dari payudaranya hanya untuk memanggut payudara lainya. Tangan Yunho mengambil payudara lainya membelai puncaknya yang membengkak dan basah.

Jaejoong semakin tenggelam di hantam gelombang kenikmatan dalam dirinya. Ia dengan gelisah menarik kerah baju Yunho, dan pria itu mengguncang bahunya untuk melepaskan jasnya, melemparnya entah kemana sebelum kembali menjilat payudara Jaejoong dengan lidahnya.

Jaejoong membelai otot melalui bajunya menikmati cara mereka meregang di balik jemarinya. Tangan Yunho menjelajah naik kebetis Jaejoong, kemudian kelutut, dan di paha atas hingga lekukan pinggulnya yang telanjang, jemari Yunho menelusup kebalik celana dalam dan meremas bongkahan pantat wanita itu, membelainya lembut dan menakjubkan …

Dengan cepat Yunho membeku menyeret mulutnya dari payudara Jaejoong, meskipun tanganya masih menangkup sebelang bokongnya yang telanjang.

" Yunho…" tanya Jaejoong dengan kecewa.

" Shh." ujar Yunho dengan pelan  sambil mendengarkan.

      ~~~*~~~

Jaejoong mendengarnya juga, suara percakapan wanita dan langkah kaki di koridor. Jaejoong membeku, tenggorokanya terbakar dengan emosi yang asing. Yunho tidak merencanakan mereka untuk tertangkap basah lagi, bukan? Dalam posisi yang lebih menakjubkan, untuk mempermalukanya.

Yunho menyentakkan tanganya keluar dari celana Jaejoong, Matanya yang masih bergairan menatap mata Jaejoong. Kewaspadaan pria itu memastikan ia tidak merencanakanya. " Itu Heechul dan Junsu. Apakah kau mengharapkan kedatangan mereka.

Jaejoong menggelengkan kepala, dan Yunho membenamkan jemarinya di lengan Jaejoong, wajahnya menegang saat menoleh ke belakang, kearah pintu.

Kamar bayi terletak di sebrang aula kamar Jaejoong, mungkin mereka kesana. Setelah mendengar pintu sebrang di buka dan ditutup kembali, ia dapat bernafas . Cengkraman Yunho pada lenganya melonggar.

" Jaejongie," bisik Yunho, keheningan kamar membuat suaranya bergema.

" Ini terlalu jauh."

Jaejoong memendam kekesalanya menjadi tawa. " Kurasa kau benar Tuan Jung." Ia harus turun dari lutut Yunho, mendorong pria itu menjauh. Mencoba menjauhkan tanganya dari rambut Yunho. Namun ia tidak dapat melakukanya.

Yunho menundukkan kepala untuk memanggut puncak payudara Jaejoong dengan giginya, membuat Jaejoong lagi lagi kerkesiap. Menginginkan pria itu lagi, menariknya mendekat. Tubuhnya menginginkan lebih banyak lagi, apapun itu, meski dirinya sendiri tidak tahu.

Namun ketika Jaejoong menggerang mengayunkan payudaranya, Yunho bergemin. Sambil meletakkan pipinya di payudara yang baru dinikmatinya, Yunho membenamkan sebuah ciuman dilekukan payudara sebelahnya.

" Buatlah aku menghentikan ini," pintanya, nadanya serak dan parau.

Butuh beberapa saat untuk Jaejoong memahami kata kata Yunho. " Mengapa?"

Keheningan tercipta. Yunho menyandarkan dahinya di dada Jaejoong, dan bergoyang goyang. Ketika Yunho mengangkat wajahnya, Jaejoong menyadari pria itu diam diam tertawa.

" Kurasa kau satu satunya perawan di dunia yang mengatakan itu." sambil mencium payudaranya dengan lembut untuk terakhir kalinya, Yunho mengangkat Jaejoong dari pahanya menarik tali lingerin dan membantu Jaejoong memakainya.  Ia bangkit dari berlututnya.

Kaki Jaejoong gemetar tidak sanggup berdiri tegag, yunho menangkap bahu Jaejoong untuk menyeimbangkan, dan melepasnya dengan cepat, rasa malu membuatnya merona.

Sangat terlamambat ketika Jaejoong menyadarinya, ia mecari bra dan memakainya, menarik jubah dan mencari cari ikat talinya, begitu cepat. " Demi, Tuhan, kau pasti mengira aku adalah mahluk yang paling nakal..."

" Tidak." Yunho meletakkan jari telunjuknya di atas bibir Jaejoong. " Aku tidak berpikir begitu. Tapi kau adalah wanita terakhir di dunia yang seharusnya kusentuh seperti ini." ibu jari pri itu menyentuh bibir Jaejoong dengan sensual membuat jantungnya berdegub kencang. Jaejoong berharap Yunho kembali menyentuhnya.

" Tapi aku tidak menyesal." Yunho menambahkan. Jaejoongpun tidak menyesal.

" Satu hal yang pasti, " kata Yunho dengan pelan " Kali ini kau punya hal untuk mengeluh tentangku pada Heechul."

" Aku tidak akan melakukanya," bisik Jaejoong , meyakinkan Yunho.

" mengapa tidak? Tidak ada yang berubah."

" Segalanya berubah." Jaejoong tidak tahu mengapa namun keseluruhan dunia telah berbeda sekarang .

Yunho menjetikkan dagu Jaejoong, dan mebatap matanya. " Kau tidak berpikir bahwa aku seekor ular yang menjebakmu dalam kamarmu sendiri, dan melakukam tindakan semaunya denganmu?"

Jaejoong menggeleng. " Kau menghentikan dirimu sendiri, mespikun kau bisa melakukan apapun yang kau inginkan denganku dan aku,,, aku bisa saja ..." Ia berbalik dari Yunho dengan isakan tertahan.

" Tidak ada yang perlu membuatmu merasa malu." Yunho meyakinkan, meletakkan tanganya di bahunya. " Semua orang memiliki gairah, dan wanita mudah mengendalikanya daripada pria. Masyarakan membiarkan para pria memuaskan gairahnya semereka sesuka hati, tetapi wanita yang terhormat diharapan menahan gairah mereka, bahkan dengan suaminya sendiri. Itu tidak membuat hubungan menjadi mudah. Atau adil."

Penganatan itu mengejutkan Jaejoong sehingga ia melupakan rasa bersalahnya. Ia menatap Yunho.  " Itu adalah pendapat yang sangat protektif kau tahu."

" Kalau begitu , kita sepakat. Mr X tidak memiliki hal yang dipertengkarkan lagi dengan Jung Yunho, juga sebaliknya." tidak ada alasan lagi untuk berbicara denganya, pikir Jaejoong.

Rahang Yunho mengeras. Ia menatap Jaejoong dengan sungguh sungguh, menjelajahi tubuhnya yang gemetar, lalu kembali kewajahnya.  Ia menerima dan pasrah . " Itu mungkin yang terbaik. Lagi pula, tidak baik bagi seorang Direktur berdarah biru bertengkar dengan tunanganya dimata publik."

Jaejoong menganga menatap Yunho. Tunangan?"

" Pertemuan kita sore ini telah membawKu pada kwputusan." Yunho berdeham," Jaejongie, kau dan aku harus menikah."

      ~~~*~~~

Yunho tahu ekspresi Jaejoong yang tak percaya bahwa ia telah mengejutkan wanita itu. Apa lagi yang diharapkanya?

" Ap-apa yang kau katakan?" Jaejoong tergagap.

" Kubilang kita harus menikah."

Yunho tidak bermaksud begitu terus terang. Ia jelas tidak bermaksud untuk melamar Jaejoong ketika muncul di kamarnya satu jam lalu. Ia hanya ingin mengakhiri pertempuran di antara merek. Lalu Jaejoong mengenakan gaun sialan itu, yang membuatnya nyaris terlihat telanjang. Dan lebih parah Yunho melihat Jaejoong menanggalkan pakaianya.

Ia tidak menyesalinya karena wanita itu telah membuat Yunho dahaga hanya dengan tiga hari mengenalnya. Ia tidak menyesal melamar Jaejoong untuk menikah denganya, keputusannya memang buru buru dan alasanya sangat kacau dan tidak masuk akal. Namun ia menginginkan Jaejoong dalam hidupnya.

" Jadi." tanya Yunho dengan tidak sabar.

" Kau memintau ...untuk menikahimu." Jaejoong ternganga dalam kalimatnya.

" Itu bukan ide yang begitu aneh, bukan?"

" A-aku tidak tahu. Maksudku ya, itu aneh. Kau seorang directure, pemilik Jung Corporation, berdarah biru."

" Nah, itu adalah pengamatan yang cerdik," gumam Yunho , membuat Jaejoong menggeryitkan dahi. " Status itu tidak ada hubunganya dengan apapun."

" Benarkah? Aku bukan siapa siapa. Mengapa kau ingin menikah denganku?"

Dengan sengaja Yunho menatap Jaejoong dari ujung rambut ke ujung kaki, tatapanya berhenti di payudara yang baru dicicipinya. " Aku ingin menikahimu dengan alasan yang sama yang dikatakan pria manapun yang menikahi seorang wanita yang diinginkanya."

Rona merah nampak menghiasi wajah Jaejoong, dan Yunho baru menyadari bahwa Jaejoong jarang merona di hadapan dirinya. Menarik sekali, terutama pada Jaejoong. Ia harus membuatnya sering merona setelah mereka menikah.

" Tapi pria semacam kau…"

" Hati hati, Jaejongie. Aku tekah dengar caramu menyamaratakan pria semacam diriku."

Jaejoong menatap Yunho tidak percaya.

Jaejoong menatap Yunho tidak percaya" Kau dapat memberitahuku bahwa kau tidak peduli tentang latar belakangku, dan kekayaan besar…"

" Mengapa aku harus peduli tentang itu? Aku telah cukup memiliki semuanya bagi kita berdua. Bukan itu yang kuinginkan dari seorang istri."

" Ya, aku lupa." jari Jaejoong berjuang mencengkeram Ujung jubah tidurnya, ia tampak muda dan tercabik cabin, matanya muram dengan kegundahan ." Kau menginginkan wanita untuk melahirkan penerusmu."

" Itu akan menjadi salah satu tugasmu, benar." ketika Jaejoon menjadi kaku Yunho menambahkan." Tapi anak adalah akibat memanjakan gairah seseorang, dan seingatku, kau mendapati kegiatan itu tentunya menarik."

Tatapa Jaejoong menajam, dibayangi rasa malu. " Kau bilang tidak ada salahnya dengan merasakan gairah."

" Aku sungguh sungguh." yunho menyakinkan Jaejoong. " Dan pernikahan membuat gairan jauh lebih nyaman."

Yunho menyadari kesalahan, saat dagu Jaejoong yang indah bergetat. " Benar, kau benar, lagi pula mengapa menggantungkan diri pada dua wanita untuk mengatasi gairahmu… satunya melahirkan anak anakmu, dan …satunya… melayani gairahmu."

" Aku tidak pernah menginginkan lebih dari satu orang istri" gerutu Yunho sambil berpikir kenapa pembicaraan mereka menjadi berantakan. " Dan benar aku memang menyukai seorang istri yang  aku inginkan . Meskipun sebelumnya, aku telah merendahkan kriteriaku untuk memilih istri, sekarang aku menyadarinya aku bisa mendapatkan lebih. Apa ada yang salah dengan itu.?"

" Aku tidak tahu." Jaejoong mengangkat dagu." Apa yang akan Nona Kwon pikirkan?"

Udara merintih di antara mereka berdua, penuh ketegangan yang mendadak muncul. Yunho seharusnya menduga kalau pertanyaan ini akan muncul. Dengan hati hati Yunho memikirkan jawabanya. " Pendapatnya bukan suatu masalah."

" Oh, lalu peran apa yang akan dia mainkan di pernikahan ini."

" Tidak ada sama sekali." kejengkelan tampak jelas dalam suara Yunho. " Aku sudah memberitahumu sebelumnya …wanita itu bukan wanita simpananku. Aku membantunya dan anaknya tidak lebih."

" Kau masih mengharapkanku percaya tentang dongeng saudaranya. Aku menyadari kau berjuang demi negara. Tetapi aku tahu kau berbohong tentang hubunganmu dengan Nona Kwon. Aku bukan orang bodoh, kau tahu?"

" Tentu saja kau bukan orang yang bodoh, kau cukup cerdas. Tapi Nona Kwon mengerti bahwa aku lebih menyukai untuk merahasiakan beberapa aspek masa laluku, dan kau tidak."

" Dan menjadi rahasia bagi calon tunanganmu."

Yunho menggerang. " Sialan, Jaejoongie..."

" Aku ingin tahu apa artinya dirinya bagimu." rasa sakit memuramkan mata hitam Jaejoong, dan ketika berkata lagi suaranya parau." A-aku pikir itu adalah bukan permintaan yang tidak masuk akal, mengingat lamaranmu kepadaku."

Baru saat itulah pertanyaan Jaejoong menghantam Yunho. Oh, ya Tuhan, wanita itu cemburu! Meskipun hal itu menyenangkan Yunho bukan main, tetapi juga merupakan masalah rumit. Yunho tergoda untuk menceritakan kebenarannya dan mengakhiri kekhawatiran bodohnya. Namun hal itu membutuhkan lebih dari penjelasan bagaimana ia mengenal Kwon BoA, ia harus menjelaskan mengapa ia membantu wanita itu, mengapa wanita itu penting bagi rencana pamanya dan mengapa ia dan pamanya bermusuhan.

Yunho mendekati Jaejoong fengan tekat. " Aku akan memberitahu yang tidak diberitahu olehnya, Nona Kwon bukan simpananku atau godaan buatku, anak laki laki itu bukan anakku, jika memang dia anakku aku sudah mengakuinya sejak dulu. Yang penting dia tidak ada kaitanya denganmu itu yang perlu kau ketahui."

Kemarahan menyala di wajah Jaejoong. " Kau bahkan tidak memberitahuku bagaimana kau bertemu denganya?"

" Tidak," Yunho menghentikan langkahnya beberapa meter dari Jaejoong. " Pecayalah padaku"

" Dan itu adalah kata kata terakhirmu tentang madalah ini."

" Ya."

" Kalau begitu jawabanku tidak."

Mata Yunho menyipit. " Jawabanmu tentang apa?"

" Tawaranmu tentang pernikahan. Aku tidak bisa menikahi laki laki yang tidak jujur denganku."

Yunho tidak memercayai telinganya. " Kau menolak lamaranku karena kau cemburu dengan wanita yang ku bantu."

" Tidak, aku tidak cemburu." protes Jaejoong. Meskipun ekspresinya mengingkarinya. " A-aku menolakmu karena kau tidak menginginkan pernikahan yang sesungguhnya. Kau menginginkan perjanjian bisnis. Aku akan melakukan tugasku melahirkan keturunan tanpa mencampuri urusan kehidupanmu dan kau sebagai gantinya kau memberiku nama membayar semua pakaianku."

" Juga bercinta denganmu." Yunho menambahkan, suaranya serak. Untuk mengingatkan wanita itu darimana percakapan mereka.

" Ya, itu juga. Tapi siapapun dapat melayanimu untuk tujuan itu. Aku hanya kebetulan cukup mudah untukmu."

" Percayalah padaku, jika aku memilih istri hanya berdasarkan kemudahan, kau tidak akan masuk daftar."

Yunho menggertakan giginya. Yunho telah mengajukkan lamaran dengan cukup mempermalukan dirinya sendiri. Sekarang ia harus membiarkan Jaejoong berpikir dengan kecumburuanya terlebih dahulu. Baiklah jadi Yunho merencanakan sebuah strategi yang lebih terperinci.

" Jadi." kata Jaejoong. Menganggu pemikiran Yunho. " Aku tidak akan menikahimu, Yunho, dan tidak ada satupun perkataanmu yang mengubah keputusanku."

" Kau telah mengatakan itu dengan jelas." kata Yunho dengan nada biasa.

Jaejoong menatap Yunho dengan curiga. " Jadi kau tidak akan mengejar hal ini lebih jauh?"

" Tidak." Tidak hingga aku memikirkan sebuah strategi yang cocok untuk itu.

Jaejoong tampak terkejut dengan kepasrahan Yunho yang begitu mudah. " Dan penolakanku atas lamaranmu tidak akan memengaruhi kesepakatan kita?"

" Kesekepakatan apa?"

" Bahwa aku tidak akan menulis apapun tentangmu, dan kau tidak akan membuka penyamaranku."

Yunho telah lupa akan hal itu. Luar biasa, itu sempurna! Jaejoong menawarkan sebuah strategi baru tanpa ia harus berusaha memikirkanya! Ia dapat memanfaatkan ketakutan Jaejoong akan penyamaran wanita itu bagi keuntunganya.

Sambil berbalik, ia berjalan santai di dalam ruangan seolah sedang serius memikirkanya." Itu adalah madalah yang benar benar berbeda, bukan? Berkat sindiran sindiran palsumu pada kolommu yang paling baru, sekarang aku memiliki reputasi sebagai seorang pengecut dan seorang pembohong yang akan membuatku sulit untuk menemukan seorang istri. Dalam arti, kau telah menghancurkanku tapi kau menolak untuk melakukan tindakan mulia dengan menikahiku. Jadi mengapa aku tidak boleh mengungkapkan penyanaranmu?"

"Jangan gila! Aku belum menghancurkanmu,,, pasti masih banyak wanita bersedia menikahimu hanya demi kekayaan dan gelarmu!"

" Tidak mudah mencari seorang istri bagi orang dengan reputasi sepertiku. Aku telah mencarinya selama dua tahun." Jaejoong tidak perlu tahu bahwa dia pilih pilih daripada pria pada umumnya. " Pada saat itu, saat terdekat aku pada pertunangan yang sebenarnya adalah temanmu Sunghee, dan kau mengakhirinya dengan mengungkapanmu akan kehidupan pribadiku."

"Pengungkapan itu benar! Bukan salahku jika kau memiliki seorang simpanan."

" Meskipun seandainya Nona Kwon adalah simpananku, yang sebenarnya bukan," kata Yunho datar. " tetapi kaulah yang mengungkap hubunganku denganya, dengan demikian mengakibatkan batalnya bertunnanganku."

Jaejoong mendengus. " Aku hanya mengakui bahwa aku menulis apa yang diperintah oleh hati kecilku."

" Dan di kolom kedua? Apakah hati kecilmu juga memberitahumu agar kau membuat asumsi tak berdasar tentang karier berperangku?"

Rasa bersalah menyelimuti wajah Jaejoong, seperti yang diperkirakan Yunho. " Apakah yang kau inginkan dariku, Yunho. Aku tidak bisa menikahimu."

" Tapi aku masih membutuhkan seorang istri." Yunho mengusap usap dagunya. Sekilas menatap Jaejoong penuh spekulasi. " Jadi mengapa kau tidak memberiku seorang pengganti dirimu?"

Yunho jelas jelas telah mengagetkan Jaejoong. " Apa maksudmu?"

" Kau mengenal banyak wanita dan kau punya kemampuan dengan telinga untuk mendengar informasi dari masyarakat bahkan tanpa kolommu. Aku yakin kau dapat menemukan seseorang untuk kunikahi."

" Mencarikanmu seorang istri?" Ekspresi panik yang muncul di wajah Jaejoong membuat Yunho senang bukan kepalang. " Jangan konyol. A-aku tidak tahu siapa dan bagaimana atau..."

" Jadi kau berencana akan meninggalkanku dalam situasi seperti ini?"

" Ya. Tidak! Maksudku..." Jaejoong terdiam, matanya menyipit. " Kau bertingkah seolah kau harus segera menikah. Tapi jika kau mau menunggu sampai gosip itu mereda..."

" Aku tidak bisa." tukas Yunho, mengutuk dirinya sendiri ketika dahi Jaejoong menggeryit bingung.

" Mengapa tidak?"

" Aku sudah membuang buang waktu setelah kembali dari militer selama beberapa tahun, tidak ada alasan lain. Ayolah Jaejongie, apakah kau benar benar ingin ada perang di antara kita, aku akan tetap menjaga rahasiamu, dan kau membantuku mencarikanku seorang istri, dan kau bisa mencari gosip gosip di acara pesta." Yunho melangkah menghampiri Jaejoong. " Aku tidak memintamu menyeret seorang wanita kegereja untukku. Aku hanya ingin kau memujiku di antara teman teman wanitamu yang belum terikat, mengenalkanku kesan sini yang mencoba menghilangkan efek tulisan di kolommu yang terakhir."

Bertemu dengan tatapan Yunho, Jaejoong bertanya tajam. " Entah mengapa aku meragukanya."

" Kau mengenalku dengan baik, kau dapat menjadi bantuan yang besar."

Kekhawatiran Jaejoong akan kata kata Yunho begitu kelihatan, Yunho heran bahwa wanita itu sendiri tidak menyadari bagaimana engganya ia melihat Yunho menikahi orang lain. Harga diri wanita itu mencegahnya untuk menerima Yunho. Dan juga kecemburuanya. Yah, Yunho harus menggunakan kecemburuan itu .

Kepala Jaejoong mendongak seolah berharap Yang maha kuasa memberinya saran atas lamaran Yunho. Kemudian ia menundukan kepala dan menatap Yunho. " Baiklah. Aku akan melakukan yang bisa ku kakukan ."

" Terimakasih." ketika Jaejoong menjadi lunglai, Yunho menambahkan." Dan jangan berpikir untuk mengingkarinya saat aku kembali ke Seoul. Aku akan berpegang pada Janjimu."

" Aku yakin, kau akan begitu," kata Jaejoong murung.

Kesedihan Jaejoong membuat Yunho senang. Jaejoong telah menjadi miliknya, baik wanita itu mengakuinya atau tidak. " Besok, aku harus pergi pagi pagi untuk menghadiri rapat di Seoul, tapi besok malam, aku berada di acara di pesta keluarga Song. Kau akan pergi bukan?"

Jaejoong mengangguk kaku.
" Bagus. Kau dapat memulai usahamu atas namaku, kalau begitu." Yunho tidak tahan untuk menambahkan. " Tentu saja, jika kau berubah pikiran tentang lamaranku..."

" Aku tidak akan berubah pikiran." sela Jaejoong. Yunho memperhatikan kata kata itu kurang meyakinkan.

" Baiklah sampai besok."  Saat Yunho membuka pintu Jaejoong memanggil di belakang. " Tunggu Yunho."

Yunho menoleh dengan tangan di pegangan pintu mendapati Jaejoong berjalan menuju kearahnya dengan jasnya, yang ia telah lupakan di atas lantai. Saat Jaejoong di dekatnya entah mengapa, tatapan matanya tertuju pada sesuatu di belakangnya, dan muka Jaejoong berubah pucat. Yunho mengikuti arah tatapan wanita itu, telah menebak apa yang akan ditemukanya.

Berdiri di luar kamar tidur bayi di sebrang lorong beberapa orang sedang bercakap cakap dengan nyaman sampai Yunho membuka pintu.

Pengurus rumah Heechul, pengasuh bayi, dan pelayan lain... Heechul dan Junsu. Semua mata tertuju kepada Yunho dalam kemeja berlenganya dan Jaejoong mencengkeram jasnya, hanya mengenakan Lingerin dan pakaian menerawangnya.

                  ~TBC~